Terjerat Bayangan Cinta Polwan

Terjerat Bayangan Cinta Polwan
masa kecil Winda


__ADS_3

sore menjelang magrib itu Cici masih betah di kamar nya, mondar mandir memikirkan apa yang harus ia lakukan nanti ketika berjumpa tuan angkuh itu.


merasa lelah akhirnya Cici ketiduran


"Cici!" teriak Winda, ia baru pulang untuk membersihkan tubuhnya. seperti tidak ada sahutan Winda pun berjalan menuju kamar Cici.


ceklek


Winda memutar ganggang pintu.


"ya ampun Cici bentar lagi magrib dan dia tidur"


ujar Winda masih di pintu melihat Cici tidur dengan pulas nya,


Winda pun keluar dari kamar Cici, ia memutuskan kembali ke apartemen nya untuk mandi.


 


"huuffff"


Winda menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang,


"sungguh hari ini sangat melelahkan," ujar nya


"hidup sebatang kara" lanjut nya dengan mata berkaca-kaca, mengingat keluarga nya telah mendahului nya.


dari umur 12 tahun hidup sendiri, mencari uang hanya untuk bisa makan sesuap nasi, hidup ku begitu menyedihkan saat mereka telah tiada. waktu ada papa dan mama mereka tak membiarkan aku terluka sedikitpun, menitikkan air mata sangat pantang bagi mereka.


hidup di keluarga yang bahagia, harmonis, berkecukupan, selalu di manja apapun mau selalu dituruti tak pernah merasakan apa itu kekurangan. dan lihat lah kini usia ku 23 tahun, sebelas tahun aku hidup menderita semua kekayaan keluarga ku di rebut oleh Tante ku, adik papa, Tante bilang aku tak punya hak atas semua harta papa karena aku bukan anak kandung nya.


sungguh pilu hati ku mendengar perkataan itu, di hari kematian papa disitu lah bertempatan dengan hari ulang tahun ku. maka dari itu aku tak ingin mengingat ulang tahun ku, seminggu sudah kematian papa Tante dan keluarga nya tinggal di istana yang di bangun papa yang aku menjadi pembantu mereka,

__ADS_1


setiap hari aku menjalankan pekerjaan yang belum pernah aku sentuh, Tante tidak akan memberi ku makan kalau belum menyelesaikan pekerjaan rumah yang ia berikan tak jarang aku tidur di gudang karena sepupu ku menikmati kamar ku, dan sudah biasa tidur dengan perut kosong seharian yang tak di ISI oleh makanan.


sungguh menyakitkan berminggu-minggu aku rasa kan, siapa yang tau penderitaan ku, siapa yang bisa merasa kan nya selain aku tidak ada yang mengerti aku, seenak mereka menyuruh ku berhenti dari sekolah, ingin aku mati menyusul mama dan papa tetapi hati kecil ku melarang, ingin kabur dari rumah kemana aku akan melangkah Kemana tujuan ku kepada siapa aku mengadu tak da satupun yang aku punya.


bertahun tahun aku menjadi babu di rumah ku sendiri aku memutuskan untuk pergi jauh walaupun tak tau tujuan biarlah aku hidup di bawah jembatan makan sisa orang dari pada hidung seperti neraka di rumah itu.


saat malam gelap gulita hujan di penuhi petir aku berlari untuk mencari tempat teduh, nangis tersedu sedu tak ada yang mendengar ku, saat aku menyebrang jalan aku tidak melihat sekeliling yang akhirnya aku di tabrak dan di selamat kan oleh bapak polisi, ia lah yang menampung aku, membiayai pendidikan sehingga aku bisa menjadi polisi saat ini seperti ia.


kini papa angkat ku sudah tiada karena serangan jantung, dan kini aku tinggal sendiri tanpa siapapun kecuali Cici dialah satu-satunya yang aku punya yang aku anggap seperti kakak ku.


tak selamanya hujan tak selamanya panas, kehidupan bagaikan roda yang berputar tak akan selalu di bawah dan tak akan selalu di atas, Tuhan adil ia tak tidur ia melihat semuanya ia tau apa yang hamba nya rasakan. ia tak akan menguji hambanya di luar kemampuan nya tuhan tau kita pasti biasa bangkit pasti bisa melewati itu karena ia ingin menaikkan derajat hamba nya melalui ujian yang ia berikan.


