
Di perjalanan pulang.
Pria paruh baya tuan Raymond, sangat bingung bagaimana cara menjelaskan tentang ini semua kepada putri kesayangannya, Feren. mengenai keberadaan ciysa cucunya, apakah Feren bisa menerima alasan yang dirinya buat?.
perjalanan dari bandara menuju rumah hanya memakan waktu kurang lebih 10 menit, jarak rumah - bandara terbilang sangat singkat,
Feren yang mendapat kabar kepulangan orang yang ia nantikan membuat nya sangat bahagia.
tentu bahagia, siapa yang tidak bahagia ketika hari ini takdir memberikan kesempatan untuk dirinya bisa melihat wajah putrinya dari sekian tahun lamanya.
sibuk berkutat dengan peralatan masak di dapur, Feren hari ini sangat bersemangat untuk membuat menu makanan kesukaan keluarga nya, ia melarang para koki membantu nya memasak, ya sesering apa koki menawarkan bantuan untuk membantu feren masak, tawaran itu do tolak mentah-mentah oleh nya,
kebahagiaan yang sudah lama hilang dari rumah itu kini nyonya rumah sudah bisa tersenyum kembali, mendapatkan semangat baru saat mengetahui bahwa kedua putrinya masih hidup.
para pelayan rumah bak istana itu sudah menanti di pintu utama untuk menyambut kedatangan majikan mereka, tuan Raymond Pranda.
Raymond begitu takjub dengan sambutan hangat oleh mereka, senyuman ramah yang terukir di bibir Pria tua itu tanda terimakasih,
terkejut? tentu.
siapa yang tidak mengenal tuan Raymond Pranda seorang pria paruh baya yang tidak memiliki hati dan belah kasih terhadap orang lain, jangan kan orang lain untuk putri nya saja masih di ragukan, tetapi melihat lengkungan tipis yang ada di bibir Raymond membuat para pelayan begitu bahagia.
apalagi sang kepercayaan, jeo. semenjak bertemu nya dengan Cici membuat perubahan besar terhadap Raymond,
akan kah harapan untuk bisa bertemu kembali dengan Cici masih ada? apakah yang maha kuasa memberi nya umur panjang untuk bisa berkumpul merasa kan hangat nya keluarga bahagia?.
entahlah, siapa yang tahu umur. umur, rejeki, dan jodoh sudah di atur oleh sang pencipta. sebagai hambanya hanya bisa berdoa meminta yang terbaik.
Raymond menatap rumah bak istana nya yang sudah di hiasi dengan balon balon bewarna putih dan biru, ukiran nama yang terbuat dari kayu yang di chat bewarna gold yang semakin menambah kesan mewah terhadap hiasan itu.
ukiran itu bertuliskan: welcome dear mother.
terlihat jelas oleh jeo wajah Raymond yang menahan kesedihan.
apalagi dengan feren, kalau ia tahu bahwa dirinya tidak berhasil membawa ciysa kemari.
"di mana feren" seru Raymond mulai bersuara karena ia belum melihat keberadaan putri Nya.
"nyonya ada di dapur tuan, nyonya sedang memasak makanan untuk tuan dan putri nya?" jawab kepala pelayan tersebut.
__ADS_1
"apakah semua hiasan dan sambutan ini feren yang menyiapkan" ujar jeo menatap seluruh bagian yabg di hiasi bak ulang tahun.
"benar tuan" jawab nya,
berjalan menuju dapur Dimana Feren sedang bermain dengan peralatan masak nya, ada kebahagiaan dengan melihat feren yang memasak sambil tersenyum, bersenandung dan bercerita.
iba,
melihat feren susah payah kerja keras untuk ini semua tetapi nihil, orang yang di nanti untuk saat ini tidak bisa datang.
dari manakah dirinya menjelaskan ini? setelah ini akan kah kesehatan feren akan kembali buruk?.
jangan, semoga tidak.
dirinya tidak sanggup melihat putri nya menderita kembali, cukup, sudah cukup kesalahan itu membuat nya kehilangan senyuman feren karena keegoisan dirinya sendiri.
melihat kedatangan tuan Raymond di dapur membuat tubuh para koki lemas tanpa tenaga, alangkah murkanya ketika membiarkan nyonya rumah memasak,
dapat di pastikan para koki akan di pecat,
berjalan menghampiri Raymond dengan wajah pucat, membungkuk kan sedikit badan tanda memberi hormat,
"hmm, tidak masalah selagi itu membuat nya merasa bahagia, biarkan" ujar Raymond tersenyum ramah seraya menepuk pundak koki itu, ia tahu koki di hadapannya sedang ketakutan.
mendapat respon positif dari Raymond membuat mereka lega,
menatap asisten kepercayaan Raymond yaitu jeo, ia adalah sahabat nya selama ini saat masih setia mengabdi kepada keluarga Raymond, Seperti tidak percaya dengan apa yang ia lihat hari ini, senyuman yang menghilang semenjak dua puluh empat tahun lalu kini sudah kembali.
