
"mengapa kau memutuskan untuk pergi? mengapa? mengapa kau goyahkan harapan ku Geof? apa kau tidak ingin berkumpul dengan sahabat sahabat mu? kau ingin menghukum ku bukan, tapi tidak begini cara nya! tidak begini!" ujar Winda menangis tersedu-sedu di samping jenazah Geof.
"aku akan melakukan apapun itu asal kau bangun, aku tidak akan menolak apa yang kau mau" lirih Winda dengan wajah sembab.
"benarkah kau akan melakukan semua yang aku Minta?" tanya Geof dengan suara lemah nya.
ya, Geof sudah sadar, itu berkat dari kekeuhan Winda untuk tidak melepaskan peralatan medis itu.
mendongak menatap wajah Geof yang masih tertutup dengan balutan kain putih rumah sakit, memberanikan diri untuk membuka kain tersebut untuk memastikan dirinya tidak salah mendengar suara pria itu.
"kejutan" ujar mereka serempak mengejutkan Winda,
kejutan apa ini? sungguh tidak lucu, aku sudah menangis sembari tadi, lihat lah mata ku seperti di Sengat lebah, tetapi mereka malah tertawa mengerjai ku. tetapi di balik kekesalan itu dirinya sangat bersyukur karena Geof sudah sadar. pikir Winda.
dengan refleks ia memeluk tubuh Geof, tangis nya semakin pecah di dalam pelukan Geof, pria itu tersenyum merkah menyambut pelukan itu,
disudut sana ada seseorang pria yang menyaksikan drama ini, saat ingin dirinya bertemu Winda dan membawa bunga yang sangat cantik, seketika mood nya hancur, bunga yang ia pegang jatuh ke lantai saat menatap pemandangan yang menyayat hati nya itu, siapa lagi pria itu kalau bukan El, elfathan Gazwan, than nya lipop.
El memutuskan untuk pergi dari situ daripada dirinya menyaksikan yang akan semakin membuat luka itu perih.
"kau jahat, ini tidak lucu kenapa kau sangat senang mengerjai ku apa kau tidak puas melihat air mata ku tumpah!" kesal Winda sedikit refleks memukul dada Geof.
"aww" ringis Geof pura pura sakit saat mendapat kan pukulan itu.
"apakah sakit aku minta maaf, aku tidak sengaja" ujar Winda merasa bersalah seraya mengelus dada Geof.
"sakit, hati ku sakit saat melihat kau menangis" ujar nya menyerka air mata di sudut mata Winda. mendapat perlakuan itu, entahlah hati mulai berkicau.
"tetapi aku bahagia saat melihat mu begitu cemas akan diriku" lanjut menjentikkan jari nya ke dahi Winda,
"awww" ringis Winda memegangi dahinya.
"ada orang disini lho, apa kita nggak kelihatan ya?" ujar Cici pura pura tidak memperhatikan dua orang yang lagi merindukan itu.
"oiya siapa yang punya ide seperti ini?" tanya Winda menatap ke arah Cici, ia tahu siapa yang punya ide segila ini kalau bukan Cici yang jahil itu.
"tatapan Anda betul sekali buk polwan" kata Elard yang memperhatikan tatapan kesal Winda mendarat di mata Cici.
flashback off 📌
"Al! Al" teriak Bert mencari keberadaan dokter Al.
mendengar teriakkan Bert, Al langsung berlari menghampiri Bert ia takut akan sesuatu hal terjadi terhadap Geof,
"ada apa?" tanya Al panik,
"tadi tangan Geof bergerak, cepat periksa dia" titahnya Bert.
__ADS_1
saat sudah memasuki ruangan tersebut, terlihat Geof yang sudah membuka mata nya, ia tersenyum menyambut kedatangan Bert dan Al. Mereka berpelukan seraya meneteskan air mata bahagia.
"sebentar, aku akan memeriksa nya terlebih dahulu" kata Al yang di anggukan oleh semua orang.
beberapa menit berlalu,
"sebuah keajaiban yang di luar nalar, perjuangan Winda menghasilkan buah, dan ini juga berkat kalian yang tak henti nya berdoa" kata Al menatap Geof dan para sahabatnya secara bergantian.
saat keyakinan kita dan kepasrahan kita terhadap Tuhan yang maha kuasa, percaya lah ia tidak akan mengecewakan hamba hamba nya yang senantiasa percaya akan kebesaran-Nya.
"di mana Winda?" tanya Geof yang belum melihat wanita yang ia tolong itu.
" satu jam yang lalu ia pergi ke kantor polisi" jawab Cici.
"apa kalian semua mau membantu ku dalam rencana ini? aku ingin membuat kejutan untuk Winda" lanjut nya mengembangkan senyuman jahil nya.
"apa itu?" Elard penasaran.
"kemariilah" ujar Cici memanggil Elard, Bert, Al untuk berkumpul di sekitar brankar Geof, agar ia juga bisa mendengar rencana itu.
