Terjerat Bayangan Cinta Polwan

Terjerat Bayangan Cinta Polwan
hasil dari rencana


__ADS_3

kediaman keluarga Danendra.


ruang tamu


saat semua orang telah berkumpul kecuali Al, yang merasa kecewa atas penghianatan cinta yang ia berikan kepada Cici, memutuskan untuk pergi memenangkan dirinya.


"coba jelaskan kepada ku mengapa ini bisa terjadi?" tanya tuan Dalbert kepada Albert yang ada di hadapannya.


situasi yang sangat membingungkan, dari segi mana dirinya memulai untuk berbicara sedangkan dirinya sendiri tidak tahu ini bisa terjadi,


mungkin ini lah pertanda yang kuasa.


"aku tidak tahu ini terjadi, karena aku sudah tidak sadar kan diri saat Cici datang dan masuk ke kamar ku dan pagi hari aku rasa itu mimpi yang sangat indah, eh siapa sangka itu ternyata bukan lah mimpi". jawab bert dengan santai menatap cici yang hanya duduk diam di sebelahnya.


tidak mendapatkan Jawaban yang memuaskan, Dalbert beralih ke Cici


"Cici! bisakah kau jelaskan ini pada ku!" ujar Dalbert beralih menatap cici dengan tajam.


"a-aku, ee sebenarnya ehm" jawab Cici gugup dengan meremasi baju nya sendiri. Cici pun begitu shock atas kejadian ini.


"tenang lah cerita kan pelan pelan agar semua yang ada disini paham dan kita cari solusinya bersama sama" ucap Winda menggenggam tangan Cici, agar dirinya sedikit lebih tenang.


"cerita kan lah dari awal kau datang ke apartemen Bert" kata Loren yang baru mengeluarkan suara nya yang sembari tadi hanya diam.


"malam itu setelah aku berganti pakaian aku ke apartemen Bert untuk menemui nya, untuk melihat kondisi nya, saat aku sudah masuk ke kamarnya aku melihat Bert yang sudah tidak sadarkan diri, tergeletak di lantai dengan botol botol minuman nya. aku sempat berdebat Bert saat dia menolak bantuan ku, tapi saat itu Albert pingsan sudah tidak sadar diri aku pun menuntun nya untuk naik ke atas ranjang dan mengganti pakaian nya yang sudah basah akibat minuman, saat diriku hendak meninggalkan Bert kepala ku begitu pusing dan aku tidak tahu apapun lagi". jelas Cici yang menunduk kan pandangan nya.


sejauh ini tidak ada kecurigaan kalau hanya sebatas itu, tuan Dalbert yang cerdas yang selalu dapat jalan keluar dirinya pun tahu bawah ini adalah setingan saja,


sebelum mengambil keputusan Dalbert masih mempertimbangkan kejadian ini.


"tapi mengapa saat kami datang kalian tidur dengan posisi berpelukan dan tanpa mengenakan sehelai benang pun" tegas Loren menatap kedua insan secara bergantian.


"a-aku tidak tahu akan hal itu Tante" lirih Cici menatap Loren.


berdiam sesaat tanpa suara yang ada di ruangan tersebut,


cling

__ADS_1


suara ponsel Dalbert yang ada di atas meja yang ada di hadapannya pertanda ada pesan yang masuk ke ponsel miliknya, melirik nama yang tercantum di layar ponsel Dalbert adalah sang asisten.


mengambil dan membuka pesan tersebut.


"Bert, Cici kalian harus menikah agar tidak membuat nama keluarga Danendra tercemar atas perbuatan yang kalian lakukan" tegas Dalbert menatap Clara dan Winda dengan tajam secara bergantian.


deg... deg..


Winda dan Clara terlihat sangat bahagia mendengar perkataan Dalbert,


bert yang bimbang satu pihak dirinya bahagia atas keputusan sang Daddy, tetapi tidak dapat di sembunyikan dirinya juga merasakan sedih yang di rasakan saudara kembar nya,


"ta-tapi mas" sela Loren yang belum bisa menerima keputusan suaminya.


itu tidak adil bagi putra yang satunya lagi,


"Jangan cemas ini semua akan berlalu, percaya lah" tutur Dalbert dengan lembut serta menggenggam erat tangan Loren,


"bagaimana? kalian setuju? cepat atau lambat ini harus terjadi, kau Bert berani berbuat berani bertanggung jawab" tegas Dalbert menatap mereka.


tidak ada suara maupun jawaban dari mereka semua yang menyaksikan itu,


mengapa Cici tidak terlihat bahagia di wajahnya? ini kan kemauan dia tapi mengapa malah menjadi seperti ini, pikir Winda menatap punggung Cici yang sudah berlalu.


