
"terimakasih kau telah mau mendengarkan cerita ku" ujar Al menatap dokter cel dengan seulas senyum tipis.
"ah, iya. sama sama, percayalah suatu saat nanti kesedihan itu akan terganti oleh kebahagiaan" jawab cel menampilkan senyuman manis nya.
"kalau gitu aku permisi dulu, karena aku harus mengecek kondisi pasien pasien ku" lanjut Al hendak beranjak dari tempat duduknya.
"tunggu" ucap celsie memegang tangan Al,
Aldrich membalikkan tubuhnya menatap celsie.
"aku percaya anda pria yang kuat dan bijaksana dalam mengambil keputusan ini" lanjut Celsie yang mendapat tatapan yang tidak dapat di artikan.
celsie menatap punggung Al yang sudah mulai menghilang dari pandangannya.
melihat orang yang kita cintai sedang terluka membuat kita juga ikut merasakan nya, tapi apakah ini bisa menjadi celah untuk celsie mendapatkan Al?.
"akh, kau tidak boleh egois cel" gumam cel menepis pikiran licik nya,
di sisi lain.
Cici yang hendak membersihkan badannya yang lengket dan gerah, menatap tubuh polos nya di depan pantulan cermin besar, mengelus perut nya dengan mata berkaca-kaca.
"hamil" lirih nya mengusap perut datar nya.
"ti-tidak itu tidak akan terjadi, mana mungkin aku hamil. hahahaha" lanjut memaksa senyuman Walaupun hati nya sedang ketakutan.
.
.
.
.
Bert yang baru saja kembali ke apartemen nya, berlarian ke arah kamar untuk mencari bukti tentang ini.
memeriksa spray ranjang, mencari bercak darah Cici. dirinya akan percaya ketika sudah menemukan bukti tentang penuduhan ini,
tidak melewati setiap inci nya, tetapi hasil nihil tidak ada apa apa.
"huh,,, aku tidak melakukan nya, tapi mengapa kami bisa tidur seperti itu?" pikir nya mengingat kejadian tadi pagi yang terlihat sangat jelas tubuh mulus Cici yang masih menari nari di pikiran nya.
"aku yakin pasti ini sudah direncanakan" gumam nya menerbitkan lengkungan tipis di sudut bibirnya.
berjalan ke arah kamar mandi. saat di ambang pintu
kring,,,, kring
ponsel Albert berbunyi pertanda ada panggilan masuk, segera Bert berjalan ke arah meja di samping ranjang nya dimana ponsel nya terletak.
call on.
"hallo, selamat siang tuan" ujar seorang wanita di seberang sana,
__ADS_1
"iya hallo, ada apa?" jawab Bert dengan nada datar tanpa ekspresi.
"saya hanya ingin memberitahu bahwa klien sudah tiba tuan" jawab wanita itu dengan sopan,
"baiklah, setengah jam lagi aku sampai" ucap Bert mematikan ponsel nya secara pihak.
call off.
beberapa menit kemudian.
Bert yang sedang mengendarai mobil mewah nya dengan kecepatan sedang, saat di perjalanan dirinya menatap sekeliling dan tertuju kepada seorang wanita paruh baya yang seperti sedang sakit-sakitan dan seorang anak kecil berjenis kelamin perempuan yang kira kira berusia 3 tahun.
merasa iba melihat mereka Bert memberhentikan mobilnya di depan supermarket.
keluar dari mobil nya dengan mengenakan kacamata hitam, berjalan dengan langkah santai dan wibawa semakin menarik perhatian kaum hawa yang sedang berada di sana.
"wow,,, jelmaan dewa! apakah aku bermimpi baru kali ini orang kaya mau masuk sendiri tanpa bodyguard". ujar salah satu karyawan yang ada disana.
"permisi" deham Bert
"ah i-iya tuan ada yang bisa kami bantu" ucap karyawan tersebut dengan sedikit gugup.
Bert yang sudah sering dan hampir bosan mendapatkan tatapan itu dirinya hanya biasa, tidak menghiraukan pandangan mereka terhadap dirinya.
"tolong carikan buah-buahan, bahan bahan dapur, oiya tambah kan juga susu untuk anak berusia 3 tahun dan roti, dan Jangan lupa mainan untuk anak perempuan". jelas Bert menatap sekeliling.
"baiklah tuan tunggu sebentar" jawab nya seraya meninggalkan bert yang sibuk membalas pesan singkat kepada asisten pribadi nya.
