Terjerat Bayangan Cinta Polwan

Terjerat Bayangan Cinta Polwan
pilihan


__ADS_3

tujuh bulan sudah usia kandungan Clara, hari demi hari bulan demi bulan yang ia lewati tanpa adanya sosok pria yang memanjakan nya layak seperti perempuan hamil pada umumnya.


memang Clara yang tidak pernah kekurangan perhatian dari kakak laki-laki nya yaitu Albert, aldrich, Geof dan kadang Elard yang selalu membelikan makanan sehat untuk Clara.


kasih sayang dari orang tua tidak pernah kurang di berikan Loren dan Dalbert, hanya saja hati wanita hamil itu merasakan kesepian, dirinya sangat tersiksa ketika mendadak ngidam di tengah malam, kepada siapa dirinya meminta? tak enak hati meminta kepada keluarga nya yang mungkin kini sudah tertidur lelap.


melirik jam yang ada dinding kamar nya yang menunjukkan pukul 11.00 malam hari. menelan Saliva nya dengan kasar, menahan keinginan itu hingga esok pagi.


berusaha memejamkan matanya tetapi tak kunjung tertutup, pikiran nya kini tertuju sate dan membayangkan betapa nikmatnya malam malam yang dingin sambil menatap rembulan dengan menikmati sate hangat. hmmm enak sekali.


apa mau di kata seperti nya kali ini harus menahan keinginan itu, orang kaya berlimpah harta hidup dalam kemewahan tetap,i kini dirinya merasa malah sebaliknya, tidak bisa mendapatkan apa keinginan nya.


tidak dapat menahan nya lagi Clara memutuskan untuk pergi sendiri mencari apa yang ia inginkan, dirinya tidak menghiraukan bahwa hari yang sudah malam dan tidak di dampingi oleh seseorang.


"sabar ya nak, mommy akan mencari nya, hmm mommy juga tidak sabar". monolog pada dirinya sendiri seraya mengelus perut nya yang sudah membesar.


sepanjang jalan memperhatikan sekeliling ibu hamil tersebut tidak menemukan apa yang ia cari, tidak ada kata menyerah, hampir 1 jam berkeliling akhirnya dirinya menemukan pedagang keliling yang menjual sate di tepi taman.


"aku hampir lupa bahwa hari ini malam Minggu tentu saja masih buka jam segini". lega nya menatap gerobak sate yang di kelilingi anak anak muda yang sedang bermalam mingguan.


keluar dari mobil nya.


"pak sate nya satu ya". ujar Seorang pria tampan yang bersamaan datang dengan nya,


"baik den". jawab penuh semangat bapak tua itu.


saling menatap dan melempar senyum.


"pak sate nya satu ya". ucap Clara memesan penuh semangat seraya memegang perutnya.


"eee maaf neng, sate nya udah habis, ini tinggal satu Porsi untuk Aden itu". jawab bapak tua itu dengan sopan sambil menunjuk pria tampan yang sedang duduk di kursi dengan bermain ponsel nya.

__ADS_1


"maaf neng". lanjut pedagang itu tak enak hati.


"apakah tidak ada lagi pak, eee sedikit saja. Aku sangat menginginkan nya apakah bapak tega melihat bayi ku nanti ngences karena tidak mendapatkan sate". ucap Clara cemberut.


mendengar kata bayi ku. pria itu menoleh kepada wanita yang sedang berdiri.


berdiri, berjalan mendekati Clara dan pedagang itu.


"apa satenya sudah siap?". tanya pria itu.


"su-sudah siap den, ini". jawab pedagang itu sambil melirik Clara yang menatap sate yang ia pegang, sungguh tak enak hati, tapi apa mau dikata, siapa cepat dia dapat, itulah pepatah nya dari dulu.


dengan mengembangkan seulas senyum paksa yang ia terbitkan untuk kedua laki laki itu, mengikhlaskan nya, mungkin tidak rejeki mu malam ini. itulah pikiran Clara.


hendak melangkah kaki untuk pergi dari tempat itu,


"tunggu nyonya". Tutur pria itu berhasil membuat langkah nya terhenti.


membalikkan tubuhnya.


"ambil lah ini, mungkin kau lebih membutuhkan nya ,hmm maksud ku bayi mu". ujar pria itu dengan suara yang tenang dan wajah yang teduh.


"ti- tidak usah tuan, terima kasih. Mungkin ini bukan rejeki kami memakan nya". tolak Clara. mulut berkata tidak tetapi hati berkata ia, ingin sekali nya merampas sate itu, oh no. itu tidak sopan.


"kemari lah, duduk disini". ujar pria itu menuntun Clara untuk duduk di kursi tersebut, sangat tidak baik berdiri lama lama saat hamil pasti itu sangat melelahkan.


Clara pun mengikuti instruksi dari pria itu.


"makan lah, nanti sate nya dingin dan itu kurang enak". lanjut nya menyodorkan sepiring sate ke arah Clara yang terdiam.


"ayo makan lah, demi anak mu agar tidak ngences nanti". canda nya berhasil membuat Clara mengambil sate itu.

__ADS_1


"terimakasih". ucap Clara mengembangkan senyum manis nya,


memakan nya dengan lahap, dirinya menikmati lezatnya sate sehingga melupakan orang sekitar termasuk pria yang ada di hadapannya,


"mmm sangat enak". ucap Clara bahagia.


"pelan pelan nanti keselek". ujar pria itu, gemas melihat cara Clara makan seperti anak kecil.


memang benar mood wanita hamil memang susah di tebak, tapi wanita ini lucu, gemas, cantik, sempurna. akhh apa yang kau ucap kan kalau suami nya tahu bisa habis riwayat ku. gumam batin pria itu.


"kau sendiri?". tanya pria itu yang di jawab anggukan kepala oleh Clara.


"malam malam begini? tidak ada seorang pun yang menemani mu?". lanjut nya dengan jawaban yang sama.


melihat nya sudah selesai makan, ingin sekali bertanya di mana suami nya, tahan tidak mengeluarkan keinginan untuk bertanya.


"di mana Suami mu?".


srett pertanyaan itu tiba-tiba keluar begitu saja karena rasa penasaran,


mendongak, menatap wajah pria yang bertanya itu. kesal, marah, kecewa, sedih bercampur aduk menjadi satu.


apa yang harus aku jawab, tidak seharusnya aku memberi tahu masalah pribadi ku kepada orang asing.


melihat respon itu,


"maaf kan saya nyonya, saya tidak bermaksud. karena tidak baik seorang wanita yang sedang hamil keluar selarut ini". jelas nya tak enak hati.


"akh iya tuan, kalau gitu saya permisi dulu, terimakasih satenya". ujar Clara.


Dengan cepat ia meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


"akh mulut lu emang GK bisa di kontrol, dasar El". monolog pada dirinya sendiri, merasa kesal.


...****************...


__ADS_2