
cahaya matahari pagi yang menyilaukan menembus jendela yang mengenai dua pasang bola mata yang sedang tertidur pulas dengan tubuh yang saling berpelukan.
merasa kehangatan cahaya matahari yang menyentuh wajah mulus itu, dirinya merasa kan ada kulit yang menempel di tubuhnya, deru nafas yang beraturan menerpa lembut tepat di kening nya. cici membuka mata nya secara perlahan-lahan,
"morning baby". ujar Bert yang masih enggan membuka mata nya dengan posisi badan yang masih memeluk tubuh Cici,
"apa ini mimpi? mengapa aku merasakan ada seseorang yang memeluk ku, apa jangan-jangan.." monolog nya dengan diri sendiri yang masih setengah sadar.
"mengapa mimpi ku kali ini terasa sangat nikmat, aku enggan melepaskan pelukan ini". gumam Bert berbisik lembut di telinga cici. dirinya merasa ini hanya lah sebuah mimpi.
terdengar jelas apa yang di katakan Bert, tidak mungkin mimpi seperti ini. Memaksa membuka kedua bola matanya.
"akh!" teriak Cici saat mendongak menatap wajah pria yang sedang memeluk tubuhnya.
Bert begitu kaget sehingga dia membuka paksa mata yang sedang mengatup, tidak dapat di pungkiri dirinya juga sama hal nya dengan Cici yang sangat kaget melihat kejadian ini.
Cici melihat tubuhnya yang berada di dalam selimut.
"a-apa yang kau lakukan pa-pada ku" ucap Cici gemetaran dengan menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
alangkah terkejutnya dia melihat tubuhnya tidak memakai apapun tanpa sehelai benang pun.
Bert yang tidak ingat apa-apa, dia merasa tidak melakukan apapun, tetapi melihat kejadian ini dirinya merasa bersalah melihat Cici wanita yang ia cintai meneteskan air mata.
"jawab aku! apakah tadi malam..." Cici yang tidak sanggup menerus kalimatnya.
"kau sangat garang baby" kekeh Bert yang masih bercanda,
tanpa mereka sadari sudah ada keluarga Danendra termasuk Geof dan Winda yang sudah ada di dalam kamar tersebut menyaksikan drama sembari tadi.
Al yang tidak dapat menahan emosi nya dari tadi.
menyaksikan tunangan nya tidur dengan saudara nya sendiri, sungguh miris.
"Brakk".
satu bogem keras melayang tepat di pipi Bert,
seketika Cici menangis terisak-isak melihat ini semua,
dengan cepat Winda dan Clara memeluk Cici yang shock.
"brakk"
bogem kedua melayang yang membuat Bert terjatuh dari tempat tidur nya.
__ADS_1
darah segar yang keluar dari sudut bibirnya.
tuan Dalbert Danendra tidak dapat memberhentikan pertengkaran kedua putranya, dia sangat tahu Aldrich dan Albert sama sama mencintai satu wanita yaitu Cici,
"pa, lerai mereka aku tidak sanggup melihat kedua putra ku bertengkar seperti itu". titah Loren memeluk suaminya,
bagaimana tidak sedih dari kecil hingga dewasa baru kali ini kedua putranya bertengkar, kedua saudara itu terbilang sangat saling menyayangi sehingga tidak ada pertengkaran di antara mereka dari dulu selalu ada saja yang mengalah.
kini karena cinta kedua saudara identik itu melupakan kasih sayang nya, cinta memang membuat seseorang egois dan buta.
"biarkan mereka menyelesaikan masalah nya, mereka sudah dewasa mereka tahu batasan nya". ujar Dalbert lembut membalas pelukan istrinya, dirinya melihat dari sisi Aldrich yang sangat terpuruk akan kejadian ini.
"kenapa kau tega lakukan ini Bert? kau tahu dia adalah tunangan ku mengapa kau tidur dengan nya" tegas Al mendekat kan wajah nya dengan Bert . Kelihatan wajah Al yang begitu terluka sebab akibat ini.
"karena aku mencintai nya" jawab Bert menatap wajah Al,
"brakk"
bogem ketiga membuat Bert tersungkur, untung dirinya memakai celana pendek, sehingga dengan santuy nya Bert berdiri.
Al tidak bisa berkata-kata lagi, satu sisi dirinya sangat kecewa di hianati oleh dua orang yang sangat ia sayangi, satu sisi dirinya paham akan cinta yang di punya akan bert terhadap Cici.
