
di hotel mewah FM Pranda, milik Raymond Pranda.
Feren kembali ke hotel dengan perasaan sedih, dirinya gagal menemui sang putri tercinta. Menatap foto Cici yang sedang memeluk Raymond yang di ambil secara diam-diam oleh Jeo.
merasa berlarut larut memikirkan keberadaan Cici hampir membuat nya lupa makan karena selera makan nya hilang, walaupun kini feren sudah normal tetapi itu tidak membuat nya lepas untuk meminum obat khusus untuk penyakit depresi nya selama beberapa tahun ini.
"nyonya, kenapa anda belum juga makan? apakah makanan nya tidak enak? mau saya belikan yang lain". tanya wanita itu yang usianya tidak berbeda jauh dari feren.
panggil saja wanita itu dengan sebutan Niki, yang mungkin 2 tahun lebih muda dari feren. Niki yang sudah bertahun-tahun lamanya merawat dan menjaga feren dari sakit hingga sembuh seperti ini, wanita itu bagaikan alarm hidup feren, maka dari itu Raymond memutuskan Niki lah yang pergi untuk menemani feren, tanpa Niki feren akan kesepian.
"nanti aku akan memakan nya, sekarang aku sama sekali belum lapar". Jawab feren menatap Niki.
hanya bisa membuang nafas, kini Niki paham yang dirasakan nyonya nya itu.
"nanti kita akan mencari Cici lagi, aku sudah mendapatkan alamat tempat tinggal Cici dan suaminya". ujar Niki memberi tahu kabar gembira itu.
"Benarkah?". tanya feren dengan mata berbinar-binar.
"ya mana mungkin saya berani berbohong, tapi dengan satu syarat Anda harus makan terlebih dahulu". bujuk Niki
tanpa berpikir panjang lagi feren Mengangguk setuju dan Langsung mengambil nampan berisi sepiring nasi lengkap dengan lauk pauk yang berada di atas nakas samping tempat tidur nya.
belum sempat menyuap untuk kedua kalinya feren sudah kehilangan kesadaran nya, membuat Niki panik setengah mati yang secara tiba-tiba pingsan dengan wajah yang pucat. Dengan cepat Niki memanggil bodyguard untuk mengangkat dan membawa feren kerumah sakit.
dirumah sakit.
semua dokter yang menangani Cilla panik bahwasanya pasien kritis dan kehilangan banyak darah akibat kuat nya benturan keras di kepala akibat kecelakaan itu.
"dok pasien mengalami pendarahan lagi". ujar cemas sang suster.
"tolong siap kan dua kantong darah, cepat!". perintah Al kepada suster tersebut.
Dengan langkah cepat suster itu keluar untuk mengambil kantong darah tersebut.
__ADS_1
5 menit kemudian.
"dokter,,, dokter maaf darah yang kita butuhkan sudah kosong". kata suster.
"oh shitf". umpat Al.
angel yang masih terdiam menatap anak kecil itu di penuhi alat alat medis yang menempel di tubuh nya.
"ayo keluar dan bilang kepada mereka agar mereka semua bisa membantu kita untuk mencari darah nya". ucap celsie berusaha menenangkan Al yang mulai kacau.
ceklek.
keluar aldrich dan celsie.
"gimana, cilla baik baik aja kan?". tanya Cici memegang tangan Al penuh harap.
*masih dalam keadaan kritis, kita membutuhkan darah secepatnya Bert". ujar Al menatap sodara kembar nya itu.
"persediaan darah yang kita butuhkan sedang kosong, tolong cari pendonor darah secepatnya kalau tidak dia...". Al tidak sanggup melanjutkan perkataan nya lagi.
"Elard, sabar lah nak". ujar Loren berusaha memenangkan di kondisi yang tegang itu.
"apa golongan darah Cilla Al?". tanya Loren.
"–O". jawab celsie.
"–O? itu darah yang langka". sambung Geof.
mendengar itu dengan cepat Clara pergi untuk mencari pendonor darah secepatnya, ia tidak ingin hidup dengan rasa bersalah.
"ini bagaimana? darah kita berbeda dengan nya". ucap Cici menatap Cilla dari luar pintu.
"aku akan pergi mencari darah itu sampai dapat, tenang lah tunggu disini kabari aku kalau ada sesuatu". ucap Bert seraya melangkah kan kaki nya.
__ADS_1
"tunggu dulu Bert". kata Elard yang berhasil membuat langkah itu terhenti.
"ada apa lard, aku harus pergi untuk mencari donor darah secepatnya". ujar Bert menatap sahabatnya yang bimbang itu.
"coba periksa darah ku terlebih dahulu perasaan ku mengatakan bahwa golongan darah ku sama dengan cilla". ucap nya sedikit ragu ragu.
"tidak ada salahnya kita mencoba dulu, ayo ikut aku". ucap Al dengan cepat membawa Elard untuk memeriksa nya.
beberapa waktu kemudian.
"syukur lah bocah perempuan itu keponakan dokter Al mendapatkan pendonor darah". ucap seseorang suster lewat dengan jelas terdengar oleh keluarga Danendra.
"suster maaf kalau boleh tahu siapa pendonor nya?". tanya Cici penasaran. soal nya sembari tadi Al dan Elard tak kunjung tiba.
"sahabat dokter Al". jawab suster itu dan segera berlalu.
"Elard". gumam Bert.
"yak tebakan Lo bener banget bro". ucap Elard yang saja datang dengan keadaan sedikit lemes.
"ah syukur lah, akhirnya anda ada gunanya juga". sambung Winda membuat semua orang bertatapan dan langsung di sambut tertawa.
"sial lu, untung gue lagi Baek hati kalau GK". ujar Elard menatap kesal Winda termasuk semua orang yang tertawa itu.
"kalau GK Lo mau apain dia, jangan macam-macam lu berhadapan Ama gue". sela Geof langsung merangkul pinggang Winda yang tiba-tiba datang dari belakang.
membuat Winda sedikit malu, tidak dengan Cici saja tetapi juga orang tua yang ada di sana.
...****************...
"lihat lah akibat kecerobohan anda yang tidak mau makan, sekarang terbaring bukan?, di sini gimana mau cari Cici kalau sakit begini". ucap Niki yang sedang menyuapi feren.
diam tak bergeming, dia sadar diri nya melakukan kesalahan dengan itu feren tidak berani melawan ocehan Niki.
__ADS_1
hanya menatap jendela yang transparan itu dari dalam ruangan nya, tatapan nya terhenti detak jantung yang kuat saat melihat siapa yang sudah melintas dengan pakaian polisi di depan ruangan nya.
"Cici? apakah itu Cici Putri ku". gumam nya tanpa sadar menitik kan air mata