"sudah selesai, hmmm wangi nya" ujar feren semangat mencium aroma masakan yang mengunggah selera.
"wow aroma nya membuat ku lapar" suara Raymond tiba-tiba muncul,
"ayah!!!" seru feren memeluk Raymond.
"bisakah kita makan sekarang, Harumnya membuat ku tidak bisa menahan lagi" lanjut sambil terkekeh.
"tentu, ayo" jawab feren merangkul Raymond berjalan menuju meja makan.
"tunggu sebentar aku akan mengambil sambel nya" ucap feren kembali ke dapur.
__ADS_1
Jeo yang sudah duduk menyaksikan kebahagiaan itu, sungguh tidak tega menahan diri lagi.
"tuan, sebaiknya kita harus bilang kepada feren kalau ciysa tidak kemari!" jeo yang mulai bersuara, ia tidak tega melihat senyuman feren bertahan lebih lama lagi itu akan membuat hati nya semakin terluka lebih dalam.
"bagaimana cara memberi tahu nya jeo? apa aku harus bilang kita sudah bertemu dengan anaknya tetapi ciysa tidak mengenali siapa kita Disana" ujar Raymond memijit pelipisnya yang merasa sedikit pusing.
BRAKKK
mendengar percakapan mereka membuat tubuh feren melemah tiada tenaga, sehingga mangkuk yang berisi sambel yang ia bawa jatuh tumpah berserak di lantai.
"A- apa a- ayah tidak membawa anak ku ke- kemari?" tanya feren gugup yang masih berdiri di tempat.
"kemarilah!" pinta Raymond
" jawab pertanyaan ku ayah, kenapa? aku sangat menanti kehadiran nya ayah" ucap feren sedikit menaikkan suaranya tidak menghiraukan pinta Raymond.
"kemari lah! ayah akan menjelaskan nya, apa kau tidak mau mendengar perkataan ayah terlebih dahulu nak?" ujar Raymond dengan suara lemah nya , ia tidak mau mengikuti emosi nya itu akan membuat keadaan semakin memburuk.
ya!, berbicara dengan emosi bukan cara yang benar untuk menyelesaikan masalah tetapi dengan kepala dingin, itu membuat kita bisa berpikir jernih dan tenang sehingga kita bisa mendapatkan solusi yang tepat.
dengan langkah berat feren menghampiri Raymond duduk di sebelah nya,
menggenggam tangan feren Raymond mulai bersuara.
"kami sudah menemukan dimana Ciysa, ia kini menjadi seorang polisi yang cantik, bijak, dan pintar seperti dirimu, alesya putri kedua mu kini di London bersama kenric. Aku sudah dekat dengan ciysa tetapi aku takut untuk saat ini memberi tahu nya bahwa aku adalah granpa nya" ujar Raymond lembut.
"kenapa ayah? kalau ciysa tahu pasti dia akan bahagia bisa bertemu kembali dengan bunda nya" kata feren dengan mata berkaca-kaca.
"bahagia tentu bahagia saat tahu bunda nya masih hidup, tetapi setelah itu ia akan sangat kecewa mengapa dirinya di pisahkan dari bundanya, mendengar penjelasan dari ku tentang kejadian masa lalu dengan mengorbankan kebahagiaan dirinya maka dia akan benci dengan ayah, dengan Granpa nya sendiri. Itu pasti membuat nya tidak mau bertemu dengan ku lagi dan tidak akan bisa kemari nak, kita tunggu waktu yang tepat untuk menjelaskan ini semua, maaf kan ayah yang egois, tapi untuk saat ini Tolong mengertilah maksud ayah" jelas Raymond menetes kan air matanya.
mendengar penjelasan itu, ada benarnya yang dimaksud Raymond, feren yang masih terdiam mengolah kata kata Raymond di benak nya,
"aku mengerti untuk saat ini, aku sudah memaafkan ayah kita lupa kan masa lalu kini kota mulai lembaran baru,,, tapi ayah harus berjanji untuk membawa anak-anak ku kemari" kata feren memeluk Raymond .
"janji" kata nya langsung membalas pelukan feren.
melihat perubahan sikap feren yang kini sudah sangat membaik membuat jeo semakin lega, apalagi kini respon Feren yang bisa mengerti perasaan Raymond.
ia berharap masalah berpuluh puluh tahun dalam keluarga ini dapat terselesaikan tanpa mengorbankan kebahagiaan siapapun.
__ADS_1