
di sisi lain.
"apa?" ujar pria paruh baya itu ketika mendengar perkataan sang kepercayaan Nya.
"iya tuan itu benar". jawab sang kepercayaan.
"apa kau tidak salah orang Jeo atau informasi?". tegas nya.
"tidak tuan, tidak mungkin aku salah percaya lah dan ini buktinya, lihat lah". jawab Jeo seraya mengulur kan ponsel pribadi nya kepada tuan Raymond.
mengambil ponsel tersebut,
betapa sedih nya relung hati si pria tua itu, cucu nya menikah tidak memberi tahu dirinya.
eits,,, sebentar. Apa tadi? cucu?. hahaha sangat lucu bukan akhir nya kehadiran wanita kesayangan semua org itu Cici, kini telah di anggap cucu oleh orang yang tidak punya hati.
"tuan!". Tutur Jeo melambai-lambai kan tangan nya di depan wajah Raymond yang sedang melamun.
"mengapa dia tidak memberitahu diriku? bukankah dia sudah menganggap ku Grandpa nya? dan bahkan sebelum aku pergi aku memberikan nya selembar kertas yang di dalamnya ada nomor telepon rumah ini dan alamat ku Jeo". jelas nya menatap Jeo dengan sedikit pilu.
"mungkin dia sibuk sehingga dia lupa tuan atau dia takut tuan akan kelelahan nantinya". ujar Jeo berusaha menenangkan pria tua yang hadapannya.
di bawah balkon kamar tuan Raymond ada seseorang yang sedang memata matai mereka dan mendengarkan perbincangan hangat itu, 50 tahun itulah gambaran usia bagi laki laki yang menguping percakapan tersebut.
tersenyum smirk, alangkah beruntungnya kala itu pria tersebut yang menerima panggilan dari luar negeri, Yap benar, telpon tersebut dari Cici yang ingin memberitahu sekaligus ingin mengundang tuan Raymond Pranda untuk berkenan hadir di pernikahan nya yang kini sudah ia anggap sebagai Grandpa nya.
panggil saja pria licik ini dengan sebutan Toni Pranda, kakak dari feren, paman Cici dan lili. sudah puas menguping Toni memutuskan untuk pergi kembali ke kantor nya.
sisi lain.
__ADS_1
dari luar pintu yang tidak tertutup itu, feren mendengar jelas perbincangan ayah dan paman nya, Sedih. itulah yang di rasakan feren, relung hati kecil nya menangis pilu betapa kejamnya dirinya tidak mengetahui dan hadir ikut serta dalam pernikahan putri sulung nya.
apakah dia tahu bunda nya masih hidup? mungkin tidak, akulah ibu yang paling jahat.
berjalan memasuki kamar Raymond, feren bersimpuh di kaki ayah nya yang masih terduduk di kursi roda.
"ayah aku mohon, izin kan aku pergi menemui Putri ku, aku sudah tidak bisa menahan nya lagi". ucap nya menangis terduduk di lantai menatap sang ayah.
melihat itu Jeo permisi untuk keluar, dia tahu mereka membutuhkan waktu berdua.
"hati ku pilu, mendengar bahwa Putri ku sudah menikah tanpa diri ku ayah, Tolong aku jangan larang aku lagi, cukup ini sudah cukup membuat ku gila, hati siapa yang tidak hancur mendengar ini, bahkan Putri ku dia tidak tahu kan aku hidup?". tanya nya di jawab gelengan kepala oleh Raymond.
semakin tergores dalam.
"aku mohon ayah, aku tidak akan bisa hidup tenang sebelum bertemu dan meminta maaf kepada kedua putri ku, aku lelah seperti ini,, hiks hiks hiks". lirih nya semakin pilu.
"pergi lah". jawab Raymond mengelus rambut putri nya.
"ayah mengizinkan ku untuk pergi". tanya nya tidak percaya.
"pergilah dan bawa cucu cucu ku kembali aku juga merindukan mereka". jawab Raymond seraya menetes kan air Matanya.
aku datang.
alangkah senangnya feren, seolah beban nya selama ini perlahan hilang.
...****************...
"mengapa kau melakukan nya?" tanya seorang Pria dewasa dengan tegas yang baru saja datang keruangan Toni.
__ADS_1
menyerngitkan dahi. "apa maksudmu? apakau tidak memiliki sopan santun dan etika ketika memasuki ruangan seseorang, apalagi aku yang lebih jelas bos mu". tegas Toni kesal.
"tentu aku tahu kau adalah bos ku, tapi kini tiba tiba aku lupa bahwa kau adalah bos ku". ujar pria dewasa yang mungkin 2 tahun lebih muda dari Toni.
"hy sebenarnya apa yang kau mau? sudah ku bilang jaga etika mu atau aku tidak segan-segan memecat dirimu, cam kan itu". ucap Toni menarik kerah baju pria itu.
" kau begitu kejam Toni, mengapa kau menyembunyikan itu bahwa ada panggilan masuk dari luar untuk ayah".
"hahaha ternyata kau sangat cerdas juga ya Randi. tidak peka dan sebodoh yang aku kira".
Randi adalah anak dari Jeo kepercayaan tuan Raymond Pranda, Randi sudah di anggap menjadi bagian dari keluarga Pranda, di besar kan dan si sekolah kan sama dengan Toni anak laki-laki dari Raymond. hidup bersama dari kecil dengan kasih sayang tiada perbedaan membuat Randi berani membantah Toni ketika jalan yang ia ambil salah.
Toni yang sangat menyayangi Randi layak nya adik nya sendiri sama seperti feren, Toni yang telah memberikan hak itu sehingga Randi berani menegur nya.
kadang kala Toni selalu melakukan hal yang merugikan orang lain.
"jawab aku". amuk Randi meminta Jawaban.
melepaskan tangannya dari kerah baju Randi. lalu duduk di kursi kebesaran nya.
menatap Randi. "aku tidak memberitahu nya karena aku punya alasan kuat untuk itu". ujar Toni sedikit melemah.
"apa?".
"aku yakin ayah pasti datang karena dia tahu ciysa adalah cucu nya anak kandung dari adikku feren, ketika dia datang pasti dirinya akan bertemu dengan kenric, aku tidak dapat memastikan apakah mereka akan berdamai atau malah membuat keributan, itu hari spesial bagi ponakan ku kebahagiaan nya akan luntur ketika kenyataan bahwa ayah adalah Grandpa kandung nya. Apakah dia sanggup menerima kenyataan ini?". jelas panjang lebar Toni menatap ke arah Jendela dimana ada pemandangan gedung gedung yang menjulang tinggi.
"aku yakin Ciysa suatu saat nanti akan tahu, tetapi tidak di hari kebahagiaan anak itu, cukup sudah dia menderita Randi, maka dari itu aku mengambil langkah ini". lanjut nya menatap Randi yang terdiam mendengar penjelasan itu.
"aku minta maaf sudah salah sangka dengan mu, aku menyesal bang". ucap Randi yang sudah paham.
__ADS_1
"tidak masalah, Lain kali jangan di ulangi datang dengan marah marah, tapi dari sini aku tahu kau sangat menyayangi ayah". jawab Toni menepuk pundak Randi.