Terjerat Bayangan Cinta Polwan

Terjerat Bayangan Cinta Polwan
kecelakaan


__ADS_3

"win!... Winda!" teriak Cici sembari tadi sudah mengelilingi seluruh apartemennya tetapi tidak kunjung kelihatan batang hidung orang yang ia cari


"kamu kenapa teriak teriak ci?" tanya kenric yang pusing melihat Cici berputar putar seperti setrikaan panas.


"cari Winda pa, kemana sih tu anak ngilang Mulu, apasih salah nya ngomong kek kalo mau pergi gitu ni nggak!" kesal Cici menghempaskan tubuhnya di sofa empuk yang bersebelahan dengan kenric yang dari tadi tidak konsen membaca koran.


"dia ada di apartemen nya, kalau nggak salah tadi dia bilang mau cari art harian buat bersihin apartemen nya karena dia lebih sering disini! jelas kenric membuat Cici berdiri dari duduknya dan segera berlalu di hadapan kenric.


tidak memakan waktu lama Cici sampai di depan apartemen Winda.


Cici langsung menekan pin pintu dan segera masuk untuk mencari keberadaan Winda yang hasil nya nihil tidak ada orang, dirinya memutuskan untuk menunggu dengan menonton flim mafia kesukaannya.


***


"Winda yang dari tadi menunggu seseorang yang akan menjadi art harian di apartemen nya, sedang duduk di warung sebelah perempatan halte karena sang art baru saja menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di kota metropolitan. Mau tidak mau Winda menjemput art yang baru saja ia kenal melalui informasi dari yayasan.


dari kejauhan tanpa ia sadari ada seseorang laki-laki matang yang sedang duduk di dalam mobil mewah milik nya sedang memperhatikan gerak-gerik Winda.


"kenapa wajah nya tidak asing? siapa dia? mengapa mirip sekali dengan... akh tidak mungkin, dia sudah pergi jauh dari hidup mu sadar, cukup sekali kau menjadi pria bodoh!" kesal pria itu memukul setir mobilnya.


saat hendak menghidupkan kembali mesin Nya, hati pria itu melarang berbeda dengan pikiran yang seakan pergi lah buat apa Disini.


karena terus berdebat dengan pikiran dan hati nya, pria itu memutuskan untuk memantau Winda lagi.


kring kring


ponsel Winda bergetar pertanda ada panggilan masuk, segera ia mengambil benda pipih itu dari dalam saku nya dan melirik nama yang tertera di layar tersebut, mbak Tutik.


"hallo mbak Winda saya sudah sampai dan sekarang ada di warung depan halte nya mbak!" ujar buk Tuti yang berusia 30 tahun.


"saya di samping halte tempat orang jual es cendol mbak" jawab Winda yang sembari tadi meminum es saat menunggu art baru itu,


" coba mbak lambaikan tangan" perintah Winda yang di ikuti Tutik.


memperhatikan orang-orang yang ada di seberang, Winda mencari lambaian tangan dan akhirnya ia menangkap lambaian tersebut,


"okeh mbak saya susul kesana ya?"tanya Winda yang mulai berjalan menyebrangi jalan.

__ADS_1


"mbak Winda pake seragam polisi ya? tanya Tutik yang di jawab iya oleh Winda. itu lah percakapan terakhir sebelum memutuskan teleponnya.


"dia ingin kemari" ujar pria itu segera menutup kaca mobilnya.


semakin mendekat semakin jelas terlihat wajah Winda yang imut itu,


saat menyeberang Winda tidak melihat pengendara mobil yang sedang melaju kencang.


"mbak Winda!!!" teriak Tutik keras sontak membuat pria itu terkejut.


"Winda?" ujar Pria itu tanpa pikir panjang segera keluar dan berlari untuk menyelamatkan wanita itu.


Winda yang terdiam kaku, aksi itu menjadi pusat perhatian orang orang yang ada di sekitar.


