
melihat Albert dan Clara berlalu, kini pandangan nya beralih ke Aldrich sang kekasih, ingin minta penjelasan mengapa ia tidak pernah menceritakan kalau dirinya mempunyai saudara kembar,
"kau ingin menjenguk Geof kan?" tanya Aldrich menatap Winda,
"iya tapi"
"masuklah tapi hanya sebentar kalau Clara tahu, kau paham bukan?" tanya Aldrich yang di anggukan kepala oleh Winda, ia segera berjalan menjauh dari Cici dan Al, ia paham maksud Al mengizinkan dirinya masuk,
"ikut aku!" ajak Al menarik pergelangan tangan Cici,
"kemana?" tanya Cici menyerngitkan dahinya
"ke tempat dimana kita bisa bercerita, kau butuh penjelasan tentang ini semua kan?" ujar Al yang hanya melirik sekilas ke arah Cici yang terdiam.
Cici yang pasrah saja mengikuti langkah Al dengan menggandeng tangan nya dengan mesra membuat para karyawan rumah sakit terkejut dengan apa yang dilihat nya kini, Al yang memiliki kepribadian sangat persis seperti Bert sama sama tidak suka memperlihatkan apapun tentang apapun termasuk hubungan asmara nya,
__ADS_1
berjalan dengan langkah santai akhirnya sampai di tempat yang di maksud Al yaitu taman rumah sakit, yang pemandangan nya sangat asri dan nyaman,
"duduklah!" ucap Al menuntun Cici untuk duduk di samping Nya.
"maaf kan aku selama ini aku tidak pernah menceritakan tentang saudara kembar ku, dasar dari sebuah hubungan adalah keterbukaan, kejujuran dan kepercayaan. mungkin kau berpikir kenapa aku menyembunyikan itu kan?"
"iyaa, mengapa? kau selalu memberitahu tentang keluarga mu, apa yang kau suka dan tidak suka tetapi mengapa tidak dengan saudara kembar mu sendiri". ucap cici mencari kejujuran dari tatapan mata Al.
"apa aku bilang kalau Bert saudara ku sendiri juga mencintai mu? apa kau akan memilih aku atau Bert? apa nanti aku akan bisa menerima keputusan mu?. batin Al menatap cici.
"aku sangat mencintaimu. Ciysa, hidup ku tanpa mu tidaklah lengkap, apapun aku lakukan untuk mu agar selalu terlihat bahagia, tapi maaf kan aku kalau masalah perasaan,hati dan cinta aku menjadi egois, tapi kau bisa merasakan detak jantung ku bukan? jantung ini berdetak hanya untuk mu Cici" ujar Al menggenggam tangan Cici seraya memindahkan nya ke arah dada Dimana detak jantung berdetak.
melihat ketulusan Al Cici sangat bahagia tapi tidak dapat di pungkiri bahwa hati kecil nya tidak selega menatap wajah Saudara kembar nya itu.
"siapa namanya?" tanya Cici
__ADS_1
"kembaran ku?" tanya Al di jawab anggukan oleh Cici
"namanya Albert, Albert Danendra" kata Al menatap cici.
ucapan Al bagaikan Sambaran petir di siang hari yang cerah, Cici begitu terkejut ia tidak dapat berkata-kata lagi, apa harus sedih setelah mengetahui ini semua nya? apa yang harus aku lakukan? mengapa aku bodoh? mengapa aku tidak pernah menanyakan siapa nama laki-laki yang akan menjadi calon suami ku?, jadi siapa nama laki-laki yang ada di hadapan ku ini?. pikiran cici yang hanya mematung berdebat dengan hati dan pikiran nya.
"Al- Albert?, jadi nama mu bukan Albert? kau bukan Albert Danendra? bukan pria angkuh itu?" tanya Cici dengan detak jantung berdetak hebat menanti Jawaban dari Al.
"apa maksud mu sayang, aku calon suami mu aku Aldrich Danendra bukan Albert" jelas Al bingung.
begitu shock mendengar itu, Cici yang tidak tahu harus apa ia memutuskan untuk pergi dari hadapan Al yang membisu, diam yang bingung mengapa seperti itu respon Cici
"Cici!" teriak Al melihat punggung cici menjauh.
Cici yang masih bingung dengan keadaan yang melanda pikiran nya ia tidak menghiraukan teriakkan Al memanggil dirinya.
__ADS_1
dengan segera Al berdiri dari tempat duduknya dan segera berlari menghampiri Cici