
"dokter Al bagaimana keadaan geof? pasti dia sudah membaik bukan?" tanya Winda menggenggam tangan dokter Aldrich.
bergeming, hanya diam mematung.
mengapa demikian?.
bagaimana cara menjelaskan nya sedang kan mulut Al masih bungkam enggan mengeluarkan suara,
"Lo kenapa diam Al? bagaimana keadaan nya?" Elard yang mulai bersuara, keadaan macam apa ini? mengapa dia tidak ingin menjelaskan keadaan pasien? apa dia hanya prank agar kami semua panik? dia pura pura seperti ini, aku percaya pasti Geof sudah siuman. pikir Elard
akh entahlah!
"kenapa kau diam saja? jawab pertanyaan ku dokter!" hardik Winda, yang sudah tidak sabar menanti jawaban.
Bert dan Cici hanya saling menatap satu sama lain, apakah mereka memikirkan sesuatu yang sama?.
"ge- Geof, ma-maaf kan aku, tuhan berkata lain Geof tidak selamat!" ujar nya menetas kan air mata yang di tahan sejak tadi.
mendengar perkataan itu bagaikan petir yang menyambar tanpa aba-aba di pagi buta. kaki Winda melemas seperti tanpa adanya tenaga yang mengalir di sekujur tubuhnya.
"ha-ha-ha kau bercanda dokter Al" ujar Winda dengan wajah pucat pasi seperti mayat hidup di sambut tertawa oleh nya.
"aku tidak suka lelucon mu dokter" ucap Winda berteriak histeris.
"aku tidak sedang bercanda Winda!" jawab nya dengan berteriak.
"dia telah tiada! aku tidak bisa menyelamatkan nya, dia sudah tiada" lanjut memeluk Winda yang ada di hadapannya yang belum bisa menerima kenyataan,
bagaimana bisa tidak shock mendengar itu, rasa bersalah itu membuat dirinya menderita, akan kah dirinya bisa hidup bahagia setelah membuat orang lain tiada? tidak kan?. aku harus bagaimana kini? .
"hiks,,hiks,, tidak mungkin" Winda yang menangis tersedu-sedu di dalam pelukan Al,
Bert mundur beberapa langkah, menyandarkan tubuhnya ke dinding, mencerna hati dan pikiran untuk bisa menerima ini,
Bert melampiaskan kesedihan nya dengan menumbuk dinding rumah sakit itu yang bernuansa putih, melihat keadaan Bert membuat hati Cici tersayat pisau.
"cukup Bert, jangan seperti ini, jangan menyiksa dirimu sendiri" ujar Cici menahan Bogeman Bert yang akan mendarat,
__ADS_1
"mengapa kau memberhentikan ku, pergi lah aku ingin sendiri" bentak nya meneteskan cairan bening.
sakit, mendengar bentakan Bert,
tapi ia tahu pria angkuh yang ada di hadapannya ini sangat terluka, terlihat dari tatapan mata begitu menahan kesedihan,
sekuat apapun seseorang se- arogan apapun seseorang, ia juga memiliki hati, ia pernah merasakan apa itu sakit dan kesedihan hanya saja mereka sangat pintar menyimpan itu,
"kuat kan lah dirimu, ikhlas kan lah walaupun itu berat untuk saat ini, kasihan dirinya pasti ia akan sedih melihat mu seperti ini Bert" ujar Cici lembut seraya meneteskan cairan bening yang terus mengalir sejak tadi.
mendengar perkataan itu membuat nya merosot ke bawah, terduduk di lantai mengacak-acak rambutnya dengan kasar.
"mengapa ini terjadi padanya?" lirih nada sendu Bert menatap netra mata Cici dengan dalam.
"aku tidak bisa kehilangan nya, hiks.. hikss" ujar Bert, mendengar itu Cici memeluk Bert dengan erat, ia membiarkan pria itu merasakan kehangatan melampiaskan kesedihan nya agar merasa lebih tenang kelak.
"aku tidak menyangka senyuman terakhir nya bisa aku lihat saat kami berkomunikasi saat aku masih di Marseille, dia meminta ku untuk kembali lihat lah kini aku kembali,ci aku kembali tetapi mengapa kini dipisahkan oleh kematian" Isak nya dalam pelukan Cici.
iya, ia mengingat hari itu dimana Geof melakukan video call untuk menyuruh Bert kembali untuk pulang .