"ee tuan dan nyonya mungkin dia masih shock akan hal ini kalau begitu biarkan aku saja yang menyusul nya" ucap Winda dengan sopan seraya beralih menatap Geof untuk mendapatkan jawaban nya.


"apakah boleh tuan, hari ini saya cuti ?" tanya Winda penuh harap.


"iya" jawab Geof dengan singkat.


sisi lain.


Al yang menenangkan dirinya di sebuah taman di rumah sakit, entah apa yang membawa nya untuk menenangkan pikiran nya Disini.


"akh!, kalian begitu tega kepada ku!" teriak Al dengan menumbuk kursi taman yang ia duduki terbuat dari besi, alhasil tangan nya terluka akibat sudut tempat duduk yang agak tajam.


bukan nya berhenti karena telah berdarah tetapi Al terus saja mentransfer kemarahan dengan menumbuk kursi tersebut, darah segar terus mengalir deras.

__ADS_1


sakit? apa itu sakit? dirinya tidak merasakan sakit yang lebih sakit di banding kan goresan hati yang di berikan oleh Cici dan Bert.


dari kejauhan terlihat dokter cantik yang baru saja selesai memeriksa keadaan pasien, tidak sengaja mata indah itu menatap laki laki yang pernah ia Kagumi.


menghiraukan kehadiran Al, tidak ingin menghampiri Al itu pasti akan membuat Al semakin tidak suka dengan nya,


saat ingin melanjutkan langkahnya untuk kembali keruangan nya celsie mendengar teriakkan Al.


dengan cepat dirinya menghampiri Al, terserah dokter Al ingin membenci atau menolak diriku terpenting saat ini aku ingin melihat keadaan nya. batin celsie berjalan ke arah Al.


"dokter Al, apa yang terjadi? darah?" ujar celsie kaget menatap tangan Al yang berlumuran darah, dengan segera celsie kembali ke dalam untuk mengambil kotak p3k.


Al yang masih bergeming tidak menghiraukan celsie,


"ada apa dengan mu dokter?" ucap celsie cemas sambil mengobati luka Al.


"dokter apa kau baik-baik saja?" lanjut Celsie mengibaskan tangannya di depan wajah Al yang masih melamun.


"ah, kau dokter celsie kenapa kau kemari? maaf aku baru sadar kalau kau disini!" ujar Al saat dirinya baru sadar akan kehadiran celsie.


"kapan kau akan sadar aku yang disini? kapan kau akan sadar betapa besar cinta ku dokter? aku ingin menjadi wanita yang beruntung yang bisa kau cintai, akh itu ilusi sadar cel dia tunangan orang milik orang" batin celsie berkecamuk.


"sudah siap" kata cel saat sudah siap perban luka dokter Al.


"terima kasih" ucap Al menampilkan senyum nya kepada Celsie.


"ah iya sama-sama, kalau gitu aku permisi dulu dok" ucap cel beranjak dari tempat duduk nya.


"tunggu cel" ujar Al menahan tangan cel yang ingin meninggalkan dirinya.


"ya?" jawab cel dengan memberhentikan langkah nya dan kondisi jantung yang tidak dapat di kondisi kan,


untuk pertama kalinya dokter Al menggenggam tangan nya,


"apakah kau sibuk? ee maksud ku apa kau..." belum sempat Al melanjutkan kalimatnya dengan penuh semangat cel menjawab.


"tidak dok, jam kerja ku sudah siap!" jawab nya dengan senyum manis.

__ADS_1


cukup celsie jangan terlalu senang jangan terlalu berharap, sesuatu yang berlebihan itu tidak baik.


tarik nafas mengondisikan perasaan terhadap pria yang ada di hadapannya itu.


__ADS_2