Terjerat Bayangan Cinta Polwan

Terjerat Bayangan Cinta Polwan
tunangan seorang Albert Danendra


__ADS_3

Matahari mulai terbangun dari peraduannya, memancarkan sinarnya yang menghapus titik-titik embun di dedaunan, menghangatkan tubuh dari udara dingin, dan membakar semangat baru di hari yang baru. Selamat pagi dunia...


Cici mulai terbangun karena merasa cahaya matahari pagi yang menyilaukan matanya, membuka mata secara perlahan-lahan.


"apa aku masih dirumah pria angkuh itu?" tanya Cici dengan suara khas bangun tidur pada dirinya sendiri, perlahan dia duduk dengan memegang kepalanya yang masih berputar putar,


ia beranjak dari tempat tidur lalu berjalan dengan sepoyongan menuju kamar mandi untuk merendam tubuh nya untuk menghilangkan sakit di kepala.


setelah selesai dengan ritual membersihkan tubuhnya, ia berdiri di depan cermin melihat pantulan tubuh nya yang polos itu,


"kenapa seperti ini kok bisa merah?" gumamnya saat melihat tengkuk leher nya ada tanda merah.


"ahk sudah lah" ia mengabaikan tanda itu, menurut nya mungkin hanya kena cakaran kukunya.


saat hendak mengambil baju yang sama yang ia pakai untuk di pakai kembali, baju itu sangat bau menyengat aroma minuman itu sangat memabukkan ketika di cium, Cici yang masih memakai kimono mandi merasa bingung memikirkan mau pakai baju apa sedangkan dia tidak membawa baju cadangan.


ia pergi ke lemari yang ada di kamar itu, berharap semoga ada baju yang bisa Cici pakai


CEKLEKK


setelah di buka dan ternyata ada 1 dress yang tergantung di dalam lemari itu, Cici pun mengambil nya dan mencocokkan ke tubuh nya itu.


"woww sangat indahh " Cici terkagum menatap dress putih yang ada di hadapannya, ia pun segera memakai pakaian itu agar bisa cepat membersihkan apartemen pria angkuh itu, karena mulai hari ini Cici menjadi pengganti pembersih apartemen Al.



***


beberapa jam berlalu ia membersihkan apartemen mewah itu, Cici cukup senang karena apartemen itu tidak terlalu berantakan hanya berdebu,


ia sudah membersihkan semua ruang terkecuali kamar Milik pria itu,


"apakah pria itu ada di dalam?" tanya nya saat di ambang pintu kamar Al.


tokkk tokkk


Cici mengetuk pintu kamar Al tetapi tidak ada jawaban, dengan akhirnya ia memberanikan diri untuk masuk ke kamar itu.


"huuffff, Untung saja pria itu tidak ada, hmm mungkin ia sudah berangkat ke kantor" gumam nya seraya membereskan buku-buku yang berserakan dimana-mana,


saat asik membersihkan kamar Al, liontin anting nya terjatuh ke bawah tempat tidur, Cici pun berusaha mengambil anting nya tapi sangat susah, ia pun berusaha mengambil liontin itu walaupun celah spring bed itu kecil. saat asik berkutik di bawah sana telpon apartemen berdering tanda panggilan masuk. Cici hanya mengerutkan keningnya, siapa yang menelpon Jam segini, ia pun menghentikan kegiatan nya berjalan menuju asal suara telpon itu


kring kring

__ADS_1


"hallo, maaf tuan Al tidak ada, nanti saja telpon ulang" jawab Cici judes to the points.


"Hay gadis bawel" teriak seorang pria di balik telpon,


Cici yang mendengar suara itu hanya membelalakkan matanya, ia sangat hapal suara berat itu.


"tu-tuan Al?" tanya Cici.


"iya sudah hapal kau dengan suara ku" ujar Al.


"CK" decak cici kesal. "ada apa menelpon? kau menganggu ku saja membuang waktu ku tau" teriak nya yang membuat Al menjauh kan handphone nya dari telinga.


"ambil berkas warna biru di atas meja di dalam kamar Ku dan langsung bawa kekamari " ujar Al dengan nada memerintah, Cici Yang mendengar perkataan itu membuat nya kesal.


"kau kira aku pesuruh mu?"


"iyaa kini kau pesuruh ku, kalau tidak kau paham bukan?" ancam Al, sebenarnya Al di sana sedang tertawa puas karena bisa mengerjai gadisnya, Al bisa saja menyuruh anak buahnya tetapi tidak, ia ingin Cici sendiri lah datang ke kantor agar para karyawan tau kalau Cici calon nyonya Al.


mau tidak mau Cici pun menuruti perintah Al, "iyaaa puass " jawab nya dengan malas plus menahan emosi,


"baik lah sebentar lagi supir akan menjemput mu" kata terakhir sebelum telpon terputus


bisa di bayangin ya Albert Danendra tertawa bahagia melihat kepasrahan Cici, ha-ha-ha


.


