Terjerat Bayangan Cinta Polwan

Terjerat Bayangan Cinta Polwan
kebahagiaan dua sejoli


__ADS_3

Hari ini hari libur Cici, yang biasa nya ia pergi weekend, shopping atau menghabiskan waktu untuk memasak. Intinya ia melakukan apapun yang membuat nya merasa bahagia dan melupakan penat nya bekerja, tetapi tidak untuk liburan kali ini yang ia harus menghabiskan waktu untuk membersihkan apartemen Albert, karena pria angkuh itu tidak memberi nya izin untuk berlibur walaupun hanya libur sehari, dengan perasaan kesal Cici mau tak mau mengikuti kemauan Al.


"Oh no!" Teriak Cici saat sudah masuk kedalam apartemen betapa terkejutnya ia melihat pemandangan yang ada di depan matanya, yang semula apartemen mewah itu tidak terlalu berantakan hanya sedikit berdebu dan kotor.


Tapi lihat lah kini seperti kapal pecah, perubahan yang sangat drastis,mungkin benar ini semua pasti kerjaan pria angkuh itu, ia dengan sengaja melakukan ini semua agar aku tidak jadi pergi.


"Aaaakhhh" teriak Cici sangat kuat, dan mulai menyusun sofa yang berantakan, Bungkus snake berserakan dimana-mana. Teriakan Cici berhasil membuat Albert terbangun.


"Hoamm, bagaimana Beby kau sangat menyukai kejutan ku bukan?" Gumam Albert di kamar sedang merenggang kan otot nya sambil menarik sedikit sudut bibirnya.


Al sengaja membuat Cici marah, entah apa motif Al mengerjai Cici seperti itu.


.


.


.


.


Di sepanjang pekerjaan Mengepel lantai apartemen itu, mulut Cici tak berhenti berkomat Kamit seperti Mbah dukun,


"Ahaa!" Muncul lah ide jahil dari otak Cici,


"Kita lihat bagaimana keadaan mu setelah ini, kau telah membuat ku bekerja keras pria angkuh gumam cici dengan senyum menyeringai.


Albert yang sudah membersihkan tubuhnya, ia turun menapaki anak tangga sambil memandangi gadis cantik yang sibuk berkutik dengan kain pel.


Cici yang merasa sedang di pandangi pura pura tak acuh, merasa target sudah mulai mendekat, dan kita hitung mundur ya guys.


Satu


Dua


Tii-tiga

__ADS_1


Byurr


Aaaaaaa!!!


Al terpeleset menginjak lantai basah yang penuh dengan air sabun dengan refleks ia menarik tangan Cici alhasil mereka terjatuh berdua dengan Cici berada di atas tubuh kekar Albert. Al hanya bisa menelan Salivanya dengan kasar betapa terkejutnya ia merasakan dua gundukan padat itu sangat menempel di dada bidang nya, Al juga bisa merasakan betapa harum nya rambut cici.


"Oh no! Kenapa aku juga ikutan jatuh ha!" Lirih batin Cici, bisa di dengar kan Betapa kencang detakan jantung Cici.


Ya bagaikan senjata makan tuan yang niat nya ingin membalas perlakuan Al terhadap nya yang telah mengerjai ku habis habisan eeh malah juga kena.


***


"Cici!!! Where are you Beby!!" Teriak Al tidak dapat melihat keberadaan Cici dari tadi, karena ia sangat sibuk berkutat dengan laptop kerjanya.


Ya hari ini sebenarnya Al mengambil cuti, untuk bisa menghabiskan waktunya berdua bersama Cici, ia hanya mengerjakan pekerjaan yang penting yang benar-benar tidak bisa di tunda atau di handle oleh sang sekretaris saja itupun di kerjakan dari rumah.


"Iyaa" jawab Cici segera mencari asal suara tersebut.


Sampai lah Cici di dapur melihat Albert sedang duduk di meja makan dengan membenamkan wajahnya di tangan nya, Cici yang melihat itu hanya menyerngitkan jidatnya.


Tanya Cici perhatian, dia takut gara gara terjatuh tadi pria angkuh itu sakit, tu masuk rumah sakit, oh tidak. Bisa bisa aku di tuntut akan itu dengan tuduhan berusaha mencelakai orang lain.


