
kicauan burung yang bernyanyi indah, matahari yang sudah mulai menampakkan wujudnya, silau nya cahaya menembus fentilasi kamar sepasang kekasih yang tidur dengan lelap karena aktivitas malam nya, cahaya yang hangat itu berhasil membangun kan mereka.
Cici membuka matanya, melihat di samping kirinya terdapat sang suami yang masih terlelap dengan memeluk tubuhnya itu.
wajah tampan nan teduh Bert sudah menjadi pemandangan indah di setiap pagi.
"sayang,,, bangun lah". ujar Cici sambil mengelus pipi tampan itu.
"hmmm". hanya deheman Bert yang terdengar.
"ayo bangun, hari sudah siang nanti telat". bujuk Cici.
"10 menit lagi deh, aku masih mengantuk tenaga ku belum sepenuhnya pulih, aku kehabisan tenaga tak ku sangka Beby ku begitu agresif". kata Bert dengan posisi yang masih menutup mata dan suara yang parau.
mendengar itu, membuat pipi cici memerah seperti tomat karena malu.
"tidak usah malu, aku sangat menyukai nya Beby". lanjut Bert dia tahu kini istri nya malu, bisa bisa nanti istri nya tidak mau begitu.
"ah iya,,, kalau begitu aku mandi dulu setelah itu baru dirimu yang mandi". ucap Cici, segera beranjak dari posisi nyaman nya.
"Beby,,, tunggu". kata Bert yang tidak mau Cici melepaskan tangannya dari perut Cici.
"mmm, ada apa". tanya nya menatap mata itu.
"apa aku boleh ikut bersama mu, kita mandi bareng gitu". tawar Bert menenggelamkan kepalanya ke perut Cici.
__ADS_1
"akh, GK boleh, tidak ada ikut ikut nanti bukan nya mandi tetapi malah beritual seperti cara mu". ucap Cici berusaha bangkit dari duduknya dan mengambil baju nya yang berserakan di mana-mana akibat ulah Bert kemarin.
"awas saja tidak hari ini Mungkin esok dan kau tidak akan bisa menolak pesona ku Beby". ucap nya sedikit berteriak melihat punggung Cici yang sudah masuk ke dalam kamar mandi.
...****************...
tok,,tok,,
suara ketukan pintu dari luar kamar Cici.
"sebentar". jawab Cici dari dalam.
ceklek...
"mommy, celamat pagi". ucap Cilla Cinderella rumah mewah itu.
"pagi sayang, opss semakin berat ya". ujar cici menggendong anak nya dan menghujani ciuman ke pipi chubby itu.
"mana Daddy?". tanya Cilla yang tidak melihat Bert di sana
"Daddy mandi, bentar lagi siap". jawab Cici memangku bocah lucu itu.
"oiya tadi malam Cilla mau tidul sama mommy dan Daddy tapi Oma melarang Cilla karena mommy dan Daddy sibuk, padahal Cilla dengar mommy teriak teriak tapi kata Oma mommy GK papa makanya tadi malam Cilla bobok sama Oma aja". jelas Cilla dengan logat heran nya, betapa terkejutnya dan malu nya Cici menatap anak polos di depan nya.
"Mommy gk papa? apa Daddy jahat sama mommy tadi malam?". tanya cilla penasaran menatap wajah Cici.
__ADS_1
"mom...". belum sempat meneruskan kalimatnya Bert sudah menjawab pertanyaan anak itu.
"mommy baik kok cilla, mana mungkin Daddy sakiti mommy, kan Daddy sayang sama mommy dan Cilla Daddy GK akan sakiti orang yang Daddy sayang". jawab Bert membuat Cici lega dan berhasil membuat bocah itu senang mendapat jawaban dari sang Daddy.
diam sejenak.
"yang teriak teriak itu tadi malam Daddy dan mommy lagi main, permainan nya seru banget sampai sampai buat mommy bersemangat dan teriak". lanjut Bert antusias kepada Cilla.
Cici menatap tajam ke arah sang suami, tatapan yang membunuh, melihat itu Bert sedikit kikuk tetapi tidak membatalkan aksi jahil nya itu.
"main apa Daddy? kenapa Daddy dan mommy GK ajak cilla, cilla juga mau main". tanya Cilla cemberut menatap satu persatu wajah orang tua nya.
"eits main? ha-ha-ha". jawab Bert menggaruk kepalanya yang tidak gatal seraya di sambut tertawa lepas oleh Bert.
"Daddy sakit, lebih baik kita keluar yuk, sarapan biar kan Daddy memakai baju dulu". ucap Cici mengalihkan perbincangan agar cilla tak bertanya tentang permainan itu lagi.
"ayokk". ikut cilla yang menuruti ucapan Cici.
"kau telah meracuni otak anak ku, awas saja kau tidak akan mendapatkan jatah mu 2 Minggu, ingat dua Minggu". bisik Cici tegas di telinga Bert.
kikuk, nyali Bert menciut mendengar kalimat itu, kini seorang Cici berhasil membuat Bert tunduk akan cinta nya, yang dulu batu es kini berubah menjadi Bubur, cair, lembut tetapi hanya kepada keluarga nya tidak di depan umum yang selalu melihat ketegasan dan kedinginan Bert saja.
"du- dua Minggu". tanya Bert menelan Saliva nya dengan kasar sambil menunjuk kan jari nya dua.
"akh mulut mu ini tidak bisa di tahan, kan lihat sekarang junior ku menjadi taruhannya, selamat junior kau akan berpuasa bersabar lah sayang". ujar Bert lemas.
__ADS_1