
Mencintai mu adalah angan ku.
Memiliki mu adalah impian ku.
Berjuang adalah cara ku.
Diam adalah doa ku.
NAMUN
Tidak bisa ku penuhi, dalam kehidupan nyata.
by: myself.
memikirkan sesuatu yang tidak mungkin terjadi dengan diri nya kini, hari demi hari berlalu bertemu, menatap wajah laki laki yang ia cintai bahagia bersama wanita lain,
benar, hal terbesar dalam mencintai adalah merelakan dirinya, toh cinta tak harus memiliki walau kadang hati ku kini belum bisa di katakan ikhlas,
mata, aroma tubuh nya selalu menerpa wajahku di kala aku sedih mengapa hanya mengingat Albert bukan laki-laki yang kini mencintai diriku Aldrich, aku tidak menyesal pernah Menaruh hati dengan nya aku tidak akan menyesal karena aku mencintai nya, biar lah itu menjadi kenangan terindah antara hati ku dengan nya,
menatap ke arah luar jendela, melihat rintikan hujan menambah kesan indah di awal hari itu, berdebat dengan pikiran nya Cici gadis polwan nan cantik yang selalu menjadi perhatian setiap pria memandang dirinya, ia selalu menjadi wanita periang sehingga orang lain tidak tahu kepahitan hidup nya, wanita yang sembari kecil terdidik untuk terbiasa pura pura kuat dalam mengahadapi Lika liku kehidupan sehingga menjadi terbiasa akan hal itu.
tidak ingin memikirkan sesuatu yang sudah terjadi antara Albert dan Clara.
bagaikan nasi sudah menjadi bubur!.
itulah ibarat yang dapat ia tanam kan, mengembangkan senyuman manis yang mengawali pagi ini, berharap semoga hari ini ia mendapat keberuntungan.
beranjak dari ranjang nya berjalan menuju kamar mandi,untuk membersihkan tubuhnya yang mulus itu di ambang pintu dirinya melepaskan pakaian satu persatu yang melekat di tubuh seksi nya, menatap tubuh polosan nya yang mulus itu di pantulan cermin.
berjalan memasuki bath up, memutar keran air memasukkan bath foam ber- aroma mawar, mengibaskan tangannya agar menghasilkan buih biuh lembut, merendam seluruh tubuhnya membuat dirinya sedikit rileks sehingga bisa melupakan masalah tapi tidak dengan perasaan nya.
...****************...
untuk pertama kalinya dari Sepuluh tahun terakhir, Clara kembali menginjak kan kaki nya di kediaman keluarga Danendra, di sambut hangat oleh tuan Dalbert Danendra dan Loren Danendra,
"akhirnya Putri kesayangan ku sudah kembali" sambut Loren bersemangat langsung menghambur kan pelukan hangat yang dirindukan Clara saat bersama mommy nya dulu.
saat melihat wanita yang ada di hadapannya kini itu sudah menjadi obat penawar rindu dengan almarhum mommy nya,
"sayang,,, apakah aku memeluk mu terlalu kuat sehingga kau ingin menangis?" tanya Loren rasa tak enak hati.
bukanya memberi kenyamanan terhadap tamu tapi malah membuat nya tidak nyaman dengan sambutan dirinya, pikir Loren.
__ADS_1
"ti-tidak mom, aku merasakan kehangatan my mom saat aku di peluk oleh mu" ujar Clara menahan bendungan air mata nya.
"aku juga mommy mu jadi jangan merasa kalau sekarang kau sendiri Kami adalah keluarga mu" kata feren mencium kening Clara.
"baiklah wanita wanita tersayang ku, Albert kalian ini sangat lelah untuk itu aku mau kembali ke kamar dulu" ucap nya membungkuk badan seperti memberikan hormat kepada ratu nya.
"iya Daddy" jawab Loren logat seperti anak kecil di sambut tertawa oleh mereka yang mendengar suara itu.
" ciee sebentar lagi akan menjadi Daddy ya walau...." goda Loren melirik kearah Bert yang sedang menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal,
bahagia, sangat bahagia kini Bert kembali melihat senyuman di balik bibir indah Clara, berjalan meninggalkan ruang tamu di mana mereka sedang bersantai di ruang keluarga, menapaki anak tangga menuju kamar nya.
setelah membersihkan tubuhnya, Bert menikmati pemandangan dari balkon kamarnya dengan menggunakan celana pendek santai di padu baju kaos putih oblong sambil memegang segelas bir yang selalu ada di kamar nya.
merasa rindu dengan apartemen nya Bert memutuskan untuk pergi ke tempat di mana semua momen indah yang ia lewati dengan pujaan hati nya,
.
