
ceklek.
pintu kamar mandi terbuka di mana Bert keluar dengan mengenakan handuk putih yang dililitkan di pinggang nya, perut yang seperti Rori sobek di tambah rambut yang basah semakin menambah kesempurnaan pria yang kini sedang berdiri di hadapan nya.
"hmm seperti nya tatapan itu tidak akan berubah, Beby ku selalu tergila gila dengan ketampanan suami nya". narsis Bert menyengir kuda.
"terserah ku mata ku dan kau Suami ku bukan? yasudah terserah ku mau menatap yang mana". jawab Cici kesal tanpa sadar jawaban itu semakin membuat Bert ingin menggoda nya.
"owhh,,, terserah?".(ucap Bert mengulang kalimat Cici yang di jawab anggukan oleh nya).
melangkah semakin dekat.
"baiklah apa yang kau katakan tadi apa itu tidak salah dengar oleh ku?" lanjut nya di jawab gelengan oleh Cici, maju perlahan sehingga membuat Cici mundur sedikit demi sedikit.
"hmm kalau gitu apa aku boleh meminta nya malam ini?" ujar Bert yang semakin memajukan tubuhnya,
hanya mampu menelan Saliva nya dengan kasar.
apakah ini sudah waktunya? aku harus siap apapun itu. pikir Cici.
brakk
Cici terjatuh tepat di atas ranjang semakin membuat Bert tersenyum menang sudah melihat kepasrahan dari mata Cici,
"kau sangat cantik selalu membuat ku jatuh cinta setiap hari melihat mu". gombal manis Bert mengelus pipi lembut sang istri.
"ouh kau sudah pandai ber..." belum sempat meneruskan perkataannya mulut indah yang selalu memikat hati itu sudah di bungkam Bert dengan menautkan bibir mereka berdua.
bermain indah, semakin membuat lama Bert berhasil membuat Cici bereaksi untuk meminta lebih.
saat Cici ingin membuka kancing baju nya Bert memberhentikan kegiatan nya sehingga berhasil membuat Cici kesal.
"Bert". panggil Cici dengan suara yang tidak dapat dikondisikan, melihat Bert meninggalkan dirinya dan berjalan ke arah pintu.
__ADS_1
"sabar Beby, aku hanya ingin mengunci pintu agar tidak ada yang menganggu kita nanti". jawab Bert santai mengusap bibirnya dan langsung mengunci pintu kamar nya.
"hmm seperti nya ada yang sudah tidak sabar ni". goda Bert berjalan ke arah ranjang nya di mana Cici sedang kesal, ya tentu dia kini sangat menginginkan nya.
Bert pun perlahan-lahan tapi pasti melanjutkan aksinya dengan melepaskan handuk yang melilit di pinggang nya dan membantu Cici membuka pakaian nya dan ( bayangin sendiri aja kelanjutan nya ya reader 🤣).
malam yang panjang penuh gairah, erangan dan ******* melenguh panjang di kamar besar itu. Di mana malam ini malam penyatuan mereka berdua sehingga kini semakin membuat hubungan Bert dan cici sempurna.
pagi baru hari nya,
cahaya matahari menyilaukan mata kedua insan yang sedang terlelap tidur akibat lelah nya pergulatan kenikmatan surga dunia.
"huaaah" Cici menguap, bangun, membuka matanya merenggangkan otot otot nya.
"pagi Beby" ujar Bert menerbitkan senyum manis nya seraya memeluk pinggang istri nya.
"ayo mandi!!! nanti telat, apa hari ini tidak ada meeting?" tanya Cici berusaha menyingkirkan tangan kekar yang melingkar itu.
nyawa yang belum terkumpul dengan sempurna, terdiam dan mengingat kembali.
"ya sudah ayo, awww" ringis Cici, dia merasa sakit di bagian intim nya,
"kenapa?" cemas Bert bertanya.
"sakit". jawab Cici agak malu menunjuk yang ada di dalam selimut.
Bert yang mengerti hanya nyengir kuda dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, mengambil celana nya langsung di kenakan. Dengan sigap Bert mengendong tubuh Cici dan membawa nya ke kamar mandi dan di masuk kan kedalam bathtub yang tidak lupa suhu air nya sudah di atur.
......................
"pagi mommy". sapa Cilla bersemangat yang sedang duduk di meja makan dengan Loren, Dalbert, Al.
"pagi sayang" jawab nya langsung menghampiri bocah kecil itu yang sudah dia anggap seperti anak kandung nya tidak lupa sebuah kecupan pagi yang sudah menjadi kebiasaan Cilla untuk mendapatkan itu.
__ADS_1
"hmm,,, dad tolong bantu mommy" ujar Loren menatap Cici dengan senyam senyum
"bantu apa mom" jawab Dalbert melirik istrinya.
"bantu Tolong lihat menantu kita ini pagi pagi sudah keramas, apa itu bener atau mata mom aja yang sudah rabun ya?". goda Loren membuat pipi cici merah merona.
"akh iya, bukan mommy dan Daddy aja yang melihat, aku juga melihat nya, bagus lah sebentar lagi Cilla akan mempunyai adik". sambung Al dengan santai sambil mengolesi roti dengan selay nya.
kini Al sudah mulai berdamai dengan garis takdir yang sudah di takdir kan untuk kehidupan nya, tidak ada dendam lagi di hati nya, kini dia sudah menemukan seorang wanita yang sangat mencintai Al dengan tulus wanita itu tidak pernah lelah untuk mengambil hati seorang dokter aldrich Danendra.
Dia berharap kali ini hubungan nya bisa berjalan mulus dan bahagia seperti sang kakak.
"yeyeye Cilla mau punya adik". teriak girang dari Cilla.
"apa itu benar mommy?" lanjut bocah itu menatap ke arah mommy nya".
"doakan saja ya agar Cilla punya adik, okeh?" lanjut Loren tersenyum senang melihat menantu nya diam , mungkin karena malu.
"sudah mom, lihat lah wajah istri ku sudah memerah seperti capek merah" lanjut Bert yang baru saja turun.
"hahaha berapa ronde Bert?". tanya Al santai sambil mengunyah roti nya.
"hmm kira kira 5 ronde, ya kan Beby?". jawab nya polos sambil merangkul pundak Cici.
"awww" ringis Bert ketika Cici mencubit pinggang Bert.
"akh lemah, Daddy saja lebih dari 5 makanya sekali dapat langsung kembar". sambung Dalbert santai.
mendengar itu membuat semuanya saling menatap lalu tertawa renyah, membuat Loren malu melihat anak anak nya.
"akh mommy jangan seperti ini membuat Daddy menginginkan nya". goda Dalbert semakin membuat pipi istrinya memerah.
"ingat sudah tua, sudah punya cucu". ketus Al.
__ADS_1
"umur boleh tua jiwa muda, kuat nya boleh di coba, ha-ha-ha". jawab Dalbert melirik kearah Loren.
sudah lama keluarga itu tidak tertawa lepas saat berkumpul, tapi lihat lah hari ini mereka kembali tertawa bersama semakin membuat hati hubungan keluarga itu semakin erat, betapa beruntungnya Cici yang sudah menjadi menantu di keluarga Danendra yang sangat penyayang yang tidak pernah memandang seseorang dari kasta harta dan pendidikan.