Terjerat Bayangan Cinta Polwan

Terjerat Bayangan Cinta Polwan
pisang


__ADS_3

Perjalanan yang sedikit melelahkan bagi wanita yang kini usianya tidak muda lagi, untuk pertama kalinya nya kaki itu menginjak tanah kelahirannya setelah dua puluh empat tahun yang lalu.


Berubah tentu saja kini kota kelahirannya sudah berubah, di sepanjang jalan tak hentinya menebar senyuman untuk kota itu. Feren wanita yang baru saja sembuh dari depresi nya memutuskan untuk pergi untuk menemui sang putri yang sangat ia rindukan.


Aku kembali, bunda mu Sudah kembali sayang, bersabar lah kita akan bertemu. Apa kau tidak ingin memeluk bunda mu sayang. Pikir nya.


Di sisi lain.


Cici yang sudah kembali bekerja seperti biasa nya, hari hari yang ia lewati yang tidak pernah sedikitpun terpikir melupakan untuk mencari bundanya.


Bert sang suami pun membantu cici dengan menyebarkan beberapa anak buah nya untuk mencari mertua nya tersebut, susah itulah yang dirasakan oleh anak buah nya. Dengan selembar Poto tua yang lesuh ia dapatkan dari rumah papa nya dulu, itulah yang ia punya tidak namanya tidak keluarga nya yang satupun Cici tahu.


Ya aku ingat nama bunda ku feren. Benar aku sangat ingat di mana nama bunda tercantum indah di kartu keluarga ku.


"Aku percaya kita pasti akan bisa menemukan bunda mu". Hibur Bert kepada Cici yang kini sedang berada di kantor suaminya karena jam makan siang dengan niat untuk makan bersama.


"Iyaa, terimakasih untuk semua nya". Ujar Cici menenggelamkan kepalanya ke dalam dada bidang itu.


"Tidak perlu berterima kasih itu sudah kewajiban ku sebagai suami untuk membuat mu bahagia dan memenuhi semua keinginan mu selagi aku bisa akan aku lakukan apapun itu". Ucap Bert memeluk sambil mengelus kepala Cici.


Sungguh tenang mendapatkan perlakuan itu, wanita mana istri mana yang tidak mau di sepesial kan di istimewa kan. Di hati kecil ku, aku hanya mampu berharap dan berdoa agar dirinya tak berubah tetap selalu sayang dan mencintai ku dan keluarganya.


...****************...


Di sebuah supermarket di mana seorang CEO besar yang bernama Geof Robert sedang menemani Winda membeli buah buahan.


"Mmm tuan". Panggil Winda melihat Geof yang hanya diam saja menatap buah-buahan itu.

__ADS_1


Bukan nya membantu Geof malah diam memperhatikan Winda diam diam.


"Tuan kau mau buah apa? Aku sudah membeli beberapa macam buah apa ada tambahan lagi?". Tanya nya melirik Geof.


"Tidak". Jawab Geof datar tanpa eskpresi.


Mendapatkan respon itu tentu Winda sudah biasa, bayi gede itu kadang baik sekali sangat ramah, bisa juga sangat romantis dan datar tanpa eskpresi. Sangat susah di tebak.


"Oiya aku lupa". Ujar Winda yang menghentikan langkahnya saat sudah mendekati kasir". Ucap winda menepuk jidatnya.


"Ada apa?". Tanya Geof heran.


"Aku lupa mengambil pisang, pisang sangat banyak manfaatnya dan sangat enak, tunggu sebentar ya". Ujar Winda pergi untuk mengambil buah yang di maksud.


Mendengar kalimat itu senyuman menyeringai jahil mengembang dengan sempurna di bibir tampan itu.


"Hmm ternyata gadis di sebelah ku sangat suka dengan pisang". Ujar Geof tanpa melirik si empu.


Tidak merespon,


"Apa kau mau pisang yang lebih nikmat dari pisang yang kau beli?". Lanjut Geof.


"Pisang yang lebih nikmat? Pisang apa?". Tanya polos Winda yang tidak paham dengan maksud nakal Geof.


"Kau ingin tahu?". Tanya Geof memastikan dengan cepat Winda mengangguk kan kepala nya.


"Iya mana dia"?". Tutur Winda penasaran pisang apa yang lebih lezat dari pisang yang ia beli.

__ADS_1


Belum sempat menjawab pertanyaan Winda.


"Kakak,,,". Panggil seorang wanita hamil yaitu Clara sang adik tercinta yang sedang memegangi jari mungil Cilla yang merengek ingin ikut aunty nya.


Melihat Clara yang langkah nya mulai di perbesar ingin segera menghampiri Geof, membuat si empu tidak tega melihat Clara yang sudah mulai susah berjalan dengan cepat Geof menghampiri si adik kesayangannya.


"Aku sangat merindukan mu kak". Ujar Clara langsung memeluk Geof.


"Aku juga sangat merindukan adik manja ku yang kini sudah tidak manja lagi dan akan menjadi mommy". Ucap Geof merangkul pundak Clara.


"Hyy Cilla". Sapa Winda


"Hyy Tante cantik". Jawab bocah itu menggemaskan.


"Hmm bagaimana kita mencari tempat untuk duduk dulu kasian Clara pasti lelah berdiri dan lihat lah Cilla pipi nya memerah akibat sinar matahari". Ujar Winda di tengah asik nya perbincangan kakak dan adik itu.


"Ah iya benar benget kamu sangat pengertian". Puji Clara.


Mereka pun pergi ke tempat di mana di depan supermarket tersebut ada caffe minimalis.


mata bocah perempuan itu menangkap sebuah pemandangan yang sangat menggiurkan kan, dari dulu ia sangat suka dengan makanan manis yang berbentuk Kapas dan bewarna pink. Dari dulu walaupun hidup nya sangat susah tetapi sang nenek selalu membelikan nya ketika ada rezeki.


melihat itu dirinya merasa sedih di mana sang nenek kini telah menjadi bintang yang sangat cerah, pikir Cilla menatap langit yang cerah kala itu.


Cilla yang sudah tergiur dengan gulali kapas yang di seberang jalan dirinya tak menghiraukan sekeliling yang membuat ketiga orang dewasa itu lalai terhadap bocah perempuan yang berumur tiga tahun itu.


"Cilla!!!" Teriak Geof, Clara, Winda bersamaan.

__ADS_1


__ADS_2