.
.
.
"selamat datang kembali tuan Albert" sapa nya ramah.
"terimakasih pak" jawab nya ramah sambil menyodorkan beberapa oleh oleh seperti berbagai macam-macam makanan sebagai ucapan terimakasih.
"ini apa tuan?" ucap satpam menerima paper bag tersebut.
"ini sedikit oleh oleh untuk bapak dan keluarga, semoga kalian menyukai nya" jelas Bert
"terimakasih tuan"
"sama sama pak" jawab nya menepuk kecil pundak satpam yang sudah berusia lima puluhan.
memperhatikan sekeliling apartemen nya yang masih sama seperti dulu tidak ada yang berubah, mengelilingi seluruh ruangan tersebut dimana ia mengingat kembali kejadian yang begitu ia rindukan.
"disini lah kau tidur baby, aroma tubuh mu begitu lembut saat mengenai hidung ku" monolog nya mengelus tepi ranjang yang ada di kamar tamu.
tidak, cukup Bert! Jangan mengingat nya lagi come on Bert, dia adalah kekasih adik mu. hilang kan itu lupakan masa lalu itu!. titah nya pada dirinya sendiri.
beranjak dari duduknya, Bert bergegas meninggalkan kamar itu untuk kembali ke kamar nya.
__ADS_1
merogoh kantong jaket nya mengambil benda pipih berwarna hitam elegan itu, menekan nomor tujuan.
"hallo" ujar bert saat telpon terhubung.
"hallo tuan selamat malam, apa ada tugas yang harus aku kerjakan malam ini tuan?* jawab Rayhan orang kepercayaan Albert melirik jam yang melingkar di pergelangan nya menunjukkan pukul setengah sepuluh.
"ya, tetapi tidak untuk malam ini besok datang lah lebih awal, aku akan menjelaskan nya besok" ujar Bert menatap menatap sekeliling kamar nya,
mata Bert terhenti saat menatap sebuah lembaran kertas putih yang terlipat dua bagian yang terhimpit oleh foto dirinya yang ada di atas meja di samping ranjang nya.
"baik tuan" jawab Rayhan,
"ee tuan, hallo,, hallo" tidak ada sahutan oleh Bert, Rayhan merasa cemas akan bert.
"apa anda baik baik saja tuan?" lanjut nya hendak melangkah kan kaki untuk menyusul Bert.
"ya, aku baik Sampai ketemu besok" jawab Bert memutuskan telponan Secara pihak.
mendengar itu Rayhan sedikit lega, berpositif thinking, bahwa Bert tadi hanya tidak konsen karena memiliki banyak pekerjaan, toh, hal biasa seorang CEO seperti nya yang selalu sibuk.
Bert penasaran dengan kertas tersebut.
merasa tidak pernah meletakkan kertas apapun di atas meja sebelum meninggal apartemen.
mendekat ke arah meja, saat ingin mengambil lembaran kertas itu, ponsel Bert kembali berbunyi dengan nama yang tertera di layar tersebut adalah Al.
menghiraukan lembaran kertas putih itu, segera Bert menekan tombol hijau pada ponsel untuk mengangkat panggilan.
"ada apa Al?" tanya Bert dengan suara santai.
"kemarilah keadaan Geof memburuk Bert!" titah Al panik.
mendengar perkataan itu bert bergegas pergi meninggalkan apartemen dan melupakan kertas itu, melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi sehingga ia cepat sampai di rumah sakit.
sesampainya di sana, ia melihat Winda yang menangis di pelukan Cici,
sedih, rasa bersalah, menyesal, kesal, hancur,
itulah yang di rasakan Winda saat beberapa hari ini melihat Geof yang tak kunjung sadar semakin membuat nya merasa bersalah,
kalau bisa waktu di putar kembali bisa kah aku saja mengalami nya? tidak untuk orang lain tetapi hanya untuk ku, agar aku bisa berkumpul dengan mama dan papa disana, pikir Winda
"ya tuhan, aku mohon tolong selamatkan Geof, apapun akan aku lakukan tolong selamatkan dia aku tidak akan meminta apa lagi untuk apapun tapi tolong selamatkan dirinya, aku tidak bisa hidup dalam rasa bersalah, aku mohon, Geof bertahan lah kau kuat kau laki laki baik tolong kuat demi adik mu dan aku" batin winda yang menangis tersedu-sedu mendengar ucapan Al tentang buruk nya kondisi geof saat ini.
__ADS_1