Terjerat Bayangan Cinta Polwan

Terjerat Bayangan Cinta Polwan
Resmi


__ADS_3

"Ciysa Edelhart" teriak Al meliha Cici sedang asik berbincang dengan beberapa pria.


mereka semua terkejut mendengar nama itu, apalagi sang granpa.


Ciysa Edelhart (gumam pria tua itu).


Cici pun menoleh ke arah asal suara.


"iya Al" teriak Cici membalas panggilan Al.


"maaf semuanya aku permisi dulu" ujar Cici sebelum meninggal kan mereka di dalam kebisuan


"ciy-ciysa Edelhart? bukan kah nama nya itu mirip dengan nama bayi ini tuan?" sang asisten pribadi mengeluarkan photo bayi mungil dari dalam dompet nya yang bertuliskan nama sang bayi di belakang photo tersebut.


"apakah dia cucu ku? benar kah dia cucu ku selama ini Yang tidak ku hiraukan". ujar pria tua itu menetaskan air mata bahagia bercampur sedih.


"bersabarlah tuan, aku akan mencari informasi tentang gadis itu" ujar sang asisten pribadi berusaha menenangkan pria tua itu.


"iya tolong cepat jeo aku sudah tidak sabar menunggu untuk memeluk cucu ku jeo" pinta pria paruh baya itu yang di Jawab anggukan kepala oleh jeo.


***


"siapakah segerombolan laki laki tadi ci?" tanya Al pemasaran.


"tidak siapa- siapa hanya mengenal saja" jawab Cici santai.


"baiklah, kau mau makan apa" ujar Al memberikan menu makanan ke arah Cici


"hmmm, semua nya kelihatan sangat enak, aku mau ini, ini dan ini" ujar Cici dengan santai menunjuk pada beberapa menu makanan itu.


Al hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat tingkah cici.


beberapa menit berlalu.


datang lah beberapa menu yang telah di pesan oleh mereka berdua,


Al yang tidak sabar dengan jawaban Cici tapi saat melihat Cici sangat menikmati makanannya Al mengurungkan niatnya, itu pasti akan menganggu selera makan Cici saja,


setelah selesai makan,


Al mulai bertanya


"bagaimana keputusan mu?" to the points Al yang sudah tidak dapat berbasa-basi.


"hmmmm" ragu Cici menjawab pertanyaan itu.


"kau tidak perlu memaksakan diri mu sendiri kalau kau tidak menginginkan nya ci, aku akan menerima semua keputusan mu" ujar Al melempar kan senyuman tampan yang memabukkan wanita termasuk Cici.


"baiklah aku mau, tapi" ujar Cici, mendengar perkataan aku mauu Al betapa bahagianya tetapi saat mendengar kata tapi itu membuat nya menyerngitkan dahinya


"tapi apa?" tanya Al pemasaran.

__ADS_1


"tapi dalam 3 bulan ini aku tidak bisa membalas perasaan itu aku mundur"


"tidak masalah kalau itu keputusan mu, tiga bulan" kata Al yang memperlihatkan 3 jarinya.


aku akan membuat mu jatuh cinta kepada ku ci (batin Aldrich).


.


.


.


.


"apa maksud perwira Wisnu mengundang ku kerumahnya untuk makan malam ya win?" ujar Cici bingung dia tidak paham dengan maksud perwira Wisnu itu.


"mungkin dia mau jodohin Lo ma anak nya kali" ucap Winda menerka nerka


"hah!" teriak Cici terkejut, ia baru sadar mengapa ia diminta untuk datang waktu itu untuk menemui elfathan di lokasi patroli dan sekarang meminta nya makan malam kerumah keluarga Gazwan.


"emang anak perwira Wisnu jelek ya? sampai sampai Lo GK mau ketemu ma tu cowok?"


"Tampan sih win, sebelas dua belas sama Albert" ucap Cici memikirkan wajah mereka berdua.


"wow tampan dong, kalau Lo GK mau buat gue aja deh, udah tampan, pilot , kaya anak perwira pasti masa depan gue jelas ni" Winda membayangkan hidupnya bersama El.


"serah Lo deh win, intinya sekarang anggap gue pacaran ma Albert dia cowok gue, masak gue sekarang makan malam di rumah cowok lain"


setelah beberapa menit berpikir keras untuk mencari alasan yang tepat, akhirnya Winda memiliki ide cemerlang yang bisa menyelamatkan Cici malam ini.


"aha💡!, gue punya ide" ujar winda membisikkan ide yang di maksud ke telinga cici.


"Thanks win, ide Lo bagus dan malam ini gue selamat" ujar Cici setelah mendengar ide Winda, sebenarnya agak lain sih tapi ya mau gimana hanya dengan cara ini pasti perwira Wisnu percaya deh ma gue.