"baiklah tuan" balasan singkat dari sang asisten.
di kantor.
"permisi tuan" ujar Rayhan sang asisten kepercayaan Albert.
"iyaa, apakah tuan Albert sudah tiba?" ujar klien tersebut.
"mohon maaf tuan Fathan, tuan Bert akan datang terlambat karena ada urusan mendadak dan dia menitipkan pesan permintaan maaf atas ketidak nyamanan ini" ucap Rayhan sopan.
sedikit kecewa.
"ah tidak masalah tuan, dirinya seorang CEO besar wajar, mungkin lain kali diriku bisa bertemu dengan tuan Albert. Kalau gitu mari kita lanjutkan saja meeting nya". Jawab elfathan.
mendapat Jawaban itu sedikit membuat Rayhan sedikit lega.
sisi lain.
Bert yang baru saja menepikan mobilnya, turun dengan salah satu karyawan laki laki yang bekerja di supermarket menyewa pria itu untuk membantu nya,
"nenek" ujar anak kecil itu ketika melihat dua orang pria menghampiri nya.
"Hay, princess" sapa Bert dengan senyum manis nya.
tetapi anak tersebut takut tidak berani menjawab.
__ADS_1
"nenek, bangun lah" ucap anak itu dengan gaya bicara yang menggemaskan.
huk,,Hukk,,
"mau beli berapa tuan?" ucap wanita tua itu yang kebetulan menjual koran, terlihat sangat lelah dengan memegangi dadanya.
"saya ingin membeli semuanya" jawab Bert, yang membuat kedua wanita itu terkejut dan tersenyum bahagia.
"maacih om berarti uang nya bisa beli obat tuk nenek" ucap bocah kecil itu.
"Emang nenek sakit apa?" tanya Bert kepada bocah tersebut.
"nenek sering batuk batuk". jawab bocah perempuan itu dengan gaya bicara yang belum lurus.
Bert yang memperhatikan wajah anak itu, wajah nya sangat familiar, mata yang sedikit abu abu, wajah yang bulat chubby, hidung mancung dan bibir kecil.
"oom ada hadiah untuk mu dan juga nenek" ujar Bert memberi kode kepada laki laki itu untuk memberikan semua nya kepada cucu dan nenek tersebut.
"apa ini nak? banyak sekali huk,, huk" ujar wanita paruh baya itu.
"ini hadiah pertemanan ku dengan princess ini" ucap Bert menyentuh hidung bocah itu.
"teman?" kata bocah itu. yang di jawab anggukan oleh Bert.
"wah banyak sekali, ada mainan dan ada makanan, kebetulan nenek dan aku lapar belum makan dari kemarin" ucap bocah itu mengelus perut nya seraya menatap nenek nya.
betapa tersayat nya hati ketika mendengar itu, Bert yang dari kecil selalu hidup dalam kemewahan, apapun yang dirinya minta Daddy dan mommy nya selalu menuruti keinginan nya.
tanpa sadar Bert menitik kan air matanya.
"my prince berapa usia mu?" tanya Bert seraya mengelus rambut bocah itu.
"segini" ucap anak itu mengacungkan 1 jarinya.
"umurnya hampir memasuki 3 tahun dalam sebulan lagi" jawab nenek nya.
Bert mengambil benda pipih dalam saku celananya dan mengetik pesan kepada anak buah nya.
"kau tunggu lah disini sampai anak buah ku kemari" ujar Bert dengan memberikan beberapa lembar uang kepada karyawan tersebut.
"iya tuan terima kasih" jawab nya.
"buk, aku akan pergi karena ada urusan tetapi nanti anak buah ku kemari untuk membantu dan mengantarkan ibuk membawa ini semua pulang, sementara dia akan menemani kalian" ucap Bert melirik mereka secara bergantian.
"terimakasih nak, aku tidak tahu bagaimana cara membalas nya, aku berharap kau selalu sukses dan bahagia" doa wanita tua itu menggenggam tangan Bert dengan meneteskan air mata kebahagiaan.
"aamin, terimakasih buk" ujar nya.
"my prince, oom tinggal dulu ya besok kita akan bertemu kembali" lanjut Bert menatap wajah chuby bocah itu yang sibuk memakan roti dengan lahap
"namaku Cilla bukan prince, janji kita akan bertemu lagi" ujar anak tersebut memberikan kelingkingnya.
"janji" jawab Bert .
__ADS_1