Terjerat Bayangan Cinta Polwan

Terjerat Bayangan Cinta Polwan
perdamaian 2A (Albert & Aldrich)


__ADS_3

memang kelihatan nya Al sangat tenang dan santai saat mengutarakan kalimat nya, tetapi tidak dengan hati Al yang sangat pilu. Dokter cel yang memberi support walau hanya dengan cara mengenggam tangan Al.


entahlah ekspresi apa yang ingin di tampilkan, aku tahu Al sangat lah sedih akan ini tetapi tidak dapat ku pungkiri bahwa hati ku sangat bahagia mendengar keputusan nya.


hanya diam, tuan Dalbert Danendra dan sang istri tercinta hanya memandang satu sama lain, sementara Cici, Bert. Diam tidak melirik siapapun.


"ee mohon maaf semua, tuan Dalbert dan nyonya Loren, sangat berat hati aku mengatakan bahwa aku harus kembali kerumah sakit karena ada yang darurat". ucap celsie di sela sela keheningan di meja makan itu, dirinya merasa tidak enak hati karena bahwasanya cel yang datang terlambat dan pulang paling awal.


"iya cel, tidak apa apa kan lain kali kau bisa kemari lagi". jawab Loren dengan ramah, dan mengerti kesibukan cel yang sebagai dokter.


"mom aku akan pergi kerumah sakit juga" ucap nya menatap cel yang sedang di rundungi perasaan berbunga-bunga.


"ah, baiklah hati hati" jawab Loren.


setidak nya berkat kehadiran cel bisa membuat Al sedikit tenang, Yap. Loren tahu dokter cantik itu menyukai putra bungsu nya sejak dirinya kerumah sakit untuk menemui Al, terlihat cel yang selalu perhatian akan kesehatan Al dan cara memandang Al.


...****************...


"ombet!, nenek, nenek" teriak Cilla saat sudah bangun dari tidur nya memanggil Albert dan nenek nya yang tidak ada di samping nya.


"Cilla!". teriak pengasuh yang bert bayar untuk menjaga prince nya Bert, yang baru saja kembali dari belakang.


"sayang ada apa?, cup,,,cup". ucap pengasuh itu berusaha menenangkan bocah kecil itu.


"mana ombet?" tanya Cilla dengan mata berkaca-kaca, dirinya tidak melihat Bert saat bangun tidur apalagi ini sudah malam pasti bert sudah pulang kerja dan akan mengunjungi dirinya, tetapi lihat lah sekarang Bert tidak ada disini.


"dia pulang dulu kerumahnya untuk mandi, kan disini ombet tidak punya baju makanya ombet pulang dulu dan nanti akan kesini lagi" jawab pengasuh itu dengan mengelus lembut rambut Cilla.


mendengar penjelasan itu membuat Cilla sedikit tenang.


"nenek?" tanya Cilla mendongak ke atas menatap wajah pengasuh itu


"ee,,, nenek,,,". ucap pengasuh itu gugup dirinya bingung cara memberi tahu bocah kecil itu dimana keberadaan nenek nya.


"nenek ada dia lagi tidur sayang, yok bobok lagi kalau tidak mau bobok nanti ombet marah" lanjut wanita itu dengan menyebut nama Bert, alhasil Cilla menurut dan melanjutkan tidur nya.


flashback off 📌


saat Bert memutuskan untuk pulang karena dapat telpon dari mommy nya, dengan perasaan cemas dirinya buru buru pulang.


buk Nini yang keadaannya semakin hari semakin memburuk, tidak ada perkembangan sama sekali maka dari itu Bert bersikeras untuk membawa nya kerumah sakit, tapi buk Nini malah menolak nya.

__ADS_1


setengah jam berlalu.


buk nini yang tidak bisa tidur akibat batuk nya semakin menjadi, batuk dan batuk. dokter pribadi yang di tugas kan semakin cemas.


"Hukk hukkk" batuk buk Nini sudah mengeluarkan darah.


dokter yang semakin panik tanpa pikir panjang memerintahkan anak buah Bert untuk mengangkat buk Nini dan membawanya kerumah sakit.


saat di perjalanan buk Nini sudah tidak sadar diri, dengan segera dokter itu memberi tahu cel untuk menyiapkan ruangan IGD.


pesan:


"dokter cel, aku akan menuju rumah sakit dengan membawa pasien yang kritis tolong siap kan semua nya, terimakasih." isi pesan tersebut tersampaikan kepada dokter cel.


flashback on 📌.


