Terjerat Bayangan Cinta Polwan

Terjerat Bayangan Cinta Polwan
Geof siuman


__ADS_3

saat mereka sudah memasuki ruangan di mana Geof yang terbaring lemah dengan wajah pucat pasi seperti mayat hidup. Winda berjalan mendekat ke arah brankas di mana Geof terbaring dengan di bantu peralatan medis, dirinya tak henti menangis seraya menggenggam tangan Geof.


"Geof, bangun lah, Hay kau harus kuat, bertahan lah aku mohon jangan tinggalkan kami, lihat lah tuan Albert, dan sahabat mu yang lain" kata Winda lembut menatap satu persatu wajah mereka secara bergantian.


"mereka semua menyayangi mu, mereka takut kehilanganmu apalagi adik mu bukan? dia sangat mencintai mu, aku juga menginginkan diri mu sembuh" lirih nya tersedu-sedu.


"aku mohon buktikan kepada mereka bahwa aku benar kau tidak pergi kau tidak tiada,, hiks hiks kau tidak meninggalkan ku dengan rasa bersalah ini bangun lah, aku akan melakukan apa yang minta minta apapun itu sekalipun nyawaku, tapi aku mohon bangun lah hiks hiks" ujar nya menenggelamkan meletakkan wajah nya di samping brankar Geof.


melihat kesungguhan Winda membuat Cici merasa iba,


berdoa ya kini satu satu nya cara adalah berdoa meminta keajaiban datang.


kring kring.


ponsel Cici berbunyi pertanda ada panggilan masuk . bergegas mengambil benda pipih itu di dalam saku celananya, melirik nama yang tertera di layar ponsel.


📱: Perwira Wisnu.


segera ia keluar ruangan untuk mengangkat telpon itu.


.


.


.


.


"win!" ujar Cici memecahkan keheningan.


"iya" jawab nya menoleh ke arah belakang di mana Elard, Bert dan Cici duduk di sofa empuk yang ada di ruangan itu.


"hmm, kau di suruh ke kantor sekarang perwira Wisnu ingin bertemu dengan mu" ucap Cici.


mendengar perkataan itu, Winda beralih menatap wajah Geof, berat rasanya ia meninggalkan pria itu, tapi mau tidak mau dirinya harus ke kantor kalau tidak dapat di pastikan gelar nya menjadi taruhan,


"pergi lah kami disini , kami akan menjaga nya" ujar elard menatap wajah Winda yang ragu untuk meninggalkan Geof.


"i- iya baiklah, aku akan secepatnya kembali" jawab nya seraya berdiri dari posisi nyamannya.


"apa perlu aku temani?" tawar Cici, ia agak canggung tinggal bersama dengan mereka apalagi ada Bert.

__ADS_1


ya walaupun dirinya ingin belajar ikhlas untuk menerima ini, tetapi tak dapat di pungkiri perasaan itu masih ada.


"tidak perlu, aku bisa sendiri nanti kalau ada kabar mengenai perkembangan Geof tolong kabari aku secepatnya" tolak lembut Winda, ia tahu maksud Cici menawari itu, dirinya ingin Cici harus terbiasa dekat dengan Albert, toh, dia akan menjadi saudara ipar nya,


menghindari terus menerus itu adalah cara yang salah, pikir nya.


kini tinggal lah mereka bertiga, Elard berjalan menuju brankar Geof dan meninggal kan dua insan yang sama-sama terdiam tanpa melirik satu sama lain.


"apa pita suara mu sudah habis?" tanya Bert mencair kan suasana.


"maksud anda tuan?" Jawab cici dengan menatap Nya tajam.


" ya biasa nya kan dirimu tidak pernah diam ya, dan lihat lah kini seperti ketakutan yang enggan mengeluarkan suara" ujar Bert yang berhasil memancing kemurkaan Cici.


"hy pria angkuh kau akan sangat menyesal karena telah memancing beo be-suara" ujar Cici tersenyum sinis.


"beo? maksudnya burung beo?" tanya nya memastikan bahwa ia tidak salah dengar.yang di jawab anggukan kepala oleh Cici dengan bangga.


"hahaha pantas, badan mu bontot sama seperti nya" lanjut Bert tertawa renyah.


melihat wajah Cici yang sudah kesal dengan memajukan mulut nya, membuat Bert gemesh semakin ingin menggoda Cici.


"heh? lihat lah dirimu seperti kingkong" balas Cici mencibir.


"kauu...." teriak Cici sedikit menaikkan suaranya.


ia melupakan dimana diri nya kini.


