Terjerat Bayangan Cinta Polwan

Terjerat Bayangan Cinta Polwan
dia bukan istri ku


__ADS_3

meninggalkan pesta dengan perasaan campur aduk, mengambil mobil sport mewah nya dari dalam garasi di kediaman keluarga Danendra.


dengan langkah yang tidak bisa di atur dirinya segera masuk ke dalam kendaraan mewah nya, lalu mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi menuju apartemen pribadi nya, disana lah tempat Bert bebas menuangkan segala emosi dan kesedihan tanpa di ketahui oleh siapapun.


brakk!!


bunyi vas bunga yang tidak sengaja tertendang oleh dirinya,


Bert membiarkan saja vas itu berserakan dan segera berjalan menuju kamar nya,


"akhh!" teriak Bert saat sudah berada di dalam kamar nya.


menatap ke semua arah mencari botol minuman nya, karena hanya minuman lah yang menjadi sahabat setia nya kini. Berdiri berjalan ke arah meja yang terletak di samping lemari nya, ia tahu pasti Clara menyimpan minuman nya disitu,


benar dugaan nya semua minuman nya di simpan di bawah meja.


lalu dirinya mengambil empat botol minuman.


tanpa aba-aba Bert langsung meminum nya, dirinya melupakan janji nya kepada Clara kalau dirinya tidak akan minum kembali.


"mengapa aku tidak bisa mengikhlaskan mu ci!" teriak nya


"sudah berbulan-bulan aku mencoba untuk melupakan mu tapi mengapa aku malah semakin mencintai mu, kenapa ci? apa kau ingin aku terluka kau ingin melihat kekalahan ku?" lanjut nya dengan suara khas orang mabuk.


"aku akan pergi jauh dari kalian berdua aku aku tidak sanggup melihat kebahagiaan itu, tetapi kalau kau kembali dengan tatapan yang sama jangan salah kan aku kalau aku akan merebut mu dari dia saudara kandung ku" ujar Bert yang sudah mulai hilang kesadaran.


di sisi lain.


"bagaimana? apa dia sudah sampai di apartemen nya?" tanya Winda kepada Clara.


kini acara sudah selesai semua para tamu sudah berangsur pulang.


Cici dan Winda kini masih menginap di rumah utama keluarga Danendra,


di kamar tamu.


"okeh kita mulai ketika Cici keluar dari kamar mandi" ujar Clara menatap pintu kamar mandi, yang ada Cici di dalamnya yang sedang berganti pakaian.


"okehh" jawab Winda mengacungkan jempol Nya ke arah Clara.


"aku pasti sangat merindukan mu" ujar Winda yang mulai berakting di hadapan Cici yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"jangan lupakan aku ya" lanjut nya memeluk Clara dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


"aki tidak akan melupakan mu dan Cici, kalian sahabat terbaik ku" jawab nya melirik kearah Cici yang sedang kebingungan.


"ada apa ini? kenapa kalian terlihat sedih?" ucap Cici menghampiri mereka.


"tuan Albert dan Clara akan pergi dari kota ini, dia tidak akan kembali kemari lagi" ujar Winda pura pura sedih seraya menundukkan kepalanya.


"a-apa?" gumam cici dengan mata berkaca-kaca, entahlah mendengar itu membuat Cici merasa sedih.


"apa kau tidak ingin bertemu dengan nya untuk terakhir kali?" tawar Winda menatap dalam mata Cici,


'ta-tapi.." kata Cici menggantung dan beralih menatap Clara yang berada di sebelah Winda.


Clara pun mengangguk kan kepala nya dengan seulas senyuman manis di bibir sexsy nya.


"benarkah? apa aku boleh bertemu dengan nya?" ucap Cici bertanya memastikan bahwa dirinya tidak salah melihat anggukan oleh Clara.


"tentu saja boleh, pergi lah dia kini berada di apartemennya" jawab Clara berdiri dan memegang pundak cici.