BRAKKK!


bunyi keras yang menghantam tubuh nya yang memekakkan telinga di sekitar kecelakaan itu.


ia merasa kan sakit seluruh tubuhnya seolah remuk, darah mengalir deras keluar dari kepala yang berserakan dimana-mana,


" Ge- Geof!!!" teriak Winda histeris


Geof yang mengikuti Winda ingin memberi tunjukkan surat surat mobil mewah yang ia kendarai yang waktu itu di ragukan oleh Winda,


saat mendengar teriakkan memanggil nama Winda dengan sekuat tenaga Geof lari dan mendorong Winda menjauh dari mobil tersebut, alhasil kecelakaan itu tidak dapat di hindari oleh Geof.


"Geof bangun Geof, kenapa kau lakukan ini dasar pria bodoh" teriak Winda bercampur tangis yang masih di sambut dengan senyuman oleh Winda.


"ja- jangan kepede- an a-aku hanya ingin mem- memperlihatkan su-surat mo-mobil ku" kata terakhir sebelum Geof kehilangan kesadaran nya.


"Geof! bangun, Hay kenapa kalian hanya menyaksikan nya saja tolong lah dia" teriak Winda yang sembari tadi tangis nya pecah.


Pria yang hendak menolong Winda tadi ia hanya memperhatikan pria yang menolong Winda tadi, bisa di lihat bahwa laki-laki tadi sangat tulus menolong Winda,


"segera bawa dia ke dalam mobil ku" ujar pria tadi,


Winda yang sakin cemas nya tidak memperhatikan siapa orang yang akan membawa mereka ke rumah sakit.

__ADS_1


"bertahan lah Geof, kau pasti kuat, hiks hiks" ujar Winda yang masih setia pahanya menjadi bantal oleh Geof.


"bisa lebih cepat tuan" ujar Winda memperhatikan darah di kepala dan lengannya tidak berhenti keluar,


"iya lipop maksud ku Winda" ujar pria itu membuat perasaan Winda tak karuan.


sreet


perkataan itu membuat nya tidak bergeming dan melupakan keadaan geof sementara.


"than" lirih Winda, betapa terkejutnya dari sekian tahun lamanya tidak berkomunikasi dan kini di pertemukan dengan kondisi yabg seperti ini, sungguh kondisi yang tidak tepat.


yap, benar pria yang memerhatikan gerak gerik Winda tadi adalah elfathan Gazwan seorang pilot anak tunggal dari perwira Wisnu, atasan dirinya dan Cici.


"apa kabar? apakah diri mu kini bahagia?" tanya El lembut dengan Winda,


"tentu..." belum sempat menerus kalimatnya Winda tersadar bahwa ia kini sedang membahayakan keselamatan orang lain dengan membahas yang tidak penting.


"Geof!" ujar nya menepuk pipi Geof dengan lembut saat mendengar Geof seperti sesak nafas, air mata yang terus-menerus mengalir deras di pipi mulus itu.


"tolong cepat lah, aku mohon than, bertahan lah Geof" ujar Winda yang menggenggam erat tangan Geof, El yang menyaksikan itu betapa sesak nya melihat pemandangan yang menyayat hati yang sudah terluka semakin terluka.


ia tepis mentah mentah perasaan panas yang menggebu di hati nya, dengan kecepatan tinggi Elfathan mengendarai mobil nya agar cepat sampai dirumah sakit.


15 menit kemudian,


sampai lah di rumah sakit milik keluarga Danendra,


di sepanjang lorong lorong rumah sakit Winda masih menggenggam erat tangan Geof yang terbaring lemah dan pucat akibat kehilangan banyak darah.


"Geof! teriak Al melihat kondisi sahabat nya yang sekarat.


"cepat bawa dia ke IGD" teriak cemas Aldrich Kepada para suster.


"Tolong selamatkan dia Al" pinta Winda dengan wajah sembabnya.


"aku akan berusaha win, doakan dia, setelah ini kau berhutang akan penjelasan ini semua" kata Al segera menutup pintu IGD yang di jawab anggukan kepala oleh Winda.

__ADS_1


melihat kesedihan yang di rasakan Winda, membuat El juga dapat merasakan sakit itu.


__ADS_2