
Setiba di apartemen mewah itu sudah ada beberapa orang bertubuh besar yang sudah menanti nya.
"wiss mati aku pasti dia sudah ada di dalam" ujar nya dengan perasaan deg-degan.
"permisi nona" ujar salah satu pria bertubuh besar itu dengan sedikit menunduk." nona disuruh tuan Albert langsung masuk kedalam" jelas nya.
"i-iya terimakasih" jawab Cici, seraya meninggalkan mereka.
.
.
.
.
Cici masuk dengan memerhatikan seisi ruangan, mencari keberadaan tuan angkuh itu.
kenapa kosong?apa dia belum sampai? hmm bagus lah setidaknya aku tidak telat ( gumam nya).
akhirnya Cici merasa sedikit lega karena tidak mendapatkan tuan angkuh itu, yang ada di pikiran nya kini berarti tuan angkuh itu masih sibuk di kantor nya, lalu ia berjalan menuju dapur di mana tempat janjian mereka.
"kenapa gelap ni dapur" ujar Cici mencari saklar lampu untuk menghidupkan nya, dan ternyata...
cilubbaa!
ternyata tuan angkuh itu sudah ada di sana sedang menikmati rokok nya,
oh no tamat lah kau ci, seperti nya hukuman mu akan bertambah ci (lirih nya sungguh berat kaki nya melangkah menghampiri tuan itu.
"hmm pukul 10" ujar Al seraya menatap jam yang ada di pergelangan nya. " kau membuat ku menunggu" lanjut nya dengan tatapan tajam.
"maaf tuan angkuh eee maksud ku A-Al, tadi perjalanan sangat macet" Cici hanya mampu menelan Salivanya.
"duduk" perintah Al menyuruh Cici duduk di hadapannya.
__ADS_1
"kau telah membuat ku menunggu, dan kau" tunjuk nya ke Cici dengan tajam.
"membuang waktu ku, mana yang yang aku minta" lanjut nya dengan menghembuskan asap rokok di depan wajah Cici.
"huukkk hukkkk" batuk Cici mengibas ngibas kan tangan nya.
"aku tidak punya uang sebanyak itu malam ini, bisakah aku meminta waktu 1 Minggu tuan Al yang baik hati" pinta Cici dengan wajah memelas dan tangan memohon agar tuan angkuh itu merasa iba. tapi jauh berbeda dengan yang aku pikirkan.
"tidak!" tegas Al
"aku tidak pernah bermain main dengan ucapan ku gadis bawel, kau mau menerima tawaran ku atau..." lanjut nya dengan mendekatkan wajahnya ke wajah cici yang membuat mereka sangat dekat hanya beberapa cm.
"aa-atau apaa" jawab Cici dengan gugup.
"atau aku buat kau melepaskan gelar mu" ujar nya dengan senyum sinis, ia ingin membuktikan kepada gadis di hadapannya Jangan pernah bermain main kepada sang Albert Danendra.
Cici mendengar itu merasa tubuhnya melemas, sungguh tak di sangka karena sesuatu yang tidak di sengaja akan berakibat serumit ini,
ia tak menyangka bahwa tuan Al tega, aku kira ancaman pertama itu hanya bercanda dan lihat kini ia mengancam ku dengan serius. cita-cita yang telah ku bangun sejak kecil dengan mudah ia renggut.
keinginan menjadi polisi bukanlah tanpa sebab karena aku ingin mencari bunda yang tak tau dimana keberadaan nya hingga kini, maka dari itu aku ingin menjadi polisi agar mudah mencari bunda.
Al terkejut dengan apa yang ia lihat, ia telah membuat wanita menangis di hadapannya karena perbuatannya sendiri, baru kali ini Al merasakan sakit di hatinya saat melihat Cici menangis, biasa nya Al tidak peduli wanita menangis kecuali sang mami.
"kalau kau tidak mau aku cabut gelar mu, maka kau harus menerima tawaran ku" ujar nya datar, sebenarnya di hati sungguh rasa bersalah.
Cici menyerka air mata nya" aku akan menerima tawaran mu apapun itu" jawab Cici berusaha tegar.
