
Cici yang dapat melihat kegelisahan yang Albert rasakan, pusing, tentu saja melihat Albert yang mondar mandir di depan ruangan IGD tersebut seperti setrikaan panas, membuat Cici beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan menuju kantin rumah sakit untuk membelikan air putih untuk winda yang tidak jauh beda keadaan nya dengan Bert.
bagaimana Bert ridak cemas, Geof Robert ia Sahabat Bert sejak kecil, Geof juga orang yang membantu nya untuk berdamai dengan Elard dan keadaan, kepribadian Geof yang ramah, selalu ada di saat dirinya membutuhkan bantuan, dan mengerti perasaan nya,
"minum lah dulu, semua akan baik-baik saja" ujar Cici menyodorkan sebotol minuman kepada Bert yang terlihat seperti menahan tangisnya.
gengsi, Yap, ia tidak ingin melihat kan kesedihan nya apa lagi air mata nya, mau di letakkan di mana wajah ku seorang CEO seperti ku menangis?, hal yang tidak tepat untuk saat ini memikirkan dirinya sendiri, ia tepis dalam dalam keinginan untuk melupakan Sifat gengsi itu,
"terimakasih" Bert menerima botol air itu dari tangan Cici.
"hay apa kau sedang menangis?" ujar lembut Cici menyerka air mata Bert yang sudah menetes.
entahlah, begitu refleks tangan ku untuk menghapus air mata itu, aku bisa merasakan sakit yang ia rasakan.
tanpa aba-aba Bert langsung memeluk Cici, dan menangis di dalam pelukan Cici, jangan kan Winda yang terkejut melihat pemandangan yang ada di depannya, Cici juga tak kalah kejut dengan apa yang di lakukan Bert, tetapi ia kini bisa merasakan kehangatan tubuh Bert,
"semua akan baik-baik saja, percaya lah" ujar Cici lembut membalas pelukan itu.
"aku tidak ingin kehilangannya" lirih Bert semakin mempererat pelukannya.
"tidak, jangan bicara seperti itu, Geof orang yang kuat, lihat lah dia akan segera melewati masa kritis nya" kata Cici mengelus punggung Bert berusaha untuk menenangkan dirinya, detak jantung Bert dapat ia rasakan dengan jelas.
sebegitu takut kah dirinya kehilangan Geof?,
"mengapa pelukan ini sangat nyaman baby? aku tidak ingin melepaskan nya, aku mohon jangan lepaskan" batin Bert semakin menenggelamkan kepalanya ke tengkuk Cici,
deru nafas yang tidak teratur terasa sangat jelas menerpa Tengkuk leher dirinya, aroma tubuh yang sama-sama dirindukan satu sama lain kini dapat kembali di rasa kan, ya walau mungkin ini untuk terakhir kali nya atau tidak,
__ADS_1
takdir ku takdir mu sudah di atur oleh maha kuasa, tapi aku berharap ini tidak untuk yang terakhir kalinya, aku sangat menyayangimu baby, i love baby, batin Bert yang kini perasaan sudah mulai tenang saat mendengar ucapan Cici.
entahlah! aku tidak ingin melepaskan pelukan ini, sadar Cici sadar, dia bukan milik mu dan dirimu sendiri bukan milik Bert tetapi Al ingat itu, berdebat dengan pikiran nya segera Cici melepaskan pelukannya.
"maaf kan aku" ujar Bert menyembunyikan kebahagiaan kecil nya dengan wajah datar nya seolah-olah seperti kelihatan seperti bersalah. padahal di lubuk hati yang paling dalam dirinya begitu bahagia bisa kembali merasakan kenyamanan ini, kenyamanan yang masih sama untuk selamanya.
"tidak masalah" jawab Cici agak canggung, seraya menghampiri Winda yang pura pura tidak melihat pasangan itu.
Winda sangat tahu dari tatapan Cici saudaranya itu bahwa ia hanya mencintai Albert bukan Aldrich, tetapi ia tetap memilih Aldrich demi perasaan Al agar dia tidak kecewa, biar lah Cici merasakan sakit tetapi tidak orang lain,
nasib cinta mereka memang tak seindah Kisah orang lain, Winda yang mulai membuka lembaran baru untuk menerima orang baru, mengapa El datang saat perasaan ku untuk nya masih ada, tatapan El tidak pernah berubah saat menatap ku, tatapan yang begitu aku rindukan, dua tahun aku menunggu mu Elfathan tetapi mengapa kau tidak pernah kembali menemui ku, lihat lah kini saat aku memutuskan untuk pergi kau kembali seperti ingin memintaku untuk kembali ke pelukan mu.