Al merasa ada tepukan lembut di pundak nya lalu ia mengangkat kepalanya dan menoleh.


"Aku sangat lapar!" Lirih Al dengan mata iba sambil memegang perutnya yang sedang demo, Cici yang melihat itu melongo tak percaya melihat Al yang berubah ubah kadang tegas, datar, cuek, dingin, baik, lemah lembut, ramah, sopan dan lihat lah kini dia seperti anak kecil yang meminta makanan sungguh menggemaskan bagi Cici, ia hanya mampu Manahan tawa nya kalau tidak di tahan dapat di pastikan singa di hadapannya akan berubah dari jinak ke liar.


Cici melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 12, betapa terkejutnya nya ia sudah melewatkan sarapan pagi karena tidak sempat sakin terburu-burunya ke kemari dan lihat lah kini sudah waktunya makan siang.


"Hmm baiklah tunggu sebentar aku akan buat kan makanan" ujar Cici sambil memperlihatkan senyum ramah nya.


Alangkah bahagianya Albert baru kali ini ia mendapat senyum indah nan ikhlas dari wanita yang bawel itu.


"Boleh kah aku membantu mu?" Albert menawarkan diri untuk membantu cici.


Cici yang tadi sudah melangkah ke arah kulkas memberhentikan langkah kaki nya dan memutar tubuhnya dan menoleh ke arah Al.

__ADS_1


"Apakah kau pandai memasak" tanya Cici yang di jawab gelengan kepala oleh Al.


"Sebaiknya tidak usah, kau akan membuat ku lama dalam mengerjakan nya" ketus Cici.


"Please" Al memperlihatkan senyum manis nya, yang membuat jantung Cici kembali berdetak kencang sungguh senyum itu membuat ku tidak bisa berkata-kata. Cici pun mengangguk kan kepala nya tanda setuju.


***


Beberapa menit datang lah pesanan bahan bahan makanan, Mereka berdua sangat bersemangat dalam memasak kali ini menu makan siang sesuai keinginan tuan Al, yaitu ia ingin memakan ayam bawang. Dengan senang hati Cici memasak itu karena ia sangat mahir dalam memasak itu.


Dapur yang semula sudah bersih kini menjadi berantakan kembali karena sikap jahil Al, Al dengan sengaja menghembuskan tepung tepat di depan wajah Cici.


"Awww, tuan Al mata ku pedih" rengek Cici mengusap matanya dengan punggung tangannya.


Al merasa iba ia pun menghembuskan mata Cici, seperkian detiknya mereka bertatapan.


"Bagaimana? Sudah lebih baik?" Tanya Al menghilangkan sedikit kecanggungan nya yang di jawab anggukan oleh Cici.


"Tuan tolong ambilkan air itu" perintah Cici menunjuk air di dalam wadah yang ada di atas meja.


Al dengan semangat mengambil air tersebut sehingga air itu tumpah dan...


prangg.


Al terpeleset menginjak air yang ia tumpahkan dan tidak sengaja memegang wadah yang isinya tepung kering yang alhasil tepung itu terjatuh di atas kepalanya.


"Ha-ha-ha" Cici tertawa lepas melihat kekonyolan Al, Al yang melihat tawa Cici ia pun ikut tertawa dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Karena geram Cici tak mau berhenti tertawa ia pun mengejar Cici untuk memberi nya tepung juga, terjadi kejar-kejaran antara mereka berdua suana di dapur penuh dengan teriak bahagia mereka.


***


Siang menjelang sore Cici yang kelelahan bekerja, tertawa kini sudah tak bersuara lagi, ia sudah tepar di samping pundak Al, Al yang sibuk bekerja dan tidak memperhatikan Cici yang sudah molor,


Merasa tiba-tiba suana sepi senyap Al pun menoleh ke arah Cici, ia melihat wajah cantik natural Cici dengan makeup tipis nya, lalu ia berdiri mengangkat tubuh Cici dan menggendong membawanya berjalan menuju kamar.


***

__ADS_1


__ADS_2