Terjerat Bayangan Cinta Polwan

Terjerat Bayangan Cinta Polwan
kehilangan


__ADS_3

beberapa jam sudah berlalu kini jam menunjukkan pukul 1 dini hari, Al dan Bert yang hanya menunggu di kursi tunggu di depan ruangan.


CEKLEKK


pintu terbuka, keluar lah dokter Aldo dan dokter celsie,


"tuan Bert kau!, ma-maaf kan aku, aku tadi lupa memberi kabar kepada mu Sakin terburu buru nya" jelas dokter Aldo takut kalau Bert akan murka kepadanya.


"tidak masalah dan itu langkah yang benar kau secepatnya membawa buk Nini kerumah sakit" jawab Bert seraya menepuk pelan pundak dokter Aldo.


cel yang tidak mengerti melihat tingkah dokter Aldo kepada Bert.


"ah, iya bagaimana keadaan pasien dok?" tanya Aldrich kepada Aldo.


"iya bagaimana keadaan nya?apa dia baik baik saja?" ujar Bert antusias.


menatap Bert, berusaha membuka mulutnya


"ma-maaf kan saya tuan,,, buk Nini tidak bisa di selamatkan" jawab dokter Aldo sedih Sangat menyesal tidak dapat menyelamatkan nyawa wanita paruh baya itu.


deg,, deg,,


detak jantung Bert berdetak sangat kencang,


"kau jangan bercanda dia bisa sembuh, dia wanita yang kuat Aldo". ucap Bert dengan emosi memegangi kerah baju dokter Aldo.


"Bert apa yang kau lakukan? ini rumah sakit jangan buat keributan, sabar lah dulu kontrol emosi mu" ucap Al berusaha menenangkan Bert,


"cel, Tolong jelas kan kepada ku yang sebenarnya apa yang dia katakan?" tegas Bert kesal menatap tajam ke arah Aldo.


"yang di kata kan dokter Aldo itu be-benar tuan, pasien telah tiada" jelas cel dengan takut melihat wajah Bert yang sudah memerah.


memundurkan langkahnya terduduk dengan pandangan kosong.


pikiran nya kini tertuju kepada Cilla bocah kecil itu, bagaimana dirinya memberitahu kabar ini.


akankah anak sekecil itu akan kehilangan orang yang ia sayangi lagi dan lagi? hidup tanpa tahu siapa orang tua nya kini nenek lah yang Cilla punya tetapi kini telah tiada, begitu pilu hidup anak kecil itu, pikir Bert tanpa sadar ia meneteskan air mata nya.


"tolong urus jenazah nya dok" pinta Al kepada dokter Aldo, ia tahu kini suasana hati Bert tidak baik, maka dari itu ia memutuskan untuk membantu Bert mengurus semuanya termasuk pemakaman jenazah buk Nini.


di rumah buk Nini.


"hallo bro.." ucap bodyguard Bert yang ada di rumah sakit.


"ya ada apa? apa semua baik?" jawab bodyguard yang ada di rumah buk Nini.


"buk Nini telah tiada bro" ucap di sebrang.


"apa? buk Nini tiada" ujar nya dengan nada shock sedikit berteriak.


pengasuh Cilla yang belum tertidur mendengar perkataan itu segera keluar dari kamar Cilla.

__ADS_1


"apa yang terjadi? kenapa buk Nini?" tanya pengasuh itu.


sepihak bodyguard itu mematikan ponsel nya,


"buk Nini telah tiada" jawab nya.


"a-apa buk buk Nini meninggal?" tanya pengasuh itu yang tidak percaya dengan apa yang ia dengar, yang di jawab anggukan kepala oleh bodyguard.


sisi lain.


Bert, dengan perasaan campur aduk dirinya kembali kerumah buk Nini untuk melihat Cilla, prince nya Bert. seketika Bert melupakan kantuk dan lelahnya.


setelah Bert memarkirkan mobilnya di halaman yang tidak seberapa luas nya itu Bert berlarian memasuki rumah buk Nini untuk segera memeluk princess kecilnya.


"tolong keluar aku ingin berdua dengan saja dengan nya" titah Bert menatap wajah Cilla yang tertidur pulas memeluk boneka kesayangan Nya.


