Terjerat Bayangan Cinta Polwan

Terjerat Bayangan Cinta Polwan
kecemasan


__ADS_3

BRAKKK!!!


Cit CIT CIT... (Suara rem mobil yang memekakkan telinga)


Suara tabrakan yang begitu keras begitu membuat pusat perhatian orang-orang yang ada di sana.


"Woii brengsek turun". Teriak Geof kepada pelaku tabrakan itu yang sudah melarikan diri,


Dengan emosi yang menggebu Geof mengambil batu yang berukuran sedang berhasil mendarat di kaca spionnya.


"Geof,,, cil-cilla". Panggil Winda yang membuat pandangan Geof kini telah beralih kepada bocah yang sekarat itu.


"Cil- Cilla sayang bangun nak, jangan buat aunty takut cilla, bertahan lah sayang kau anak yang kuat". Ujar Clara dengan tangis yang sudah pecah.


Geof tak mampu berkutik, melihat cilla yang berlumuran darah membuat kedua kaki nya melemah seolah tak berdaya.


"Tuan,,, apa yang kau lakukan kenapa hanya diam saja cepat ambil mobil mu". Ucap Winda yang tak habis pikir dengan sikap Geof.


"I-iyaa". Jawab nya dengan cepat berlalu dari keramaian tersebut.


Di sisi lain.


"Bagaimana? Berhasil?". Tanya seorang wanita di balik telpon nya.


"Hahaha tentu saja bos, sesuai dengan request anda bos". Jawab pria keji itu dengan tertawa bahagia.


"Apa kalian sudah pasti kan bahwa bocah itu sekarat?". Tanya wanita itu penasaran.


"Jangan kan sekarat bos mungkin sekarang sudah mati tu bocah". Jawab nya dengan percaya diri di sambut ketawa oleh teman nya.


Mendengar kata mati, hati nya begitu sedih, pilu mengapa ada kata tidak terima. Siapa bocah itu? Tidak siapa siapa bagi nya dia hanya kekuatan di kebahagiaan keluarga Albert,


Tidak sadar air mata perempuan licik itu terjatuh begitu saja.


"Bos hallo bos". Panggil anak buah nya.


"Ah iya, kerja bagus tak sia sia aku membayar kalian dengan mahal". Ujar nya segera memutuskan telpon sepihak.


"Akhirnya kalian merasakan kesedihan juga ini baru awal Bert aku akan membalas nya satu persatu". Ucap Angel dengan senyum smirk.

__ADS_1


Di rumah sakit.


Semua keluarga Danendra sudah berkumpul termasuk Elard untuk menantikan kabar baik dari Al dan celsie yang sedang menangani Cilla.


"Cilla,,hiks hiks". Ujar Cici yang sembari tadi menangis di pelukan Bert.


"Sabar lah Cilla anak yang kuat, pasti dia akan bisa melewati ini semua". Ucap Bert berusaha menguatkan Cici yang Sama hal nya dengan dirinya sendiri yang juga terpuruk saat mendapati kabar buruk ini.


"Mengapa mereka tidak bertanggung jawab, mereka meninggalkan anak ku begitu saja". Kata Cici menatap mata sang suami.


Tangan Bert menggeram


"Tenang saja aku akan menemukan orang yang telah membuat anak ku seperti ini". Ucap Bert dengan emosi yang begitu jelas.


"Akan ku buat mereka menyesal dan merasakan sakit yang di rasakan Cilla". Kata Elard tak kalah dendam, amarah yang masih terpendam.


"Maaf kan aku kak, ini semua salah ku mengapa aku mengizinkan nya ikut dengan aku, maaf kan aku". Ujar Clara begitu merasa bersalah atas kejadian yang menimpa cilla.


"Sudah sayang ini tidak salah mu ini semua sudah takdir sudah di tentukan, kita berdoa saja yaa untuk kesembuhan ponakan mu". Kata Loren yang membuat bumil tersebut sedikit tenang.


di sisi lain.


tinggal di hotel mewah milik keluarga Pranda, tidak membuat dirinya sombong dan enggan menyapa karyawan karyawati yang bekerja di sana, hati yang baik yang tidak pernah memandang seseorang dari kasta nya itulah feren Pranda.


"permisi pak apakah buk polwan yang bernama Ciysa ada?". tanya feren kepada perwira Wisnu.


memperhatikan wanita tersebut dari atas sampai bawah, seperti nya orang berasal dari kalangan atas, pikir Wisnu.


"maaf buk, Ciysa sudah pulang. maaf kalau boleh tahu ada apa ya buk?". tanya perwira Wisnu penasaran.


"mmm tidak ada pak hanya ada perlu saja, baiklah terima kasih kalau gitu saya permisi dulu". ucap feren.


"iya buk sama sama". jawab perwira Wisnu.


***


di rumah sakit.


sudah berjam lamanya mereka semua menunggu kabar cilla.

__ADS_1


"kenapa lama sekali dokter keluar". runtuk cemas Elard bertanya kepada Bert.


Bert yang hanya paham kecemasan yang di rasakan Elard begitu berlebihan lebih dari dirinya sendiri, layak nya seorang ayah kandung terhadap putri mereka, itulah yang terlihat di wajah Elard yang sembari tadi bermondar mandir di depan ruangan dimana cilla di tangani.


"apa anda berpikir seperti yang saya pikir saat melihat Elard? atau jangan-jangan bisa jadi dia memang putri kandung nya Elard kan?". gumam pelan Winda berbisik di depan wajah Geof.


"hmm bisa jadi, tapi siapa mommy nya? akh sudah lah, pikiran mu selalu aneh aneh saja. cups". ucap Geof sembari memberi kepemilikan di pipi Winda.


akh mereka memang seperti itu tidak tahu tempat dan kondisi yang tepat untuk itu.


siapa sangka Angel yang menyamar menjadi suster sembari tadi memantau perkembangan bocah itu dari jarak yang tidak terlalu jauh, sehingga dirinya masih bisa terdengar apa yang mereka semua bicara kan.


keluar lah suster dengan membawa pakaian cilla dan peralatan medis yang kotor akibat terkena darah.


ceklek.


"suster bagaimana keadaan anak saya?". tanya Cici antusias mendekati suster tersebut.


"maaf buk, saya belum bisa menjawab nya tunggu saja kabar dari dokter". jawab suster tersebut dengan sopan.


"sus! berhenti". panggil suster tersebut kepada angel yang menyamar sebagai suster.


deg,, deg,,,


angel berusaha untuk tenang agar tidak membuat dirinya di curigai oleh keluarga Danendra.


"iya sus". jawab nya dengan lemah lembut.


"tolong gantikan aku di dalam dokter sangat membutuhkan bantuan". ujar suster tersebut segera pergi meninggalkan Angel yang bingung.


bingung harus melakukan apa di dalam nanti, sedang kan dirinya tidak paham sama sekali.


demi tidak menaruh curiga dari pihak lain, akhirnya Angel meng-iyakan,


ceklek.


dirinya masuk dengan keringat dingin dimana melihat para dokter yang serius dan hanya berkutik dengan peralatan medis dan memberi kode untuk langkah selanjutnya.


melihat wajah Cilla yang pucat pasi seperti mayat hidup, membuat hati mau Ter iris.

__ADS_1


mengapa aku begitu sedih, aku juga merasa kan sakit yang ia rasakan, ada apa sebenarnya pada diriku dia bukan anak ku dia bukan darah daging ku, pikir Angel tanpa sengaja menjatuhkan air mata nya, dengan cepat dia menghapus air mata itu agar tidak membuat orang lain Sadar.


__ADS_2