"siapa yang tahu umur, dunia hanya lah tempat persinggahan sementara, semua akan kembali kepada-Nya" bijak Cici meyibak rambut Bert yang berantakan
dari kejauhan Elard yang juga merasakan sakit kehilangan sahabat kecil nya, melihat dua pasangan yang sedang berpelukan,
dia bahagia melihat Bert bisa merasa tenang saat bersama Cici, wanita kedua yang bisa meredakan dan memainkan emosi nya Bert, seperkian detiknya ia sadar bahwa ini salah ini tidak tepat,
bagaimana ia tidak panik, kalau Al melihat itu apa yang ada dipikiran nya, Elard takut kedua saudara kembar itu akan menyakiti satu Sama lain,
sebelum Aldrich menyadari itu, elard berjalan menghampiri dimana Bert dan Cici berbagi kesedihan,
"Bert" ujar elard dengan mata berkaca-kaca,
"Lard" mendongak menatap wajah Elard seraya melepaskan pelukannya dari Cici.
"ayo, kita harus mempersiapkan segalanya untuk pemakaman Geof" ujar elard menutup matanya tak sanggup mengucapkan kalimat itu.
dengan berat langkah, belum bisa menerima kenyataan itu, Bert berdiri yang di bantu Cici, berjalan mendekati di mana Winda yang masih nangis tersedu-sedu,
__ADS_1
"Bert, kita harus membawa nya pulang untuk di makam kan" lirih Al.
mendengar itu Winda menjadi emosi, menatap wajah mereka satu persatu dengan tajam,
"tidak! untuk apa pemakaman kalau Geof belum tiada!" teriak Winda yang mata nya sudah memerah karena menangis sembari tadi.
"win!" ujar Cici lembut ia tidak tahan melihat keadaan Winda yang kacau seperti ini.
"sadar win! Geof sudah pergi dari kita, dia sudah bahagia di sana!" teriak Bert tak kalah keras.
"tega Lo pada, kalian sahabat nya atau bukan! mengapa tega bilang kalau dia sudah tiada dia belum mati dia masih hidup.. hiks hiks dia belum mati dia belum pergi dari kita, dia masih ada" ucap Winda teriak histeris.
"sadar win! sadar Lo nggak boleh seperti ini!" kata Cici mengguncang tubuh Winda agar sadar dan bisa menerima fakta ini,
"aku masuk dulu, mau melepaskan peralatan medis yang menempel di tubuh Geof" ujar Al hendak masuk kedalam,
sebelum melangkah kaki nya Winda sudah mencegah dengan menghalangi pintu masuk ke dalam ruangan dimana Geof masih terbaring.
"menyingkir lah" kata Al
"tidak, aku tidak mau, aku mohon jangan lepaskan alat alat itu dari tubuh Geof, dokter aku mohon" ujar Winda yang masih meneteskan cairan bening yang tidak bisa ia tahan.
"itu akan menyakiti dirinya Winda" jelas Al.
"aku mohon dokter, jangan. dia masih bisa bertahan aku mohon jangan lepaskan alat itu, beri aku kesempatan untuk membuktikan bahwa dia tidak tiada dokter" lirih Winda berharap Al memberikan izin.
melihat keyakinan Winda akan harapan itu, membuat semangat baru untuk mereka, Al menatap cici, Bert, Elard, secara bergantian seperti meminta persetujuan, yang di jawab anggukan kepala oleh mereka.
ya, walaupun cara itu tidak bisa memastikan untuk bisa kembali menghidupkan orang yang telah mati, tetapi kita bisa berharap dan berdoa agar datang nya sebuah keajaiban.
"baiklah, tapi sampai pukul 7 pagi nanti kalau dia tidak menunjukkan tanda-tanda aku akan melepaskan alat alat itu" jawab Al, di hati kecil nya ia berharap ada keajaiban.
"terimakasih" ucap Winda sendu,
"apa sebaiknya kita memberitahu keadaan geoof saat ini dengan Clara? dia adalah adik nya dia berhak mengetahui ini" ucap Elard serius.
"tidak, jangan dulu, kita lihat perkembangan yang telah di tentukan dokter, apa hasil nya baru kita memberitahu yang lain" jawab Bert berusaha tegar.
__ADS_1
ia berpikir pasti Clara sedang beristirahat saat ini, pukul yang menunjukkan masih pukul 2 dini hari, memberitahu Clara saat ini sungguh tidak tepat apalagi dirinya dalam keadaan hamil muda,