
mereka semua bertepuk tangan menyoraki sepasang kekasih yang sedang berbahagia itu,
"aku tahu pasti dirimu sangat terluka menyaksikan ini" batin Geof seraya merangkul Albert yang sedang bertepuk tangan kecil sedikit ulasan kecil di bibir tampan nya itu.
disudut sana, Cici yang sedang berpelukan dengan Al, begitu cantik dirinya malam ini sehingga siapapun yang melihatnya akan berpaling termasuk Bert yang sembari tadi tidak berhenti menatap wanita yang akan menjadi milik orang lain, Bert berharap dirinya lah berdiri di sana.
tetapi mau di katakan apa, takdir nya kini tidak berpihak kepada dirinya.
saat semua tamu sedang menikmati hidangan, Bert yang hendak meninggalkan pesta tersebut, di halangi oleh Clara.
"mau kemana dad?" ujar Clara memegang tangan Bert.
"aku ada urusan" jawab nya dengan ekspresi datar.
"hmm,,,apa kau tidak ingin berdansa dulu, aku sangat ingin berdansa pasti akan sangat bahagia" ucap Clara memasang wajah sedih nya,
melihat itu Bert mengurungkan niat nya untuk meninggalkan acara itu,
"baiklah kita akan berdansa tapi hanya sebentar, okehh!" ucap bert menekan kan kata sebentar,
sungguh ia tidak bisa berlama-lama di sini, berpura pura tersenyum untuk menyaksikan kebahagiaan mereka, hanya karena Clara dirinya masih bertahan di acara itu, ia tidak ingin melihat kesedihan di wajah adik kesayangannya.
.
.
.
.
tibalah di acara yang di nanti Clara sembari tadi yaitu berdansa.
semua pasangan termasuk Cici dan Al, Clara dan Bert, Winda dan Geof, elard dan salah satu anak rekan bisnis nya dan beberapa pasangan lain nya yang ikut meramaikan dansa itu.
alunan musik yang romantis menambah kesan di malam itu,
"kau sangat cantik Winda" ujar Geof menatap dalam mata Winda.
__ADS_1
"te-terimakasih Geof, ee,, maksud ku tuan Geof" jawab Winda gugup.
ya, semenjak winda Bekerja sebagai pengawal atau pengasuh pribadi Geof, dirinya di minta untuk memanggil Geof dengan sebutan tuan,
"aku harap hubungan kita langgeng sampai maut yang memisahkan sayang" ucap Al penuh senyum bahagia.
"i- iyaa" jawab Cici membalas dengan senyuman.
sementara Bert yang terus memandangi Cici dengan seulas senyuman di balik perih nya luka di hati,
"sabar lah dad setelah ini aku jamin kau akan bahagia" ujar Clara keceplosan.
"maksud mu?" Bert menatap adik nya itu dengan menyerngitkan dahinya.
"ah tidak, aku hanya berdoa agar kau akan selalu bahagia" kilah nya menatap Winda sedang tersipu mendengar kata kata indah keluar dari mulut bayi Basar itu.
saat alunan musik berubah pertanda saat nya mereka bertukar pasangan, sebelum itu Winda memberi kode kepada Clara. semua wanita berputar dan mendapatkan pasangan baru.
alangkah terkejutnya Cici yang berpasangan dengan Bert,
"ternyata ini maksud mu tadi Clara? ya aku bahagia walau ini hanya sebentar, setidaknya ini adalah terakhir kalinya aku bisa sedekat dan menikmati ini" batin Bert menatap cici yang hanya menunduk.
"you are so beautiful baby" ucap bert mengangkat kepala Cici"
"te-terimakasih" jawab Cici menatap lekat mata Bert seolah-olah dia meminta Bert untuk membawanya pergi dari sini,
"ada apaa? apa kau bahagia dengan ini semua?" tanya Bert menatap mata Cici yang berkaca kaca.
"ah tentu" ujar nya tersenyum
"tentu tidak" batin nya, cairan bening mendarat tepat di pipi mulus Cici.
"kenapa kau menangis" tanya Bert menyerka air mata Cici.
"air mata bahagia" sekali lagi Cici membiarkan air mata nya membasahi pipinya, entah air mata bahagia atau kesedihan,
"aku tidak suka melihat mu menangis apa lagi ini bukan air mata kebahagiaan" ucap Al memegangi pipi Cici.
__ADS_1
mendongak menatap wajah Al, mengapa dirinya tahu? apakah dirinya mengerti perasaan ini?.
"apa aku boleh memeluk mu untuk terakhir kalinya?" pertanyaan bodoh yang di lontarkan kepada Al.
"tentu" tanpa pikir panjang Bert mengizinkan Cici memeluk nya,
segera Cici memeluk Bert dan menangis di dalam pelukan nya, air mata yang membendung sembari tadi tidak dapat ia tahan lagi,
"mengapa takdir begitu kejam dengan ku?" gumam cici lirih yang masih terdengar jelas oleh Bert.
"tidak,, dia tidak kejam mungkin ini jalan yang terbaik untuk mu dan diriku" jawab Bert pelan di telinga cici,
suara detak jantung yang sama-sama bisa di dengar, deru nafas yang sesak menahan perih nya kenyataan dunia,
Aldrich menatap kekasih dan Kakak nya yang masih berpelukkan di tengah tengah keramaian yang sudah selesai berdansa,
ia tidak mempermasalahkan kalau mereka berpelukan, toh Cici adalah miliknya, pikir Al.
tetapi apa yang akan di pikirkan para tamu melihat ini, dengan segera Al berjalan menghampiri dimana Bert dan Cici masih berlarut merasakan kehangatan yang dirindukan Mungkin pikirnya inilah yang terakhir.
"cici, Al!". deham Al yang menyadarkan dua insan itu,
segera Cici melepaskan pelukannya dan meninggal kan Bert yang masih terdiam menatap kepergian Cici,
sementara itu Clara menatap Bert dengan iba dan memberi anggukan kepala kepada Bert bahwa dirinya mengizinkan Bert untuk pergi meninggalkan pesta itu.
#ciysa
#aldrich
# Albert
__ADS_1