
di sudut kota, tuan Raymond Pranda sedang memaki maki anak buah nya. yang bertugas untuk mencari ciysa. Ya sudah hampir satu bulan ini pria paruh baya itu termasuk feren telah menanti kehadiran sang cucu, ia rela mengeluarkan uang banyak untuk mencari keberadaan sang cucu cara apapun akan ia lakukan asal bisa berkumpul dengan cucu nya.
"kenapa kalian begitu lama mencari nya" bentak pria paruh baya yang masih betah menatap taman yang luas penuh dengan bunga-bunga yang cantik.
"ma-maaf kan kami tuan, beri kami waktu satu Minggu lagi!" pinta salah satu anak buah jeo dengan sedikit menunduk kan kepala.
"waktu kau bilang!" tegas Raymond menatap beberapa anak buah di hadapannya.
"aku sudah mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk kalian tapi kalian belum juga menemukan nya!" teriak pria itu yang emosinya sudah naik pitam, seraya memberikan kode lirikan mata ke pada suruhan nya yang selalu setia di samping nya.
bukk bukk
bukk bukk
sebuah bogem mendarat di perut beberapa anak buah tersebut seperti yang di kode kan tuan Raymond.
dan saat pria paruh baya itu ingin menunjang mereka, datang lah jeo menghentikan kekerasan yang terjadi.
"cukup tuan, tenang lah dulu, ingat lah dengan kesehatan anda" ucap jeo di sela sela kemarahan Raymond, mereka merasa beruntung karena jeo datang di waktu yang tepat kalau tidak sudah dipastikan mereka sudah menjadi perkedel, karena hanya jeo yang mampu menenangkan pria paruh baya itu.
"bagaimana aku bisa tenang jeo, mendengar setiap hari feren bertanya kapan ciysa pulang kemari" ujar pria itu dengan suara yang agak lemah dan mata berkaca-kaca.
"aku mengerti tuan, kalau saya boleh biar kan saya yang menghandle mereka" ujar jeo melirik tajam kepada beberapa anak buah nya, dan segera meninggalkan tuan Raymond sendiri di sana mungkin benar tindakan jeo pria paruh baya itu butuh waktu sendiri untuk menenangkan pikiran nya.
seperkian detiknya tanpa sadar tuan Raymond menitikkan cairan bening di wajah keriput itu. dari kejauhan di balik kaca mata tebal yang dia kenakan dirinya melihat feren sedang sibuk membersihkan kamar untuk anak gadisnya itu, hampir setiap hari dia membersihkan kamar itu, feren tidak mengizinkan satupun pelayan masuk ke dalam kamar buah hati nya itu.
kini kenapa begitu besar rasa bersalah terhadap cucu nya, kenapa baru kini menyesal? kemarin kemana saja? kenapa kau mencari nya? ketika kau sudah menemuinya apa dia mau menerima mu? mau memaafkan dirimu Raymond? kau sungguh granpa yang jahat. air mata nya terus terjun tanpa bisa di bendung, begitu banyak pertanyaan yang ada dipikiran nya ia hanya diam dan merenungi kesalahan nya, sungguh itu tidak ada gunanya
Menyesali perbuatan yang sudah terjadi, bisa membuatmu menyalahkan diri sendiri Tidak ada kenyamanan ketika seseorang merasakan penyesalan. itulah yang kini di rasakan pria itu walaupun ia merasa senang membuat menantunya itu menderita tetapi di hati kecil nya begitu sangat sedih karena apa yang telah ia lakukan kepada kedua cucunya itu, sebuah penyesalan kini sudah tak berarti, kini cukup menikmati alur yang telah di bangun oleh dirinya sendiri.
Saat pintu maaf telah tertutup rapat, kesalahan yang lalu tertinggal jauh dalam ingatanku, semua yang terjadi tidak pernah bisa kembali, hanya satu kata yang bisa aku ucapkan atas segala kesalahan yaitu sebuah kata maaf, maafkan granpa mu ini!!
hanya kata kata itu yang keluar dari mulut nya, yang dapat di lihat betapa besar rasa penyesalan itu.
***
__ADS_1
"selamat malam tuan" ujar jeo saat melihat Raymond mematung di depan pintu kamar feren.
