
tiga bulan sudah berlalu dengan cepat tepat nya malam ini dinner romantis di caffe dimana Al dan Cici menjadi pasangan tiga bulan silam pengganti dinner yang gagal dua hari yang lalu,
Cici yang bisa merubah penampilan nya bak sihir yang terkadang tomboy kadang sebaliknya.
malam ini cici berdandan bak Dewi. Dengan memakai balutan gaun berwarna hitam yang memperlihatkan paha mulus nya itu di padu dengan high heels silver dan tidak lupa membawa dompet senada yang menambah kesan mewah nan elegan
turun menapaki anak tangga di sambut sorakan oleh Winda yang memuji kecantikan dirinya.
"cuit..cuit,, wow you look so perfect!" ujar Winda mengulur kan tangan nya untuk membantu cici turun.
"akh Lo terlalu berlebihan" jawab Cici merasa tidak percaya apa yang di katakan Winda.
"is gue ngomong kenyataan kok, yaudah deh kalo Lo bilang gue berlebihan gue ulang muji nya" ujar Winda mundur beberapa langkah yang mendapat tatapan bingung dari Cici dan kenric.
"mulai ya" teriak Winda
"ehh Cici Lo kok gitu sih penampilan nya" ucap Winda baru datang menatap cici dari bawah sampai atas dengan sinis.
"what's, apa Lo bilang?" kesal Cici mendengar perkataan Winda seperti mengejek penampilan nya.
"sudah di duga, serba salah apa pun yang gue ucapin salah Mulu heran gue, lagi dapat ya?" teriak Winda tak kalah besar dari Cici. untung satu memiliki sahabat seperti ini dan sudah menjadi saudara, kalau lebih bisa bisa darah tinggi gue di sini. pikir Winda.
"sudah.. sudahh kalian ini tiada hari tanpa berdebat" sela kenric menatap drama kedua putrinya dari awal sampai akhir.
"you are so beautiful Cici looks like a princess, semua Putri ku sangat cantik"
" mau kemana?" tanya kenric Kepada Cici.
belum sempat menjawab Winda sudah mencorocos
" dinner romantis pa" ujar Winda santai yang di jawab anggukan kepala oleh Cici.
"dengan siapa nak" tanga kenric pemasaran karena dirinya tidak mengetahui bahwa anak nya kini sudah memiliki kekasih.
"dengan tuan ALBERT DANENDRA pa" lanjut Winda yang mendapat tatapan tajam dari Cici,
"apa kah kalian sudah jadian" ujar kenric
"udah pa, dan malam ini ketiga bulan nya mereka jadian tapi sebenarnya mereka itu hanya...." belum sempat menyempurnakan Kalimat nya seperti biasa Cici menyumbat mulut Winda dengan sapu tangan yang ia bawa.
__ADS_1
kesal, ya kesal Cici rasa kan sembari tadi yang menjawab Winda, siapa yang di tanya siapa yang menjawab. toh semua memang benar yang di katakan Winda tapi ia tidak ingin papa mengetahui asal mula nya ia memulai hubungan dengan Al yaitu melalui kontak,
"makan tu sapu tangan ajaib dia aja kesal dengar suara Lo apalagi gue yang di tanya siapa yang jawab siapa, makanya sapu tangan ajaib gue melayang masuk tu ke mulut" ujar Cici menahan ketawa melihat wajah Winda manyun karena kesal atas tindakan Cici yang membuat mulut nya sakit.
10 menit kemudian datang lah Aldrich
ting tong
"mungkin itu Al aku pergi dulu ya pa" pamit Cici mencium punggung tangan kenric.
"tunggu sebentar" ucap kenric yang membuat langkah Cici terhenti.
"apa boleh papa temani keluar" pinta nya.
"tentu saja boleh pa" jawab Cici dengan merangkul lengan kenric menuju ke luar.
ceklek...