"kau harus mengganti kan ART apartemen ini selama sebulan" ucap nya dengan santai seraya meneguk win di depan nya,
"haa!" teriak Cici sangat memekakkan telinga Al.
"kau tidak salah?" tanya nya kembali untuk memastikan kalau ia salah dengar, yang di jawab gelengan oleh Al yang berarti tidak salah.
"seorang polwan cantik menjadi pembersih apartemen mu?" lanjut nya tidak percaya
__ADS_1
"iyaa selama satu bulan atau besok kau tidak dapat memakai baju dinas kesayangan mu" ujar nya dengan santai tanpa dosa.
mengambil nafas membuang nya dengan kasar" baiklah" jawab nya singkat
Cici merasa kesal, benci, sedih di campur menjadi satu, ia mengambil minuman yang ada di hadapannya satu botol win mahal langsung meneguk nya sampai tandas.
"heyy kau gadis gila kau menghabiskan semua nya" teriak Al dengan kesal, kalau bukan seorang wanita di hadapan nya mungkin sudah ia jadikan bakso.
Cici merasa kepalanya begitu berat sudah berputar putar
"kau tau tuan angkuh" ucap Cici dengan gaya khas mabuk berat ia tak sadar dengan yang ia ucapkan.
sebenarnya perkataan Cici yang memanggil nya tuan angkuh membuat nya geram tapi ia sadar wanita cantik itu sudah tak sadar.
"aku sungguh merasa sedih waktu kau mengancam ku ingin mencabut gelar ku" ucap Cici yang membuat Al tertarik membahas tentang dirinya.
"kenapa?" tanya Al seolah menjadi pendengar setia.
"polisi adalah cita-cita ku karena aku ingin mencari bunda ku yang aku tak tau dimana ia berada, kau tau Wajah nya saja aku tidak tau ingin sekali aku bertemu dengan nya memanggil nya dengan sebutan bunda, memeluk merasakan kehangatan tubuh nya dan memakan masakannya sungguh aku iri dengan mereka yang mempunyai bunda.. hiks hiks hiks,, " jelas Cici meluapkan emosi yang selama ini dia pendam, Al merasa iba menarik Cici kedalam pelukannya disana lah Cici menangis tersedu-sedu ia merasa kan kenyamanan untuk pertama kalinya.
maaf kan aku Cici.
kau tau Ciysa Edelhart kau sudah membuat hati ku tertarik dari awal kita berjumpa di club di sana lah aku merasakan jantung ku berdebar lebih kencang dari aku bersama angel wanita tak tau diri itu. cara ini lah yang aku lakukan agar kau selalu dekat dengan ku dan aku bisa selalu melindungi mu walaupun dengan cara yang membuat mu sedih dengan mengancam dirimu tidak akan memakai pakaian kesayangan mu itu.
sungguh aku tak da niat untuk membuat mu benci kepada ku tapi bagaimana lagi hati ini hanya menginginkan dirimu maaf kan aku karena aku egois ci, tapi aku berjanji aku akan berusaha membuat mu bahagia.
oh no apa yang aku bilang, untung saja wanita bawel ini tak sadar kalau iya sungguh aku sangat gengsi (gumam Al menggaruk kepalanya yang tidak gatal).
merasa ada yang aneh Cici diam tanpa suara di dalam dekapan Al dan...
brukk!
Cici pingsan dengan gercep Al menangkap tubuh cici, mengendong nya dan membawa Cici ke kamar tamu.
setiba di kamar dengan perlahan lahan tapi pasti Al meletakkan tubuh seksi itu di atas ranjang.
__ADS_1
al menyibak rambut Cici yang menutupi wajah nan cantik itu, ia begitu terpana menatap wajah Cici dalam dalam, Al mendekat kan wajah nya ke wajah Cici dan menautkan bibir nya ke bibir Cici semakin lama semakin dalam dan beralih ke tengkuk Cici untuk memberikan kepemilikannya disitu, Cici yang mabuk berat tak sadar kan diri hanya menggeliat.
Al sadar apa yang sudah ia lakukan pasti akan membuat Cici membenci nya dengan segera ia keluar dari kamar itu.