
"kau begitu menghawatirkan dirinya?" tanya El melihat Winda mondar mandir berdoa untuk keselamatan Geof.
mengehentikan langkah nya lalu menatap wajah El dengan mengerutkan keningnya
"bagaimana aku tidak menghawatirkan dirinya, dia sudah mengorbankan nyawanya hanya untuk bisa menyelamatkan aku" ujar Winda langsung duduk di depan kursi ruangan.
"hmm kau benar, sepertinya laki laki tadi sangat tulus menolong mu, sehingga ia rela mengorbankan nyawa nya sendiri kalau tidak menganggap dirimu penting dalam kehidupan nya" kata El berusaha menampilkan senyum nya.
tidak ada tanggapan lebih dari Winda yang ia harapkan kini kesembuhan Geof.
perasaan tetap lah perasaan.
ya walau bertahun lamanya kita berpisah.
tidak bersama, tidak sedekat dulu
tetapi.
perasaan itu masih ada.
masih sama.
hanya untuk mu lipop.
sekuat ku berusaha untuk melupakan kenangan indah dulu,
semakin susah menghapus jejak-jejak itu.
kini aku harus apa?
aku berharap kita segera di pertemukan Untuk memulai lembaran baru lagi,
walaupun yang pertama gagal,
terhalang oleh cita cita ku
dan keinginan orang tua ku.
kini aku sudah sukses
aku sudah jadi orang yang akan membuat mu bahagia,
__ADS_1
tapi mengapa aku datang ketika kau sudah melupakan masa lalu mu,
ketika hati mu tidak lagi untuk ku
melainkan untuk laki laki yang rela mengorbankan nyawa nya dengan masih bisa menampilkan senyuman,
agar dirimu tidak khawatir.
kini aku bisa apa win?
apakah aku harus berjuang Atau meng iklhas kan?. batin El tanpa sadar ia meneteskan cairan bening.
***
dari pagi menjelang siang Cici yang menunggu Winda sampai-sampai ia sudah menghabiskan cemilan yang mungkin baru saja di beli oleh winda.
merasa kesal sembari tadi di tunggu tak kunjung datang, di telpon ponsel nya tertidur pulas di atas nakas sebelah ranjang nya.
"kemana Lo win? apa sampai berlumut disini gue nungguin orang yang belum tentu datang untuk menghampiri gue. ya ampun bisa bisanya dalam keadaan gini nge-puitis" ujar Cici memutuskan segera keluar dan meninggalkan apartemen Winda.
sebelum berangkat ke kantor Cici menyempatkan diri untuk menjenguk granpa, karena Hari ini Raymond sudah boleh keluar dari rumah sakit.
***
"apakah anda yakin tuan dengan keputusan ini" tanya jeo memastikan, bagaimana tidak ia sudah bekerja keras mengerahkan seluruh anak buah nya dan mengeluarkan uang cukup banyak, ketika apa yang di cari sudah di depan mata, mengapa mundur ketika sedikit lagi finish,
"kau tau aku kan jeo? aku tidak pernah main-main dengan ucapanku sendiri" ujar Raymond tegas.
"maaf kan saya tuan, kalau itu keputusan mu maka kami akan melakukan nya" ujar jeo mau tidak mau dia harus mengalah, tetapi ada benarnya apa yang di katakan Raymond, memberitahu Cici tentang siapa Raymond sebenarnya pasti akan membuat Cici shock,
"tapi dia harus tau kalau dia adalah cucu mu tuan!' lanjut jeo penuh penekanan, jeo Hanya ingin melihat Raymond Yang sudah dia anggap sebagai kakak nya itu bahagia dari hitam nya masa lalu.
"siapa yang harus tau kalau dia cucu granpa? maksudnya granpa?" tanya Cici terkejut mendengar perbincangan serius di antara dua pria paruh baya itu,
membuat Raymond menatap tajam ke arah jeo yang hampir saja tidak menyebutkan nama cucu nya,
"kemari lah nak" kata Raymond menepuk kasur nya dan memberikan kode kepada beberapa anak buah nya termasuk jeo untuk meninggalkan mereka berdua memberi ruang untuk berbincang bincang.