"maaf kan aku" lirih Bert menatap dalam mata saudara kembar nya.
entah mau menjawab apa, dengan langkah kecewa bercampur sedih Bert keluar dari kamar Bert dan segera meninggalkan apartemen nya.
"Cici! mengapa kau tega melakukan ini kepada kedua putra ku?" ujar Loren sedih bercampur kesal melihat wanita yang berbungkus selimut putih di hadapannya,
"maaf kan aku Tante" lirih Cici menangis tersedu-sedu, menatap punggung Loren yang sudah berlalu meninggalkan kamar tersebut.
"Bert bisa kah kau jelaskan ini pada ku?" tanya Geof yang sembari tadi terdiam menyaksikan itu semua.
"ikut aku!" ajak Bert keluar dengan celana pendek tanpa mengenakan pakaian,
Geof pun mengikuti langkah Bert.
kini tinggal lah mereka bertiga di dalam kamar tersebut.
"sudah lah Cici Jangan menangis lagi!" ujar Winda menyerka air mata yang terus mengalir di pipi mulus itu.
"ini sudah terjadi ci, untuk apa kau sesali lagi, sudah terlambat kau kini sudah membuat kedua Kakak ku sedih" ujar Clara dengan mata berkaca-kaca, ia tidak tega melihat kedua Kakak terluka.
"maaf kan aku, aku tidak tahu ini akan terjadi hiks,, hiks" jawab Cici memeluk Winda.
"sudah lah, ayo pakai pakaian mu" ujar Clara yang mengutip satu persatu pakaian Cici yang berserakan di lantai.
__ADS_1
"ini" Clara menyodorkan pakaian Cici.
dengan tangan berat Cici mengambil baju nya, dan segera beranjak menuju kamar mandi.
menatap tubuhnya di pantulan cermin besar yang ada di kamar mandi itu, tidak ada tanda apapun yang mencurigakan,
di luar,
"aku tidak tega melihat Cici seperti ini" lirih Winda menatap pintu kamar mandi.
"aku juga, aku telah membuat kedua Kakak ku saling bertengkar" ucap Clara sedih.
" ini sudah terjadi, kita tidak boleh berhenti di tengah jalan" lanjut Winda yang di jawab anggukan kepala oleh Clara.
ceklek.
Cici keluar dengan mata yang sembab.
"apa benar aku sudah melakukan nya? tapi mengapa bunga ku tidak sakit seperti yang di kata kan orang lain, apalagi ini pertama kali nya bagiku" batin nya.
"ci, kenapa melamun disitu, kemarilah!" ujar Winda.
"apa yang kau pikirkan?" lanjut nya bertanya kepada Cici yang berhenti di depan pintu.
"hmm, kenapa saat aku berjalan aku tidak merasakan perih sama sekali?" bingung Cici. dirinya merasa ragu akan kejadian tadi malam.
berharap agar itu tidak terjadi, pertanda mahkota nya masih utuh.
"a-aa sudahlah ayo kita sudah di tunggu di kediaman keluarga Danendra" kilah Winda menatap Clara yang mengerti maksud Cici.
.
.
.
.
"aku tidak habis pikir kau sangat berani melakukan ini dengan tunangan saudara kembar mu sendiri" kekeh kecil Geof. menatap Bert yang sedang bersandar di kursi di ruangan kerjanya.
"aku tidak sebejat itu" ucap nya melempar majalah tepat mendarat di wajah Geof.
"aww" ringis nya.
"tapi mengapa aku bisa tidur dengan nya? dan pakaian kami, mengapa kami tidur tanpa mengenakan busana? ada apa ini?" ujar Bert memikirkan sesuatu.
__ADS_1
"entahlah yang jelas itu sudah terjadi, tapi bro dengan terjadi nya ini kau bisa menikahi Cici tidak mungkin kan Al mau dengan wanita yang sudah kau nodai, apalagi kalau Cici hamil." santai Geof menatap wajah Bert dengan menyengir kuda.
"nanti kita cari tahu tentang ini, yang terpenting sekarang kita sudah di tunggu tuan Dalbert, dan semua wanita sudah ada mobil" lanjut nya menatap ponsel, yang baru saja Winda mengirimkan pesan bahwa dirinya sudah menunggu di bawah.