"ee om, apa kabar?" sapa Al sopan dengan bersalaman dengan kenric sedikit gerogi karena baru pertama kali bertemu calon mertua.
"baik,nak Al.." ujar kenric mengingat nama kekasih putrinya yang agak berbelit di lidah pria paruh baya itu.
"syukur lah, kalau gitu apakah aku boleh mengajak putri anda keluar bersama ku om" ujar Al meminta izin.
"tentu saja boleh tetapi ingat jangan pulang larut malam dan jaga lah Putri ku baik baik" ujar kenric menepuk pundak Al.
"tentu saja om aku akan menjaga nya tanpa di jaga pun laki laki yang mendekati Cici akan menjadi perkedel" ucap Al di sambut ketawa oleh kenric.
"om kami pergi dulu lain kali kita akan bertukar pikiran" pamit Al mencium punggung tangan kenric sebelum meninggal nya.
"aku pergi dulu ya pa" ujar Cici mencium pipi kenric.
berjalan menuju mobil mewah dengan mengandeng tangan Cici, Al merasa bahwa dirinya sudah dapat Lampu hijau dari kenric sang mertua. mendapat restu sudah tetapi untuk hati Cici sangat susah mendapatkan nya.
tidak menyerah sesuai yang di rencanakan malam ini Al akan mengajak Cici ke jenjang lebih serius lebih tepatnya melamar Cici. terima atau di tolak itu urusan belakangan yang penting ia sudah mengungkapkan perasaan dan keinginan dirinya.
perjalanan kurang lebih 20 menit menuju tujuan, sampai lah di caffe tersebut.
"kenapa sepi?" gumam cici, memperhatikan sisi kanan kiri yang biasa nya ramai, tapi lihat lah sekarang tidak ada pasangan yang menikmati dinner, melainkan semua pelayan yang berbaris dari pintu masuk membawa setangkai mawar putih dan merah yang mereka berikan kepada Cici secara bergantian.
"ada apa ini?" tanya Cici melirik Al yang Santai berjalan di samping nya.
__ADS_1
bukan menjawab Al malah menyuruh Cici untuk menutup kedua matanya.
"jangan di buka sebelum aku meminta nya" ujar Al yang di Jawab anggukan oleh Cici.
"sudah" ucap Cici merasa tidak sabar apa yang akan terjadi kejutan apa yang akan menanti.
"sebentar lagi"
"okeh sampai, baiklah dalam hitungan ketiga kau boleh membuka mata"
1
2
3
"buka lah" ujar Al.
Jeng...jeng
"wow" ujar Cici tidak bisa berkata-kata lagi.
betapa takjub nya Cici melihat pemandangan yang di sungguh kan begitu romantis, meja yang di hias sedemikian rupa tetapi tidak terlibat norak, lantai lantai yang di penuhi balon bewarna merah dan putih seperti bunga mawar yang ia genggam, lilin aromaterapi menambah kesan mewah nan indah di padu alunan suara biola klasik membuat sempurna malam itu.
"apakah kau menyukai nya sayang" tanya Al
"sangat suka" jawab Cici menampilkan senyum bahagia nya.
sesi makan malam yang penuh canda tawa membahas masa kecil. tiba lahh di sesi kejutan yang sesungguhnya.
"sayang" panggil Al menatap cici sedang menikmati puding coklat.
"yaa" ujar nya menghentikan kegiatan makan nya.
"sesuai perjanjian di tiga bulan lalu yang kita sepakati bersama, dalam tiga bulan ini kau mencintaiku kita akan melanjutkan nya ke jenjang pernikahan, tetapi kalau tidak aku tidak masalah, perasaan tidak dapat di paksa, bukan?." jelas Al yang di anggukan oleh Cici.
Al yang semula duduk kini ia sudah berlutut di hadapan Cici dengan mengeluarkan kotak cincin berlian.
"will you start a new life with me?" ujar Al penuh harap.
deg deg
__ADS_1