***


siang itu terlalu panas terik matahari yang mampu membakar kulit yang terkena sentuhan cahaya matahari siang.


Winda yang sebagai polisi umum, sedang melakukan razia terhadap pengendara motor yang tidak menaati aturan saat mengendarai sepeda motor, semakin lama semakin panas membuat Winda semakin lemas,


"Winda! kamu kenapa pucat begitu?" tanya salah satu rekan kerja nya sesama polisi yang saat itu juga menjalankan tugas yang sama dengan Winda.


"ti- tidak, mungkin hanya kecapean" ujar Winda berusaha untuk tersenyum. entah mengapa beberapa hari ini ia sering mengalami pusing kadang ia mimisan tetapi tidak ada yang mengetahui nya,


"istirahat lah , atau pergi ke dokter win setelah itu pulang" ujar rekan nya dengan perhatian, ya salah satu rekan nya ini sedikit menaruh hati kepada Winda sejak pertama kali berjumpa dengan nya.


"tidak Rio aku tidak mau kedokter" ucap Winda yang takut dengan peralatan medis yang menempel di sekujur tubuh orang tuanya sungguh masih berbekas kecelakaan yang menimpa kedua orang yang ia sayangi.


"aku mau pulang saja" pinta Winda


"baiklah, apa perlu aku mengantar mu?" ujar Rio

__ADS_1


"tidak perlu, aku bisa sendiri" ucap Winda dengan tak enak hati menolaknya, segera Winda meninggalkan tempat itu dengan berjalan kaki dengan langkah sedikit sepoyongan untuk mencari taksi, ia tidak berani membawa motor dengan keadaan seperti itu.


"kenapa kepala ku sering pusing seperti ini, dan mengapa taksi lama sekali lewatnya sungguh aku tidak bisa menahan nya lagi" ujar Winda yang sudah merasakan tubuh nya lemas dan kakinya sudah tak berdaya untuk berjalan,


tiba tiba tatapan matanya Winda kabur ia merasa ada yang menetes dari hidung nya,


"mimisan lagi?" itulah kata-kata terakhir sebelum ia kehilangan kesadaran.


"eehh, mbak mbak polwan" ujar pria yang datang tepat waktu untuk menyambut Winda agar tidak terjatuh.


dengan segera pria itu membawa nya apartemen pribadi nya.


***


"cantik bener neng" ujar pria itu menatap wajah Winda saat membersihkan darah yang ada di area wajah nya.


saat pria itu ingin beranjak dari tempat duduknya, tangan gadis itu bergerak tanda ia mulai siuman.


"awww"ringis Cici memegangi kepalanya yang masih terasa pusing, ia mencoba mengedarkan pandangan nya dan menangkap satu pria yang ada di hadapannya.


"si-siapa kau? apa yang telah kau lakukan padaku awas kau macam macam akan ku masukkan ke penjara" tanya Cici dengan suara lemas nya Berusaha untuk bangun dari tempat tidur nya.


"hah? eeh mbak polwan yang cantik aturan nya anda berterimakasih kepada saya , berkat saya anda bisa sembuh seperti ini" ujar pria itu membanggakan diri nya dan memperlihatkan alat alat yang telah ia gunakan untuk menolong Cici, seperti tisu, air kompres,


"benar kah?" ucap Winda menyipitkan matanya


"laki laki seperti mu baik kepada ku?" tanya Cici yang masih belum percaya.


"kenapa laki laki seperti ku" tanya pria itu penasaran.


"laki laki idung belang yang suka mencari kesempatan dalam kesempitan" jelas Winda membuat pria di hadapannya itu geram.


"hah!"teriak laki-laki itu


"untung kau seorang perempuan dan kau seorang polisi kalau tidak aku akan membuat mu menjadi perkedel" kesal pria itu.


"hey siapa yang takut dengan mu, aku juga jago bela diri dengan mudah aku mengalah kan mu idung belang" ketus Winda antusias.


"kau" teriak pria itu.


"apaa!" teriak Winda tak jalah keras, Winda pun berdiri tetapi kepala kembali berdenyut kencang membuat nya kehilangan keseimbangan dan alhasil jatuh dalam pelukan pria itu.


deg deg


dengan sigap pria itu menangkap Winda, untung saja pria itu kuda kuda nya kuat sehingga mereka tidak terjatuh,


"ketika kau bersama dengan ku Geof Robert, tidak akan aku biar kan dirimu terjatuh, ini kedua kalinya aku menyambut di waktu yang tepat" ujar Geof Dengan menatap mata Winda dalam dalam.


winda tak mampu berkutik saat mendengar kata-kata laki laki idung belang itu, entah lah detak jantung ku kini tidak normal.


Terimakasih yang telah membaca cerita author Hinga episode ini, dukung terus ya karya author dengan memberikan like, vote, komen dan rate 5 nya 🙏

__ADS_1


__ADS_2