"kalian, bisa kah diam!" titah nya elard dengan ekspresi datar, membuat kedua manusia yang sedang bertengkar, langsung mereka terdiam,


Bert terkejut ia baru kali ini melihat Elard marah dengan membentaknya.


"ha-ha-ha" elard ketawa menyaksikan perubahan wajah dari bert dan Cici.


Bert merasa kesal telah di permainkan dia melempar bantal sofa ke arah Elard yang setia Duduk di sebelah Geof,


"lihat lah Geof apa kau tidak mau melihat wajah Bert dari yang ketakutan, seumur hidup mu pasti belum pernah melihat nya bukan? ayolah duduk man bergabung lah Dengan kami" ujar nya lirih dengan nada sendu menahan air matanya.


Bert berdiri, berjalan menuju brankar dimana kedua sahabatnya berada, saat ingin melangkah kan kaki nya Bert menyandung kaki Cici yang sedang bersantai meluruskan kakinya.


saat ingin tersungkur ke depan dengan sigap Cici menarik jas yang di kenakan Bert, alhasil Bert terjatuh di atas tubuh Cici.

__ADS_1


deg deg


pertanda apa ini ya tuhan, mengapa saat ingin melupakan mu selalu ada saja hal yang selalu membuat kita dekat seperti ini. batin Cici, menatap netra mata Bert dalam dalam.


apakah ini yang di namakan kalau kita jodoh baby? takdir saja tidak ingin kita berpisah tapi mengapa kita yang sok ingin menjauh. batin Bert, membalas tatapan mata Cici,


mereka seperti berbicara dan di balas oleh hati masing-masing seolah mereka mengerti hanya dengan tatapan mata, (keren ya🤣).


"lihat lah man, mereka memamerkan kemesraan di depan jomblo seperti ku, ayo kita buktikan kalau banyak wanita yang mengantri untuk kita" deham Elard terkekeh kecil membuat dua insan itu sadar, dan kembali ke posisi masing-masing dengan sedikit canggung yang di rasakan Cici tetapi tidak untuk Bert yang santai malah menikmati momen indah itu.


kapan lagi aku tidur di atas tubuh mu dan mencium aroma khas yang selalu memabukkan bagi ku, pikir Al menyeringai.


"permisi aku ke kamar mandi dulu" ujar Cici saat hendak meninggalkan mereka.


tetapi langkah nya terhenti saat Elard yang tiba-tiba panik,


"Geof! Bert! Cici! apakah aku bermimpi tadi tangannya bergerak" ucap Elard dengan mata berkaca-kaca.


"benarkah? eh iya tangan nya bergerak berarti dia masih hidup" lanjut Cici memperhatikan gerak-gerik Geof.


"Bert cepat panggil Al" perintah Elard yang di anggukan oleh Bert,


penuh semangat Bert mencari keberadaan Al untuk segera memeriksa keadaan geof,


sebuah keajaiban, keajaiban memang ada dan datang di saat yang tepat,


🕳️🕳️🕳️


Winda yang baru saja sampai di rumah sakit, semua urusan nya sudah selesai, ya walaupun baru dua jam ia meninggalkan rumah sakit. kini pukul tujuh pagi lewat tiga puluh menit, dimana janji nya kalau tidak ada perkembangan dari Geof maka dengan berat hati ia harus merelakan kepergian Geof.


berlari kecil menuju ruangan Geof penuh harap dan doa, agar penantian nya tidak sia sia, ha percaya bahwa Tuhan adil,


sesampainya di depan ruangan Geof, melihat Bert, Al, Elard dan Cici masih terdiam duduk di sofa yang ada di dalam ruangan itu,


"apa dia sudah sadar?" tanya Winda antusias Kepada dokter Al.


mereka semua menunduk mendapat pertanyaan itu dari Winda, Al hanya menggeleng tipis untuk menjawab itu.


Winda terhenyak mendapat respon itu, berjalan dengan langkah gontai menuju brankar Geof,


menangis tersedu-sedu di samping mayat Geof, tidak berani membuka kain putih yang menutupi seluruh tubuhnya.

__ADS_1


"mengapa kau memutuskan untuk pergi? mengapa? mengapa kau goyahkan harapan ku Geof? apa kau tidak ingin berkumpul dengan sahabat sahabat mu? kau ingin menghukum ku bukan, tapi tidak begini cara nya! tidak begini!" ujar Winda menangis tersedu-sedu di samping jenazah Geof.


__ADS_2