
"bisakah kau menemaniku disini sebentar? kalau tidak juga tidak mengapa" ujar Al yang masih betah memegang tangan dokter celsie dengan sedikit menampilkan senyuman paksa.
tidak ada angin tidak ada hujan, hari apa ini? sebuah keberuntungan yang langka menghampiri diri celsie. Bagaikan mimpi, pikir celsie yang detak jantung nya di dalam seperti mengadakan lomba lari.
celsie yang masih bahagia dalam diam, dirinya sadar saat Al sudah melepaskan tangannya.
"ah, iya baiklah" kikuk cel seraya duduk di samping Al.
beberapa saat tidak ada topik, entahlah. Ada apa dengan Al yang menyuruh dokter cantik itu duduk tetapi tidak mengajak nya bicara.
"dok!" ujar Al dan celsie bersamaan.
"iyaa, kau saja Luan" ujar mereka sekali lagi kompak. disambut tertawa renyah oleh mereka berdua.
cieee kompak hati hati dok nanti nyaman Ama dokter cantik😂.
"kau sangat cantik saat tertawa cel, hah? apa yang barusan kau bilang Al, sadar lah!" gumam batin Al menatap wajah dokter celsie yang sedang tertawa.
anda kemana saja dokter Al, baru sekarang dirinya sadari wanita di hadapannya itu tak kalah cantik dari Cici,
disaat melihat nya tertawa ada sedikit rasa bahagia, pikir Al seraya mengalihkan kan pandangan nya ke arah depan.
hmm ada apa ini.
"cel!" panggil Al menatap cel. serius, kini keadaan sudah mulai ke arah topik serius.
"apa kau pernah mencintai seseorang?" tanya Al menatap netra mata cel dalam.
mendengar kata mencintai membuat celsie sedikit terluka, mengapa dia menanyakan soal cinta kepada ku?.
"a-aku.. ah, iya dok. Aku pernah jatuh cinta, cinta itu sangat indah ketika datang di orang yang tepat". jawab Celsie menatap kosong ke arah gedung rumah sakit.
"ke orang yang tepat? maksud mu bagaimana?". kata Al menatap cel dengan menyerngitkan dahinya.
cel beralih menatap Al dengan seulas senyuman nya.
"ya dok, ketika kau jatuh cinta ke pada orang yang tepat maka cinta itu akan terbalas, betapa indah dan bahagia nya kita ketika cinta itu terbalas bukan?" tanya cel kepada Al yang setia mendengarkan kata celsie, yang di jawab anggukan kepala oleh Al.
__ADS_1
"dan ketika seseorang yang kita cintai mencintai orang lain hati kita akan sakit, terluka, marah, kesal, perih. tapi satu hal cinta tidak harus memiliki. Dan level tertinggi mencintai seseorang adalah merelakan dirinya bahagia walaupun bersama orang lain. Itulah cinta ku dok" lanjut Celsie tanpa ia sadari cairan bening mengalir membasahi pipi nya.
betapa bijak nya wanita yang ada di samping Al, sehingga Al mendapatkan jawaban dari terluka nya hati, sungguh takjub melihat keikhlasan hati celsie.
Al menyerka air mata cel dengan tangan nya itu.
membuat cel semakin kaget dengan sikap nya, celsie semakin cemas akan hati nya.
"Kalau terus begini bagaimana aku bisa melupakan dirimu dokter Al". batin celsie menatap pria di sebelah nya.
cel dapat melihat dari mata Al bahwa dirinya sedang sedih.
"Apakah ada sesuatu dok? kenapa kau terlihat sedih? cerita lah aku akan sangat senang mendengar nya!" ucap cel menerbitkan senyum manis nya seraya tanpa sengaja menggenggam tangan Al.
Al menatap tangan nya yang di pegang dok cel.
"ma-maaf kan saya dok, saya tidak bermaksud" ujar cel tidak enak dengan menundukkan kepalanya seraya melepaskan genggaman nya.