.


.


.


tanpa Winda sadari cairan bening itu telah mengalir di wajah mulus itu, sungguh kenangan yang tidak akan terlupakan oleh Winda, baginya masa lalu adalah sumber kekuatan nya saat ini.


segera ia bersiap siap untuk kembali ke kantor polisi, sebelum bekerja ia harus menemui Cici.


"ini anak tidur apa tidur,kok GK bangun bangun ya" ujar Winda setiba di kamar Cici masih melihat nya tidur sambil melirik jam tangan di pergelangan nya .


"Cici... ayo bangun ci lu GK mandi! " teriak Winda yang dapat tabokan dari Cici


"awww sakit ci" lirih Winda memegang pipi nya.


"GK usah teriak ngapa win, gw udah mandi" jawab nya dengan suara khas bangun tidur.


"lu GK lapar apa, gw mau ajak lu makan di luar ci" ucap nya sambil menarik tangan Cici, Winda sangat lapar tapi di apartemen Cici tak da makanan makanya ingin mentraktir Cici makan di luar.

__ADS_1


"kagak, udah Lo Jangan gangguin gw!, gw lagi mimpi ABG tampan" ujar nya menepis tangan Winda.


"ABG tampan, cih" Winda berdecih seraya tertawa kecil mendengar perkataan Cici.


Winda sudah kehilangan akal untuk bangunin Cici, akhirnya ia memiliki ide cemerlang yang sangat ampuh kalau tak ampuh boleh tarik telinga cici, hahahah.


"Cici... mampus Lo tuan Al cariin Lo" ucap Winda sedikit teriak bin pura pura kaget.


srettt.


jantung Cici berdetak kencang, yang mendengar nama tuan Al ia langsung berdiri kantuk nya tadi hilang dengan ajaib.


"tuan Al" tanya nya Cici melirik jam tangannya menunjuk kan pukul 8 malam. yang di jawab anggukan oleh Winda.


sungguh ampuh ide ku ini.( batin winda)


tanpa sadar Winda telah mengingatkan Cici untuk menemui tuan Al.


"cii.. Lo mau kemana" teriak Winda yang Bingung melihat Cici berlari keluar seperti di kejar setan.


"gw lupa malam ini gw harus ketemu ma tuan Al" jawab Cici berbalik arah menatap sahabatnya itu, Winda pun mengingat kembali bahwa Harini memang hari hutang Cici.


"tapi GK usah gitu juga ci" ucap Winda menepuk jidatnya. " liat lah pakaian mu liat rambut mu" lanjut nya menatap cici dari bawah sampai atas melihat Cici memakai piyama dengan rambut acak-acakan.


"hehehe gw lupa" jawab Cici cengengesan, dan kembali masuk ke kamar nya untuk mengganti pakaian nya.


setelah beberapa menit akhirnya ia selesai berdandan ia keluar untuk berpamitan dengan Winda.


"maafin gw malam ni GK bisa makan sama Lo, lain kali aja ya dan gw mau ngucapin banyak terimakasih Lo udah ngingetin gw" ucap nya sambil memeluk Winda dan segera pergi dari hadapan nya.


"iyaa sama-sama hati hati! " teriak Winda.

__ADS_1


di perjalanan Cici merasa was-was, apa yang akan tuan angkuh itu lakukan setelah apa yang Cici perbuat.


"akh kenapa kau ketiduran ci" kesal nya menepuk jidatnya sendiri.


__ADS_2