
seminggu kemudian.
tepat nya di hari ini adalah pertunangan Aldrich Danendra dan Ciysa Edelhart,
"hmm sabar mbak, acara tunangan nya nanti malam kini masih pagi!" goda Winda melirik jam dinding yang ada di dinding kamar Cici.
"apa ini langkah yang benar untuk diriku dan dirinya win?" tanya Cici ragu.
bagaimana tidak ragu di sore hari itu senja menjadi saksi di mana Cici di lamar, dirinya menjawab iya di mulut Walaupun di hati sedikit berbeda haluan pertanda setuju untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius, di sebuah taman yang di sihir menjadi tempat romantis yang sangat di sukai wanita.
flashback off 📌
seperti yang Al katakan tadi malam hari ini ia hanya bekerja sampai tengah hari, dirinya merencanakan sesuatu yang mengesankan untuk menyampaikan niat baik nya itu,
dia tidak lupa memberi kabar dan meminta Cici untuk berdandan sangat cantik di acara kencan nya itu.
Cici wanita yang pintar ia bisa menebak maksud dari Al yang meminta nya seperti itu, detak jantung yang sudah mulai tidak beraturan, dengan berat langkah cici berjalan menuju lemari pakaian untuk memilih dress yang cocok ia gunakan nanti.
"Cici! ci!" teriak Winda memanggil Cici,
"Lo di mana" lanjut nya mencari keberadaan cici.
"gue disini di kamar win" jawab Cici teriak dari dalam kamar.
"dari sekian lama nya gue datang, nggak di sambut hangat oleh tuan rumah, tega emang. Apa Lo nggak kangen gitu Ama gue yang cantik begini" narsis Winda sedikit memajukan bibirnya karena kesal.
"idih" cibir Cici yang hanya melirik sekilas ke arah Winda.
"Lo ngapain sih ci? emangnya Lo mau kemana? tumbenan milih-milih biasanya kan apa nampak itu di pakai" ujar nya memperhatikan Cici yang sembari sibuk membongkar isi lemari.
"nanti sore gue di ajak kencan sama Al, dan dia nyuruh hari ini harus berdandan lebih spesial dari biasanya" jawab Cici memegang beberapa baju yang akan ia seleksi.
Winda menyerngitkan jidat nya saat mendengar perkataan Cici.
"apa ini bagus" kata Cici menempel kan dress berwarna putih yang bagian dada ke atas dengan model transparan.
"memakai pakaian apa pun Cici ku selalu terlihat cantik" puji Winda membuat Cici bergaya berlagak seperti model di hadapan Winda.
"tumben tu si bayi gede mau di tinggalin" ucap Cici terkekeh geli tatkala dirinya menyindir Geof.
"dia ada meeting di caffe yang kebetulan dekat sama apartemen, yaudah deh gue minta izin untuk nemuin Lo ya awal nya memang GK di izinin, karena gue pinter bujuk akhirnya dia bolehin gue. lagian udah hampir sebulan nggak nginjak-in kaki disini." jelas Winda di sambut tertawa oleh mereka berdua.
suasana ini yang begitu mereka rindukan bersenda gurau, saling mengejek, tertawa dan masih banyak lagi yang selalu mereka lakukan bersama sama.
"ci!" ujar nya dengan wajah mulai serius.
"apa Lo mikir apa yang gue pikirin tentang kencan ini" lanjut Winda sembari duduk di atas ranjang Cici.
"kemungkinan nya ada dua, pertama dia hanya ingin ngajak kencan. Kedua ingin menetapkan hari tunangan" jawab Cici santai walau tidak dengan hati nya.
tatapan mata cici yang terlihat seperti banyak menyimpan sesuatu, entah kesedihan atau pertanyaan.
__ADS_1
"kau akan mengikuti kemauan Al kalau dirinya ingin melaksanakan pertunangan kalian dalam waktu dekat?" tanya Winda menatap netra mata Cici dengan dalam mencari kejujuran di balik mata itu.
perkataan itu tepat menusuk di hati nya, entah lah mengapa sakit ketika mendengar kebenaran itu. Apa kah diriku harus menerima nya sedang kan hati ku menolak,
"Cici!" ujar Winda mengibaskan tangannya di depan wajah Cici yang terlihat melamun memikirkan sesuatu.
"aku tahu kau kini kau sedang bimbang akan keputusan mu, tetapi menurut ku ini adalah langkah yang benar" lanjut Winda menggenggam tangan Cici.
"maksud mu?" tanya Cici tidak mengerti.
"ya, dengan pertunangan ini, kau bisa Secara perlahan-lahan mulai melupakan tuan Albert, ingat dia hanya masa lalu mu, kini dirinya sudah menikah sudah memiliki istri yang bernama Clara. mereka keluarga kecil yang sangat bahagia" kata Winda menekan semua kalimat nya agar Cici paham maksud nya.
"dan dokter Al dia sangat mencintai mu pasti kau akan sangat bahagia hidup bersama nya, coba lah untuk menerima kenyataan ini terima lah dirinya hargai perasaan nya, kau pasti bisa dia sama baik nya dengan dengan Albert, toh satu rahim, satu darah dan wajah nya mirip, semua sama" lanjut Winda menarik lengkungan bibir Cici dengan tangan nya.
"memang di rahim yang sama, memang wajah yang sama tetapi karakter mereka berbeda. Albert ku berbeda win dia berbeda". gumam hati Cici memaksa kan senyuman nya.