🕳️🕳️🕳️


Bert yang sudah berada di kamar nya mengingat kembali kejadian tadi dimana Al yang sudah melepaskan Cici.


melirik jam yang ada dinding kamar besar itu, menunjukkan pukul 11.05pm. sudah sangat malam untuk kembali kerumah buk Nini untuk mengecek kondisi nya, tetapi Bert yang merasakan ada sesuatu yang terjadi.


pikiran nya langsung tertuju kepada buk Nini dan Cilla, segera Bert mengambil jaketnya dan tidak lupa dengan kunci mobil nya, dengan langkah besar bert keluar dari kamar nya.


sampai lah dirumah sederhana milik buk Nini, terlihat dari luar hanya ada satu pengawal dan tidak ada mobil yang terparkir.


"selamat malam tuan" sapa bodyguard Bert.


"Dimana yang lain?" tanya Bert penasaran,


"mereka sedang membawa buk Nini kerumah sakit dengan dokter, karena buk Nini batuk nya sudah mengeluarkan darah tuan" jelas nya membuat Bert terkejut.


"ya Tuhan" ujar Bert memegangi kepalanya.


" Cilla ada di dimana?" tanya Bert cemas akan bocah kecil itu saat tahu keadaan nenek nya.


"dia ada di dalam bersama pengasuh nya tuan, dan seperti Cilla tidak mengetahui buk Nini masuk rumah sakit" jelas pria bertubuh besar itu.


setelah berbincang-bincang dengan bodyguard nya,


Bert segera menuju ke rumah sakit dengan kecepatan tinggi agar lebih cepat Sampai.

__ADS_1


tidak butuh waktu lama Bert akhirnya sampai dirumah sakit,


"suster sebentar" ujar Bert yang berhasil memberhentikan langkah suster yang melintas di depan nya.


"di mana ruangan buk Nini yang baru saja masuk rumah sakit bersama dokter Aldo" tanya Bert kepada suster.


"ah, itu tuan baru saja di bawa ke ruang IGD lantai 5 oleh dokter Aldo, Al dan cel". jelas suster tersebut.


"terimakasih" ucap Bert segera menuju ruangan yang di maksud.


tling..


pintu lift terbuka, dari kejauhan tampak Al yang berdiri di luar ruangan.


"Al" panggil Bert saat sudah dekat.


"Bert, kenapa kau kemari selarut ini?" tanya Al menaik kan alis matanya.


"aku ingin mengetahui keadaan buk Nini" jawab Bert.


"kau mengenal nya?di mana?" tanya Al yang begitu penasaran, sudah kelihatan bukan yang dulu Bert dan Al selalu bertukar cerita selalu berbagi cerita tentang apapun itu, walaupun hal kecil. dan kini lihat lah sudah berbeda.


sedih tentu saja.


akan kah ini berlangsung lama? tidak, jangan. cukup sampai disini renggang nya hubungan antara mereka karena cinta sudah cukup, toh titik terang nya sudah dapat dan jelas, buat apa di ingat lagi, cinta dapat di cari tapi saudara tidak dapat terganti.


"tidak berubah, bertanya lah satu satu". kesal Bert di sambut tawa nya.


Al yang mendapat respon itu hanya mengaruk kepalanya Yang tidak gatal.


terdiam, saling menatap


"maaf kan aku" lirih Bert menjulurkan tangannya.


"ststst, diamlah tidak ada permintaan maaf, lupakan dan mulai lembaran baru" jawab Al memeluk erat Saudara kembar nya.


dengan mata berkaca-kaca Bert membalas pelukan saudara nya.


"baiklah cepat jawab pertanyaan ku" dengus Al yang belum mendapatkan jawaban atas pertanyaan nya.


"gini waktu itu....(bla,,,blaa)". Bert pun mulai menceritakan segalanya tentang kedekatan kini dengan bocah kecil itu yang sudah dia anggap seperti anak nya sendiri.

__ADS_1


Betapa terharu nya Al melihat ketulusan hati Bert yang sembari dulu tidak pernah berubah, Bert tidak pernah memandang seseorang dari segi manapun. menolong dan memberi kebahagiaan kepada orang lain itu bagaikan obat yang membuat nya merasa bahagia, toh buat apa memiliki banyak harta tetapi tidak pernah bersedekah, harta tidak di bawa mati, pikir Bert.


__ADS_2