"malam, ada apa jeo"
"bisakah kita bicara empat mata tuan" ujar jeo membuat Raymond memandang nya dengan serius.
"baiklah, mari kita ke kamar ku" jawab nya sembari mereka berdua berjalan menuju kamar pria tersebut.
saat telah berada di dalam kamar dua orang Pria itu sedang terlibat perbincangan serius yang dapat di lihat dari raut wajah mereka.
***
"hufff, sungguh Hari ini sangat panas" gumam Winda yang sedang menjalankan patroli di siang terik.
"hedehhh, bentar lagi juga kelar ni patroli nya buk polwan" ujar salah satu rekan sesama polisi datang dari belakang Winda.
"tapi ngerasa GK sih, hari ni bener panas woi" ucap Winda sambil mengipas wajah nya dengan tangan.
"iya, berarti nanti pasti sunset nya lebih indah" jawab rekan nya sambil menyodorkan tisu ke Winda,
percakapan pun berlangsung
.
.
.
.
setelah patroli selesai Winda memutus kan untuk memanjakan dirinya di salon, beberapa menit kemudian sampai lah di tujuan.
waktu sudah memasuki salon itu, Winda melihat seseorang yang gerakan nya sangat mencurigakan, tapi ia memutuskan untuk tidak gegabah dalam mengambil keputusan, yang akhirnya ia hanya memperhatikan gerak-gerik wanita itu lewat pantulan cermin.
saat Cici menoleh ternyata wanita itu hendak terburu-buru keluar dari salon tersebut sehingga ia menabrak salah satu pelanggan yang mau masuk.
__ADS_1
bukk bukk
milik wanita yang mencurigakan itu terjatuh, membuat ia menjadi pusat perhatian yang ada di dalam salon itu.
"Hay itu dompet milik ku" teriak salah satu ibuk ibuk menunjuk dompet yang tergeletak di lantai.
Winda yang mendengar itu segera Winda berlari menangkap wanita tersebut dan langsung mengamankannya.
plakkk
sebuah tamparan mendarat di pipi wanita tadi
"berani nya kau mencuri!" tegas pemilik dompet tersebut.
"tenang lah buk, tidak boleh ada kekerasan saya akan menelpon pihak berwajib, coba cek dompet anda apakah ada kekurangan?" pinta Winda, dan segera ibuk itu memeriksa dompet dan tas miliknya lalu menggeleng pertanda tidak ada kekurangan.
wanita tadi hanya menggerakkan tangan seperti memberikan isyarat bahwa ia meminta maaf, ia melalukan itu karena terpaksa karena sang buah hati di rumah sedang kelaparan
Winda yang mengerti bahwa wanita itu tunawicara,
dia hanya menjelaskan dengan bahasa isyarat bahwa mencuri bukan solusi yang bagus, dan ia mau memaafkan kan wanita bisu itu kali ini dengan syarat ketika suatu hari nanti ketahuan mencuri, Winda tidak akan memaafkan kan nya. saat wanita itu hendak pergi dari hadapan mereka Winda menahan langkah nya.
"tunggu sebentar" ucap Winda dengan bahasa isyarat segera mengeluarkan dompet nya dan mengambil beberapa lembar uang lalu memberikan wanita tersebut,
wanita itu menangis betapa bahagianya ia mendapat uang agar bisa anak nya bisa makan,
"terimakasih" ucap nya dengan bahasa isyarat, dan tidak lupa saat hendak keluar dari salon itu ia meminta maaf kepada ibuk tersebut, merasa iba ibuk itu pun memaafkan nya.
"sungguh mulia hati mu nak" ujar ibuk itu kepada Winda seraya memegang wajah Winda,
Winda menjawab dengan melempar kan senyum ramah, ada perasaan begitu nyaman saat ibuk itu menyentuh wajah ku ada apa ini? apakah ibuk itu juga merasakan apa yang kurasakan.
siapakah ibuk tersebut? kenapa ada perasaan aneh ketika di sentuh nya? apakah keluarga winda?
okeh reader jangan lupa di like, vote, agar author semakin semangat 🥰, terimakasih!!!
__ADS_1