Cici mendekat lalu duduk di sebelah Raymond.
"apa maksud granpa malam itu granpa sedang ada masalah dengan cucu granpa?" tanya Cici mengingat pertemuan pertama dengan Raymond waktu di taman malam itu.
__ADS_1
"ya, lebih tepatnya dia tidak tau bahwa dia memiliki granpa" ujar Raymond
"wow, pasti itu akan membuat nya terkejut setelah tahu, emm bisa di sebut suprise tapi" ucap Cici menggantung agak ragu melanjutkan kalimatnya.
"tapi apa,?" tanya Raymond penasaran.
" pasti dia akan kecewa suatu saat nanti kalau ia tahu, ya aku tidak tau apa alasan granpa untuk menyembunyikan itu,, aku berharap semua akan baik-baik saja" jawab Cici memasang senyuman manis nya.
"kau selalu membuat ku tenang dengan kata kata yang kau lontarkan" gumam hati Raymond mengelus rambut Cici.
"oiya granpa hari ini sudah bisa pulang kan? kalau gitu aku mau mengantar kan granpa boleh?"
"granpa sudah boleh pulang, tapi granpa akan kembali ke Malaysia nak hari ini" ucap Raymond membuat Cici terkejut
"kenapa mendadak?" tanya Cici, ia merasa sedih saat tau Raymond akan pergi,
baru saja aku merasa kan hangat nya memiliki granpa, seperti teman ku Yang lain. Tapi mengapa hanya sebentar mengapa orang yang aku sayang selalu pergi, apa tidak boleh aku merasakan kebahagiaan itu untuk sebentar lagi saja?. batin Cici menahan bendungan air matanya.
"karena granpa ada urusan penting yang tidak dapat di tinggalkan begitu saja" jawab Raymond lembut ia bisa melihat kesedihan di mata cucu nya itu, ada rasa bahagia karena Cici mulai merasa nyaman saat bersama nya
"nanti kalau waktu nya sudah tepat, urusan granpa selesai, aku akan kembali kesini dan membawa mu kerumah Ku untuk bertemu dengan Putri kesayangan ku" lanjut dengan perhatian agar Cici mengerti.
"baiklah kalau begitu" ucap Cici memaksa melengkung kan senyuman, ia tidak ada hak untuk melarang pria paruh baya yang ada di hadapannya nya itu, toh dia merasa aku bukan siapa-siapa, apa hak ku,.
"hari ini hari terakhir ku berada disini dan bertemu dengan Cici cucu kesayangan ku, apa aku boleh memeluk mu nak, sebentar saja" kata Raymond yang dapat persetujuan dari Cici
di dalam pelukan hangat di sekian kalinya kenyamanan yang masih sama Cici menumpahkan cairan bening yang tidak dapat di tahan lebih lama lagi,
"pasti aku akan merindukan mu granpa"
"aku juga akan merindukan cucu ku" ujarnya mencium kening Cici sebelum pergi meninggalkan Cici dirumah sakit, Raymond tidak ingin membawa Cici pergi untuk mengantar kan dirinya itu akan membuat nya merasa berat untuk pergi.
kebetulan ini rumah sakit Al, ia memutuskan berjalan menuju ruangan milik Al untuk berbagi cerita hari ini,
saat berjalan dengan langkah Santai Cici menyipitkan matanya untuk melihat perempuan yang duduk di depan pintu IGD memandang ke arah depan seperti kehilangan arah.
"Winda? kenapa dia?" gumam cici
Dengan segera ia berlari menghampiri Winda
"Winda" tegur Cici merasa iba melihat wajah winda yang sudah sembab.
__ADS_1
"ada apa ini?" tanya Cici pelan menggenggam tangan Winda.
Winda pun menceritakan kejadian yang menimpa dirinya dan Geof, menangis tersedu-sedu di dalam dekapan Cici, betapa terkejutnya mendengar kronologi kejadian itu, bisa terasa Winda sangat gemetaran,