Cici yang kisah cinta nya terjebak oleh dua orang laki-laki yang satu darah, sama sama tampan dan kaya, apakah itu di sebut cinta segitiga? entahlah. perjalanan cinta nya cukup rumit, saat hati nya mulai berlabuh dengan seorang pria angkuh yang suka mengancam ketentraman hati nya tetapi pria itulah yang berhasil merebut hati nya dengan sikap angkuh nya, saat berbunga-bunga nya hati dirinya pergi tanpa memberi kabar,
datang lah pria yang sangat persis tetapi kepribadian yang berbeda, memberikan cinta, kasih sayang, segalanya. ingin menerima nya tetapi di lubuk hati ini hanya menginginkan yang dulu, berusaha berdamai dengan keadaan,waktu dan takdir,
mengapa kau datang dengan wanita yang kini sudah hamil, mengapa kalian tidak pernah bilang bahwa memiliki saudara kembar, selucu ini kah perasaan ku serumit ini kah perjalanan cintaku,
cukup sudah tenggelam dalam dilema ini, aku harus kembali ke Cici yang normal, biarlah dia bahagia dengan keluarga kecil nya, walaupun aku dapat melihat dari tatapan nya bahwa ia juga merindukan ku, tapi itu tidak mungkin, aku tidak ingin membuat hati wanita lain hancur sama seperti ku, toh lebih baik di cintai dari pada mencintai, datang nya cinta karena terbiasa akan kehadiran dirinya dan kenyamanan yang ia berikan,
waktu yang menunjukkan pukul 12 malam,
masih suasana yang sama, menanti dokter Al keluar dari ruangan IGD untuk memberi tahukan keadaan Bert.
"Bert!" panggil seorang laki-laki memakai kacamata hitam.
berlari menghampiri Bert,
__ADS_1
mendengar suara yang sangat familiar, bert mendongak menatap ke arah sumber suara, berdiri dari tempat duduknya,
"Elard!" ujar bert langsung memeluk nya.
Elard membalas pelukan itu.
"tega Lo pada, nggak ada yang kasih tahu gue tentang keadaan Geof" kesal Elard.
"bukan gitu, Lo baru aja sampai di tujuan dan dii hari yang sama Geof mengalami kecelakaan itu" kilah Bert.
Yap, kejadian Geof terjadi saat dirinya sudah selesai mengantarkan Elard ke bandara, perusahaan yang ada di luar negeri yaitu perusahaan keluarga nya yang sudah menjadi milik Elard, mengalami terjun bebas, penurunan yang sangat drastis membuat ia mau tidak mau harus pergi,
beberapa Minggu ia mengambil alih perusahaan ini, keadaan perusahaan nya mulai membaik ya walau dirinya harus menjual hotel yang ada disana untuk menutupi hutang perusahaan,
hari demi hari semakin membaik pekerjaan mulai santai, entah mengapa perasaan nya merasa tidak enak lalu ia memutuskan untuk pulang kembali ke tanah kelahiran nya, sesampainya di apartemen. Al yang tidak ingin menunda lagi untuk memberi kabar tentang Geof, langsung menghubungi Elard dan memberitahu nya setelah menelpon Bert.
"akh sudah lah, bagaimana keadaan nya kini?" tanya Elard menatap Bert yang terdiam.
bingung,
saat ingin menjawab pertanyaan Elard, lampu di depan pintu IGD mati, pintu terbuka.
ceklek,
Al yang keluar dengan langkah berat, berusaha untuk tegar, pandangan yang kosong saat Al sudah di ambang pintu kaki nya terasa lemas sehingga tidak dapat berdiri dengan sempurna.
"Al" ujar Bert menyambut Al sehingga ia tidak jatuh.
__ADS_1
melihat keadaan Al semakin membuat empat orang yang di sana semakin takut, detak jantung yang berdebar kencang seperti ingin berlomba lari di dalam sana.
apakah yang terjadi? kenapa dokter Al seperti ini? jangan, tidak mungkin bukan? aku akan hancur jangan?, batin winda mendekat ke arah Al. dengan Air matanya yang terus mengalir deras membasahi pipi mulus itu.