.
.
.
.
sore hari.
menatap dirinya sendiri di pantulan cermin, berputar ala model, dengan style yang di pilih kan oleh Winda yang sangat bersemangat mendandani Cici. Kini Cici tampil beda dengan rambut yang di sanggul yang menampakkan leher jenjangnya di padu dengan make-up natural semakin membuat nya mempesona.
"kau sangat cantik setelah ini dia tidak akan berpaling dari mu" puji Winda memeluk sahabatnya itu dari belakang.
"terima kasih" singkat padat dan jelas Cici menjawab,
beberapa menit lagi pukul yang menunjukkan Al akan datang tetapi dirinya sudah tak karuan, tangan yang mulai berkeringat dingin.
"ci Al sudah datang" ujar Winda seraya menggenggam tangan Cici.
"what's? tenang kan dirimu sayang" kekeh Winda melihat wajah Cici yang mulai tegang.
di luar Al yang sudah menanti kedatangan sang pujaan hati, menatap kesana kemari terhenti lah tatapan mata itu tepat menatap kedatangan Cici,
dirinya semakin terkagum-kagum akan kecantikan wanita yang ia cintai.
"bagaimana cantik bukan sahabat ku? iyalah Winda gitu" ucap nya mencairkan suasana.
"kau sangat cantik sayang" puji Al mengulur kan tangan nya ke arah Cici.
__ADS_1
"terimakasih, kau juga sangat tampan Al" balas nya dengan senyuman seraya menerima uluran tangan Al.
melihat ketulusan Al membuat Winda merasa yakin bahwa Al lah yang terbaik untuk Cici, dirinya berharap agar kisah cinta ini tidak kandas seperti yang dulu.
"apa sudah siap" tanya Al di Jawab anggukan kepala oleh Cici.
"win aku pergi dulu ya,byee" ujar Cici memeluk erat Saudaranya itu.
"semoga ini menjadi momen yang manis aku percaya keputusan ini baik untuk mu" bisik Winda di telinga cici yang di jawab senyuman manis oleh nya.
perjalanan yang lumayan lama memakan waktu sekitar satu jam, entah kemana Al ingin membawa dirinya, tidak ada perbincangan di antara mereka hanya suara kendaraan yang terdengar. kadang Al yang mencuri pandang ke arah Cici, Cici yang sadar akan itu hanya diam dan pokus menatap jalanan.
akhirnya sampai lah di sebuah taman yang sepi, tidak ada pasangan muda mudi seperti umumnya, hanya saja ada beberapa pria yang memakai seragam hitam yang berjejer rapi dengan memegang boneka bewarna hitam dan bunga mawar merah.
saat melewati para pria itu Cici mendapatkan sambutan seperti ratu yang mendapat kan hormat dengan membungkuk kan tubuh mereka di hadapan Cici dan Al. di sepanjang lorong di kiri kanan yang ia lewati di tutup oleh tirai tirai putih yang di hembus oleh angin manja sore itu, bak pantai.
berjalan hingga 1 meter kini mereka berhenti di depan tirai yang di jaga oleh pria berbadan kekar, dengan aba aba dari Aldrich tirai itu terbuka.
Cici begitu takjub melihat pemandangan di balik tirai itu putih itu, sebuah taman sederhana di sulap menjadi tempat yang paling romantis seperti yang ada di dongeng dan buku vovel.
mimpi apa dirinya kemarin sehingga bisa ketempat seindah ini.
"apa kau sangat menyukai kejutan ini?" tanya Al
"sangat suka, ini sangat indah" ujar Cici kagum menatap sekeliling taman itu.
"Cici lihat lah indah bukan Langit senja nya?" kata Al yang di jawab anggukan oleh Cici.
"kini di bawah langit senja yang indah ini aku ingin melamar mu sekali lagi di tempat yang romantis dan ingin mengutarakan niat baik ku" lanjut nya kemudian.
"niat baik apa?"
"aku ingin acara tunangan kita di adakan 6 hari setelah hari ini" ungkap Al dengan bahagia.
"a-apa? se- secepat ini?" kaget Cici tak kalah beda dari Albert.
"ya, lebih cepat lebih baik bukan, apa kau mau menikah dengan ku" lanjut nya berlutut dengan memegang setangkai bunga mawar merah.
seperkian detiknya Cici semakin terkejut atas tindakan Al,
apakah ini rasanya di lamar di tempat yang romantis, ya, walaupun lamaran yang pertama sederhana tapi ada papa yang menjadi saksi nya.
"sayang" ujar Al memegang pundak cici menyadarkan nya dari lamunan nya.
"i-iya aku mau" jawab Cici sedikit terbata bata di sambut senyuman.
menjawab iya terpaksa karena dirinya mengingat perkataan Winda.
entah langkah yang benar atau bukan, yang jelas diriku harus mencoba menerima dirinya, pikir cici
mendengar ucapan Cici, membuat Al tidak dapat menyembunyikan kebahagiaan nya, ini lah yang ia tunggu tunggu menanti jawaban iya dari sang kekasih.
__ADS_1
ingin rasanya berteriak, melompat, tetapi ia tahan dan dengan memeluk Cici untuk menuangkan kebahagiaan nya, Cici pun tak segan membalas pelukan itu, toh dirinya harus belajar terbiasa kan.