Al memegang dagu celsie dan mengangkat wajahnya dengan jari nya.
"kau bisa melihat kesedihan ku?" tanya Al yang di jawab anggukan oleh dokter celsie.
"aku mencintaimu dengan tulus dokter Al, aku tidak mengharapkan apapun balasan apapun dari cinta ku, aku bisa merasakan sakit dan bahagia mu dok" gumam batin cel.
di sisi lain.
"Cici!" panggil Winda.
saat ini mereka berdua telah sampai di apartemen pribadi Cici.
"aku ingin sendiri win, keluar lah" ucap Cici dengan malas berdebat dengan Winda.
"tunggu Cici! dengar kan aku" pinta Winda yang masih mengikuti langkah Cici.
"aku ingin istirahat nanti kita bicarakan lagi masalah ini" ujar Cici melanjutkan langkahnya ke dalam kamar nya.
"kau egois ci! aku tidak mengenal sifat egois mu ini , kau pengecut kau hanya memikirkan diri mu sendiri. Seenak jidat mu saja mempermainkan perasaan dua saudara kembar itu, kau tidak punya hati kau melukai perasaan mereka." teriak Winda dari lantai satu.
__ADS_1
Cici yang sudah sampai di ujung anak tangga memberhentikan langkah nya, memutar tubuhnya menghadap ke arah Winda.
"apa maksud mu?" ucap Cici menatap tajam dengan mata berkaca-kaca ke arah Winda yang sudah puas mengeluarkan kekesalan nya melihat tingkah cici.
"apa kau tidak mendengar perkataan ku tadi" ucap Winda berjalan mendekati Cici.
"kau tidak mengerti perasaan ku win, kau hanya melihat!" teriak Cici kesal, sedih, bercampur menjadi satu.
"takdir mempermainkan diri ku win" ucap Cici tidak tahan membendung air mata nya lagi.
"kau salah Cici, takdir berpihak kepada mu, dia tahu yang terbaik untuk mu" jelas Winda memegang pundak cici.
"apa maksud mu"
"aku tahu kau masih mencintai tuan Bert, makanya takdir memberikan pertanda ini, inilah jalan kalian agar kalian bersatu" jelas Winda.
"aku sudah menghancurkan persaudaraan mereka". kata Cici yang mengingat Aldrich dan Albert baku hantam.
"aku sudah membuat mereka sakit hati, aku tidak pantas untuk mereka. aku ingin pergi jauh, cukup ini semua aku tidak sanggup hidup di dalam dilema kepura - puraan." Isak Cici lari masuk kedalam kamar nya.
menghempaskan tubuhnya di atas ranjang.
"Cici, itu tidak benar, itu salah. tidak ada hak untuk melarang siapapun untuk mencintai seseorang Cici. tetapi satu hal kalau kau tidak mau menikah dengan tuan Bert, maka tuan Dalbert Danendra akan malu oleh khalayak ramai Cici mereka orang terpandang. apa kau tega melihat mereka di permalukan akibat ulah mu?" jelas Winda panjang lebar berusaha membujuk Cici agar tidak menghancurkan rencana dirinya dan Clara yang beresiko ini.
Cici hanya menangis tersedu-sedu.
mencari ide, berusaha membujuk Cici.
"kalau kau hamil bagaimana? apa kau mau anak mu tidak memiliki Daddy?" ide cemerlang muncul di otak Winda.
deg.. deg..
perkataan Winda seolah bagaikan petir yang menyambar di siang hari.
"hamil?" lirih nya memegangi perut nya yang datar itu.
"ya hamil, apa kau ingin dirinya tidak mendapatkan kasih sayang orang tua yang lengkap Cici!" tegas Winda yang ingin tertawa melihat ekspresi wajah Cici.
__ADS_1
sebenarnya dirinya tidak tega, tetapi percayalah ini lah jalan yang terbaik untuk Cici, pasti dia akan bahagia kelak dengan Bert.