"ide yang sangat cemerlang nona" puji Geof menyetujui ide konyol Cici,
"bagaimana?" tanya Cici menatap tiga pria yang masih tidak mengeluarkan suara nya..
"tidak masalah, setuju saja" jawab elard yang di anggukan oleh Bert dan Al.
.🕳️🕳️🕳️
kini Geof sudah di pindahkan ke ruangan VIP,
Kabar Geof yang sudah sadar tidak lupa Bert memberi tahu Clara kabar bahagia itu melalui pesan WhatsApp,
Clara yang baru saja selesai mandi ia mendengar ponsel nya berbunyi yang ia letakkan di depan meja rias dirinya.
membaca pesan di notif beranda, penuh semangat ia bersiap siap untuk bisa segera menjenguk kakak kesayangan nya itu.
perjalanan yang cukup macet membuat nya agak telat sampai di rumah sakit, kecepatan kendaraan mewah itu hanya kecepatan sedang karena Albert sudah mewanti-wanti sopir saat sedang membawa Clara.
berjalan dengan anggun melewati lorong lorong rumah sakit, saat sampai di ambang pintu di mana Geof yang sudah di pindahkan ruangan nya. dirinya langsung membuka pintu tanpa aba-aba.
dan sontak membuat Winda terkejut yang sedang menyuapi makanan untuk Geof.
dapat di pastikan Clara akan mengusir dirinya dari sini, ia sangat benci melihat dirinya yang sudah membuat Geof seperti ini.
tatapan tajam membunuh tepat mendarat di netra mata Winda, hanya bisa pasrah akan apa yang terjadi setelah ini.
"kakak!" ujar Clara dengan wajah berbinar-binar berlari memeluk kakak kesayangan nya.
__ADS_1
"aku senang akhirnya Kakak tidak meninggalkan ku seperti mereka" lanjut nya meneteskan air mata.
"tidak aku tidak akan meninggalkan mu dan juga Winda!" jawab nya sekilas menatap Winda, mendengar nama perempuan itu Clara hanya menatap tidak suka ke arah Winda dengan sekilas.
"kenapa untuk dia? dia lah orang yang sudah membuat kakak seperti ini" kesal Clara.
"ngapain masih disini pergi sana" usir Clara terhadap Winda.
"Clara, aku tidak suka melihat mu seperti itu" kata Geof sedikit kesal.
"maksud nya? Kakak lebih milih dia gitu" kesal Clara yang mata nya sudah berkaca-kaca seperti ingin menangis.
"tidak sayang, kemarilah" ujar Geof lembut menepuk ranjang nya. segera Clara duduk di sebelah Geof.
"kau menyayangiku bukan? kau tidak ingin jauh dari ku kan?" tanya Geof yang di jawab anggukan oleh Clara,
"sama seperti ku aku juga tidak ingin jauh dari Nya, karena dari sekarang ia akan menjadi pengawal atau pengasuh pribadi ku" lanjut Geof membuat mereka yang mendengar nya tidak percaya akan keputusan Geof.
seorang polwan akan menjadi pengawal pribadi nya? pengasuh? apa tidak salah?.
mata Winda yang masih membulat sempurna saat mendengar perkataan itu,
"Hay apa mau bola mata mu keluar? kan tadi kau sudah berjanji apapun akan kau lakukan untuk diriku" kata Geof dengan bangga.
mengingat janji di saat Geof belum sadar,
"iya aku setuju" jawab nya mengembangkan senyuman.
semakin membuat Clara kesal, padahal dirinya ingin menjauhkan Winda dari Geof tapu mengapa malah semakin dekat.
"sayang,. bisa kah kau berjanji akan satu hal? ini saja permintaan ku" kata Geof menggenggam tangan Clara.
"apa itu? apapun akan ku penuhi kakak selalu memberi ku semuanya, dan kini aku akan memberi apa yang Kakak mau" jawab nya menerbitkan senyum manis membalas genggaman tangan itu.
"aku ingin berdamai lah dengan Winda! ini hanya kecelakaan, kita lupakan yang kemarin lihat lah Kakak mu yang tampan ini sudah mulai sembuh" ucap Geof menatap Clara penuh harap.
ia tahu adik nya itu tidak suka menaruh dendam , hati nya sangat baik.
menatap Winda sedikit lama.
"maaf kan aku" lirih Winda mengulur kan tangan nya.
"aku juga minta maaf" jawab Clara dengan senyuman nya, bukan nya ia membalas uluran itu tetapi dirinya membalas dengan pelukan hangat.
mendapat respon seperti ini dari Clara kini hati sudah terasa lebih tenang,
melihat suasana yang sudah membaik membuat mereka tersenyum bahagia,
__ADS_1
Cici menatap Clara dengan kagum, bukan paras nya saja yang cantik tetapi hati nya juga baik, merasa senang dengan pilihan Bert, Clara memang gadis yang sangat cocok untuk Bert.