.


.


.


kurang lebih 35 menit waktu yang di tempuh dari apartemen menuju kantor.


setiba di depan kantor raksasa itu, Cici menjadi pusat perhatian dengan makeup natural ala Cici, rambut gelombang yang terurai, dengan memakai dress putih yang semakin membuat nya mempesona di padu dengan sepatu sneaker yang senada berjalan dengan lenggak-lenggok sungguh membuat nya semakin sexsy.


laki laki menganga saat melihat jelmaan Dewi, ada yang berjalan tidak pokus yang akhirnya menabrak pintu,


banyak yang memuji kecantikan nya banyak juga yang menatap sinis tidak suka dengan Cici.


"permisi! dimana ruangan tuan Al, Albert Danendra" ujar Cici ramah kepada salah satu karyawan wanita.


seperti nya wanita itu tidak menyukai Cici, dia hanya menatap cici dengan tatapan sinisnya.

__ADS_1


"buat apa ketemu pak Albert, dia sangat sibuk" Jawab nya dengan judes.


"aku tanya sekali lagi dimana dia!" bentak Cici melihat kan sikap aslinya kepada wanita di hadapan nya itu,


wanita itu pun kaget dia kira wanita itu lemah ternyata tidak


"berani nya kau berteriak di hadapan ku nona, kau belum tau siapa aku disini" ucap nya sinis,


Cici Yang semakin geram dengan sikap nya ia pun berteriak memanggil Al , membuat orang orang menatap nya.


"Al! Al kau dimana, Al!!" teriak Cici dengan memekakkan telinga mereka.


datang lah satpam untuk mengehentikan kericuhan yang ada di situ.


"maaf nona mohon jaga sikap Jangan membuat keributan" ujar satpam dengan tegas .


"kalian belum tau siapa aku, aku buat kau"ujar Cici menunjuk ke wanita Sombong tadi. " dan kau" selanjutnya menunjuk satpam.


"menyesal " ucap nya sinis


beberapa menit kemudian datang lah Albert di sela sela kericuhan tersebut karena sang sekretaris memberitahu kan bahwa ada gadis yang mengamuk di bawah, Al pun terkejut dia tau pasti gadis bawel itu, segera berjalan dengan langkah besar menuju tempat keributan itu.


"berhenti" tegas Al berada di belakang mereka semua, semua karyawan berbondong-bondong menyaksikan tontonan gratis yang di kenal julukan gadis pemberani karena dia melawan wanita yang tergila-gila dengan tuan Al tak da Yang berani selain Cici, kedua berani membuat kericuhan di kantor Al yang di kenal kantor yang paling disiplin, dan ketiga mengancam posisi mereka.


"sayang!!" teriak Cici langsung menghampiri Al,


"lihat lah mereka membentak ku" ucap nya dengan mengandeng lengan Al dengan manja.


Al terkejut mendengar Cici memanggilnya dengan sebutan sayang, jangan kan Al para karyawan pun terkejut dan langsung menundukkan sedikit kepalanya sebagai rasa hormat lalu meninggalkan Al, Cici, wanita gila itu, dan satpam disana.


"kenapa kau diam, mereka sudah kurang ajar dengan ku" ucap Cici pura pura cemberut ala kekasih yang sedang kesal, Al melihat wajah Cici seperti itu membuat nya semakin gemas , mencubit kedua pipi Cici di hadapan mereka.


"awww, sakit" teriak Cici mengelus pipi nya,,, sebenarnya Cici tidak Sudi memanggil nya sayang tapi ia begitu kesal dengan sikap wanita itu, bisa di lihat wanita itu sedang menahan emosi nya saat melihat Al begitu dengan Cici.


"kalian sudah berani membuat tunangan ku kesal di kantor ku sendiri" ucap nya tegas menatap kedua karyawan nya itu,


Al sungguh aktor yang handal bisa akting mendadak, ia sungguh menikmati permainan ini, dengan cara ini ia akan selalu dekat dengan Cici.


"ma-maaf pak" ucap serempak mereka berdua sambil menunduk kan kepala.


"minta maaf kepada ciysa" ujar Al dingin, mau tak mau wanita itu meminta maaf kepada ciysa walaupun di hati nya ingin menjambak rambut Cici karena sudah berani merebut Al dari nya.


"maaf kan saya nona" ucap mereka,

__ADS_1


Cici tersenyum menang tetapi ia belum puas dengan kejadian itu, akhirnya ia meminta sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan.


__ADS_2