"ini minum lah dulu, pasti kau sangat lelah" ucap Winda menyodorkan segelas jus lemon ke arah Cici.


tanpa curiga dan tanpa aba-aba Cici meminum jus tersebut dengan penuh semangat dan menghabiskan kan hanya sekali tegukan.


"dia sedang terpuruk Cici, bantulah dia untuk berdiri kembali" batin Clara menatap punggung Cici yang sudah berlalu dari hadapan mereka.


"rencana selanjutnya" seru Winda berdiri dengan wajah berbinar-binar.


sesampainya di depan apartemen Cici langsung masuk begitu saja untung dirinya masih hapal pin apartemen Bert,


"Bert!" teriak Cici menatap seluruh ruangan tersebut mencari keberadaan Bert.


tidak ada sahutan


Cici memutuskan berjalan menuju kamar Bert.


"Bert apa yang kau lakukan" teriak Cici terkejut melihat Bert yang sudah terbaring lemah di atas lantai dengan memegang botol minuman.


"ayo bangun!" ucap Cici memapah badan Bert menuju ranjang,


begitu banyak botol minuman yang tergeletak begitu saja di lantai.


"baby" lirih Bert dengan suara berat memaksa membuka matanya yang sudah mulai menutup.


"kau terlalu banyak minum" kata Cici menutup hidung nya karena aroma menyengat keluar dari mulut Bert.

__ADS_1


"untuk apa kau kemari? apa kau tidak mau menghabiskan waktu mu dengan tunangan mu itu?" tanya Bert menepis tangan Cici yang memapah tubuhnya.


"aku bisa sendiri aku tidak butuh bantuan mu, pergi lah" usir Bert yang masih setengah sadar,


Brukk!.


Bert terjatuh saat Cici melepaskan tangannya.


"jangan sok kuat kalau kau sendiri tidak bisa berdiri!" kesal Cici membantu Bert .


"mengapa kau menyiksa dirimu sendiri?" lanjut Cici.


"karena kau baby kau lah yang menyiksa ku, kau lah yang membuat ku seperti ini" jawab Bert yang sudah tidak sadar apa yang ia katakan lagi.


"maksud mu?" tanya Cici seperti meminta jawaban lebih.


"ya aku tidak sanggup kau bahagia dengan pria lain selain diriku"


"kenapa?" ucap Cici bertanya berusaha memancing jawaban yang bisa memuaskan perasaan nya.


"karena aku hanya mencintai mu, dari dulu hingga kini aku hanya mencintai mu, aku tidak rela kalau kau bersanding dengan pria lain walaupun itu saudara kembar ku sendiri" jelas Bert menatap cici dengan mata sayu nya.


alangkah senangnya mendengar itu, cinta ku tidak bertepuk sebelah tangan. tapi...


"sadar lah Bert kau kini sudah menikah kau milik Clara kau akan menjadi seorang ayah" teriak Cici tanpa sadar meneteskan air mata Nya.


"hahaha,,, Clara Adalah adik ku,bukan istri ku, dia sepupu ku anak dari adik kandung mama ku" jawab Bert.


Deg...


mendengar itu adalah sebuah kelegaan hati yang tidak bisa di gambarkan oleh kata kata,


"aku men-mencintaimu ciysa" ucapan terakhir sebelum Bert ambruk terjatuh,. dirinya sudah tidak sadar diri lagi.


dengan sabar Cici menuntun nya untuk naik ke atas ranjang, dengan perlahan tapi pasti Cici membuka satu persatu kancing kemeja yang di kenakan Bert yang sudah basah dan sangat bau akibat minuman.


setelah selesai mengganti pakaian Bert, saat Cici ingin beranjak dari duduknya, dirinya mendadak merasa begitu pusing.


"mengapa kepala ku begitu pusing" ujar Cici sepoyongan memegang kepalanya.


karena sudah tidak dapat di tahan lagi, Cici naik ke atas Ranjang mendudukkan tubuhnya. dirinya tertidur dengan posisi duduk dengan tangan memegangi rambut Bert.


sementara Winda dan Clara, . mereka melanjutkan rencana kedua nya.

__ADS_1


__ADS_2