Terjerat Bayangan Cinta Polwan

Terjerat Bayangan Cinta Polwan
Dia kembali


__ADS_3

"bagaimana nak kau menyukai Cici?" tanya perwira Wisnu kepada Elfathan, Cici yang sedang meneguk Ari putih kesedak mendengar perkataan Perwira Wisnu.


"ayah!" kode El dengan wajah datarnya untuk berhenti menjodohkan nya kepada wanita manapun, ya walaupun wanita di hadapan nya sangat cantik tapi kini hatinya sudah di isi oleh seseorang yang di masa lalu yang tidak tau entah kemana kini ia berada.


"maaf kan kata kata ayah ku ci, dia tidak bermaksud apa-apa" jelas Elfathan


"tidak apa El" balas Cici dengan senyum yang memabukkan pria.


di sela sela perbicangan mereka, Cici menghentikan tatapannya ke salah satu mobil yang berhenti karena lampu merah di jalanan itu. tanpa ia sadari senyuman manis terukir di wajahnya begitu saja hanya senyuman yang bisa ia gambar kan betapa rindunya dengan sosok manusia itu.


ingin sekali memanggil nya tapi Cici sadar apa hak nya, siapa kah aku baginya? ingin rasanya memeluk makhluk ciptaan Tuhan itu, tapi ia tepis keinginan itu mentah mentah.


kau kenapa ci, tolong jaga sikap mu ci, kau perempuan jaga harga diri mu (batin Cici).


"Cici kau kenapa?" tanya El yang melihat Cici melamun sambil tersenyum memandangi jalan raya.


"ti-tidak" ujar nya gugup.


***


"Lo kenapa ci, dari tadi gue perhatiin melamun Mulu" tanya Winda melihat Cici bengong di meja makan seraya membuka pintu kulkas untuk mengambil minuman dingin .


"dia sudah kembali win" ujar Cici


mendengar kata dia kembali dari Cici, Winda berpikir keras mengingat maksud nya Cici, seperkian detiknya ia paham maksud Sahabat nya itu


"wow bagus deh dia udah kembali akhirnya sahabat gue GK galau lagi GK kek mayat idup sayy" ujar Winda yang mendapat tatapan tajam dari Cici.


"hmm hehehe kan gue emang bener ci, baru juga sebulan Lo ditinggal bagaikan hidup segan mati tak mau" lanjut Winda tidak menghiraukan pandangan Cici.


pletakk


pukulan dengan sendok makan dari Cici pun mendarat di jidat Winda.


"aww" ringis Winda mengelus jidat nya


"eeh apa Lo GK kangen apa ma dia? Lo GK ketemuan gitu? pelukan gitu?" lanjut Winda dengan memasang wajah iba nya


"auakh malas gue bahas nya" ujar Cici beranjak berdiri berjalan menuju kamar nya.

__ADS_1


.


.


.


.


di meja makan malam ini Cici enggan berbicara hanya diam menikmati makanannya hanya saja Winda yang tak henti-hentinya mencerotos trus tidak ada kata lelah untuk berbicara .


"gue ngomong Lo diam" kesal Winda memasang wajah cemberut.


"sorry Win, gue lagi malas aja" ujar Cici, mendengar perkataan Cici Winda hanya diam dan mengerti maksud nya.


saat makan malam selesai, mereka berdua kembali ke kamar.


Ting tong ting tong


bel pintu apartemen berbunyi pertanda ada tamu.


"win buka pin.." belum sempat Cici menerus kan perkataannya Winda sudah menyela.


"gue butuh kamar mandi segera, jadi Lo aja yang buka ci" teriak Winda terburu-buru ke kamar mandi.


CEKLEKK.


srettttt Cici terkejut dengan seseorang yang ada di hadapannya yang langsung memeluk menarik Cici kedalam pelukannya.


"maaf kan aku kerena tidak ada kabar" ujar Al yang masih memeluk Cici.


betapa ia sangat merindukan aroma tubuh itu, Cici pun tanpa sadar membalas pelukan itu. mereka berpelukan tanpa mengatakan sepatah kata pun, sampai Winda datang yang mengagetkan mereka berdua.


"upss" ujar Winda terkejut seraya menutup mulutnya dengan kedua tangannya


"seperti nya aku datang di waktu yang salah" lanjut nya dengan cengengesan.


"maaf aku sudah lancang memeluk mu Cici" ucap Al dengan perasaan bersalah.


"hmm ti-tidak apa apa" jawab Cici kikuk, sebenarnya ia merasakan bahagia akhirnya sekian lamanya tidak bertemu sekarang bisa memeluk nya.

__ADS_1


"sebenarnya mah Cici seneng di peluk,diakan..." sebelum menyelesaikan kalimatnya Cici sudah dulu membungkam mulut Winda dengan tangan nya.


"CK, kebiasaan banget deh Lo selalu potong- potong kalimat gue" kesal Winda


"berisik Lo " ketus Cici seraya menatap tajam kearah Winda.


"saya tidak di izin kan untuk duduk terlebih dulu?" ucap Al sambil tertawa melihat perdebatan kecil kedua sahabat itu.


"eeh sorry tuan, silahkan duduk" ujar Cici cengengesan.


setelah duduk mereka bertiga terdiam entah memikirkan apa.


karena Winda paham mungkin mereka butuh waktu untuk berbicara empat mata, dengan segera Winda beranjak ke kamar meninggalkan mereka berdua di ruang tamu.


"Cici" ujar Al yang bersebelahan dengan Cici


"aku minta maaf karena aku tidak menemui mu ketika ku ingin pergi" lanjut nya.


"tidak apa-apa tuan" jawab Cici, sebenarnya ia bingung dengan sikap Al yang kini begitu hangat saat bertemu nya, ada perasaan bahagia tetapi juga rindu dengan sikap perdebatan itu.


"emang anda kemana selama sebulan ini" tanya Cici penasaran.


"aku pergi ke sebuah desa di kota terpencil untuk menangani pasien yang terkena wabah penyakit, karena dokter disana membutuhkan bantuan tidak banyak dokter yang sehat" jelas Al yang di anggukan kepala oleh Cici bahwa dia paham.


diam dan diam tidak ada topik di antara mereka,. Al yang terkesan pendiam, cuek, dingin entah bagaimana cara meluluhkan hati wanita di hadapannya itu, Cici yang biasa bawel bin cerewet entah kenapa kehilangan suara nya ketika sudah berhadapan dengan pria itu.


"new page?" tanya Al mencairkan suasana dengan tatapan serius penuh harap


Cici yang menganga mendengar perkataan Al itu,


apa maksudmu? barusan anda bilang apa? lembaran baru?


"maksud ku mau kah kita buat lembaran baru? kita mulai dari sekarang, malam ini jam ini detik ini"


jelas Al seraya menggenggam tangan cici


apakah Cici mau menerima tawaran Al/Aldrich?


apa maksudnya Al memberi tawaran itu?

__ADS_1


bisa kah Cici membeda kan yang mana pria yang ia tunggu?


hyy reader tercinta, Jangan lupa vote, like ya karya aku🥰 agar aku semakin semangat buat up nya,, terimakasih yang udah like,vote,🥰🥰


__ADS_2