"baiklah tuan". jawab pengasuh itu segera keluar meninggalkan mereka berdua.


melepaskan sepatunya, Bert naik ke ranjang di mana Cilla tertidur. menatap wajah tenang nya entahlah wajah nya sedikit mirip dengan sahabat nya yaitu Elard.


"my prince" gumam pelan nya seraya mengelus lembut rambut Cilla.


"kau adalah anak yang kuat, kau prince ku putri ku, dari sekarang kau tidak akan merasakan kesepian lagi aku berjanji kau akan mendapatkan dan merasakan kasih sayang nak". ujar Bert memeluk dan menghujani ciuman ke wajah bocah berusia 3 tahun itu.


pagi hari.


"ombet" ujar nya mendongak menatap wajah Bert yang tertidur di sebelah nya.


memeluk Bert dan mengecup pipi Bert.


membuat pria yang sensitif akan sentuhan itu terbangun, mengusap matanya memaksakan membuka mata dan menatap mata abu abu unik itu dengan seulas senyum.


"pagi my prince" ucap Bert menarik Cilla kedalam dekapannya.


"pagi ombet" membalas pelukan itu.


"mau kemana?" tanya Bert melihat Cilla terburu-buru turun dari ranjang nya.


"mau ke kamar nenek aku rindu sama nenek". jawab tidak sabaran dari Cilla.


deg..deg..


wajah berbinar-binar Cilla semakin membuat Bert bungkam, saat Cilla ingin berlari Bert segera menahan nya.


"apa kau tidak mau menunggu ku" ucap Bert sedikit cemberut.


"hahaha kau terlihat seperti anak kecil ombet" ujar Cilla tertawa lepas melihat ekspresi wajah Bert seperti ini.


lihat lah ketika dia tertawa lepas seolah beban ku hilang seketika, akan kah tawa ini tidak bertahan lama akan redup ketika dia tahu segalanya.


"ayo ombet" Cilla menarik tangan Bert menuju ke kamar nenek nya.

__ADS_1


"loh kok kosong? Dimana nenek? doktel juga nggak ada" tanya Cilla menatap ke semua arah.


"ombet tahu?" lanjut nya mulai dengan mata berkaca-kaca.


"ayo" ucap Bert mengendong Cilla membawanya kembali ke kamar.


"my prince kau mau tahu di mana nenek?" tanya Bert di jawab anggukan kepala oleh Cilla.


"dengarkan aku kau adalah putri kecil ku princess kuat ku jadi jangan pernah bersedih ketika aku masih ada untuk membela dirimu". ucap Bert mengelus rambut Cilla yang diam memperhatikan Bert berbicara.


namanya anak kecil belum dapat jawaban maka dia terus bertanya.


"nenek mana?"


"nenek,, nenek mu telah tiada sayang" jawab Bert, ini langkah yang benar dia harus tahu keadaan nenek nya cepat atau lambat.


"tiada?" ulang Cilla yang belum paham dengan maksud Bert.


menarik nafas berusaha menetralkan dirinya" iya tiada, nenek mu telah menjadi bintang dia pergi meninggalkan kita semua". jelas Bert membuat Cilla menangis tersedu-sedu.


"nenek" teriak seraya turun dari pangkuan Bert dan lari keluar rumah.


"Cilla tunggu nak" teriak Bert mengejar Cilla seraya menghapus air mata yang menetes.


tanpa aba-aba Cilla langsung lari ke jalan raya yang kebetulan bodyguard Bert lagi beristirahat atas perintah Bert.


"Cilla!!" teriak Bert yang menggelegar menjadi pusat perhatian.


bagaimana tidak panik dari kejauhan ada mobil mewah yang melanjutkan kendaraan nya dengan laju.


cittttt


suara rem mendecit


Bert melompat terguling guling untuk menyelamatkan Cilla dari kecelakaan itu.


"aaww!" ringis pengemudi karena dahinya mengeluarkan darah segar akibat terbentur stir mobil.


segera turun melihat korban.


"tuan apa anda baik-baik saja? apa ada yang terluka?" tanya pelaku sangat cemas.


suara yang familiar, menahan sakit punggung yang ia rasakan, mendongak menatap asal suara.


"Elard" ujar nya.


"Bert, kau" ucap nya segera menolong Bert dan ank kecil itu


"apa yang sakit prince?" tanya Bert kepada Cilla yang hanya diam tak bersuara di dalam pelukan Bert.


shok begitu shok.

__ADS_1


__ADS_2