
berjalan dengan langkah yang santai menuju ruangan IGD, ia mengedarkan pandangannya saat melihat seseorang yang tidak asing sedang menelpon, setiba di depan ruangan IGD tersebut banyak laki laki bertubuh besar.
"kenapa banyak sekali orang, akh Yasudah bukan urusan ku" Cici menghitung para pria itu yang ada enam orang memakai seragam berjas hitam lagak nya seperti bodyguard orang kaya yang ada di TV.
"permisi sus apa dokter Al ada di dalam?" tanya Cici saat melihat seorang suster baru saja keluar dari ruangan itu.
"iya mbak dokter Al lagi periksa pasien kalau Mbak nya mau masuk silahkan" ujar suster ramah.
"ti-tidak usah saya menunggu saja di sini, terima kasih" jawab Cici, ia merasa tidak enak masuk begitu saja pasti itu akan membuat Al terganggu akan kehadiran nya secara mendadak, pikir ciysa.
"mm baiklah kalau gitu saya pergi dulu" pamit nya sebelum meninggalkan Cici yang sedang duduk di kursi tunggu di depan ruangan tersebut.
beberapa menit berlalu keluar Al.
Al terkejut tapi ada rasa bahagia atas kehadiran Cici yang membuat lelah nya hilang seketika saat menatap wajah gadis yang di cintai.
"sayang!" ujar Al menyadarkan lamunan Cici
"hmm" ucap Cici menatap Al sembari berdiri.
"apa itu granpa Raymond Pranda?" tanya Cici melihat Pria tua itu terbaring lemas memakai infus dari pintu yang terbuka oleh Al.
"iya benar dia tuan Raymond" jawab Al melirik kearah pria tua itu.
"ada apa ci" lanjut nya memegang pundak cici, karena ia bisa melihat kecemasan di wajah Cici.
"apa aku boleh masuk untuk menjenguk nya" pinta Cici penuh harap.
tentu saja Al mengizinkan tetapi tidak bagi pria bertubuh besar itu, ia menghadang Cici saat ingin memasuki ruangan itu mereka tidak mau Mengambil resiko dengan mengizinkan orang asing masuk kedalam dan itu sesuai dengan itruksi sang asisten kepercayaan tuan Raymond yaitu Jeo.
"aku hanya ingin melihat granpa " tegas Cici merasa kesal ia merasa dirinya adalah penyusup Yang akan menyakiti pria tua yang lemah itu.
"maaf nona ini sudah perintah" tegas pria berjas hitam itu.
"sebentar saja" pinta Cici dengan wajah memelas entah lah ada perasaan apa yang jelas kini dirinya sedih melihat pria tua itu yang ia sebut dengan Granpa.
"tidak bisa sekali tidak..." bentak nya kepada Cici, sebelum sempat menerus kan kalimat nya datang lah jeo.
"ada apa ini, kenapa mencari keributan Disini" tegas jeo dari belakang Cici yang baru saja datang.
__ADS_1
"Cici" gumam jeo.
"tuan apakah aku boleh melihat tuan Raymond sebentar saja,aku tidak akan berbuat apa-apa aku hanya ingin menjenguk nya saja tidak lebih." jelas Cici berharap kali ini berhasil.
memberi isyarat kepada bodyguard yang sedang memegang tangan cici agar melepaskan nya.
"masuk lah" singkat nya mempersilahkan Cici masuk ke dalam.
dengan senyum yang terukir indah di balik bibir kecil itu,
"terima kasih tuan" ujar Cici kepada mereka segera masuk meninggalkan Al yang bingung kenapa secara tiba-tiba mengizinkan orang lain selain dokter dan suster.
saat ingin masuk menyusul Cici langkah Al terhenti saat seorang suster memanggil dirinya, karena ada seseorang yang ingin bertemu dengan nya dengan berat langkah Al meninggalkan Cici dengan beberapa anak buah Raymond.
"ketika perempuan tadi, Cici. ingin bertemu dengan tuan Raymond izin kan saja jangan pernah melarang nya bertemu tuan Raymond dan satu lagi jangan pernah membentak Cici apalagi berbicara seperti tadi" tegas jeo menatap beberapa anak buah nya.
"baik tuan, maaf kan kami" ujar salah satu dari mereka.
di dalam ruangan Cici sedang duduk di samping brankar tuan Raymond. ia menatap lekat lekat wajah pria itu.
"mengapa perasaan ku saat bertemu dengan nya merasa ada ikatan yang aku sendiri tidak tahu, bangun lah granpa tolong jelas kan tentang perasaan yang sedang ku alami ini" gumam cici tanpa sadar menitikkan cairan bening entahlah Yang jelas kini aku merasa sangat sedih melihat nya terbaring lemah seperti ini.
"bangun lah, granpa orang yang kuat" lanjut Cici seraya menggenggam tangan keriput itu.
"berjuang lah tuan, lihat lah cucu mu kini sudah ada di sisi mu, apa kau tidak ingin memeluk nya bermain dengan dirinya maka dari itu kau harus sembuh" batin jeo yang masih menatap dua insan itu.
bercerita, Cici masih ingin bercerita apapun tentang kesedihan yang ia lewati kebagian yang di alami semuanya ia ceritakan dengan Raymond yang masih belum tersadar entah mengapa ia ingin sekali bercerita dengan laki-laki yang kini ia merasa seperti sudah dekat.
saat sudah merasa lelah bercerita ia memutuskan untuk keluar dari ruangan itu untuk membiar kan Raymond istirahat ketika ingin melepaskan genggaman tangannya dari Raymond tiba-tiba tangan pria tua itu bergerak pertanda ia mulai siuman.
"granpa sudah sadar, tunggu sebentar aku akan memanggil dokter" ujar Cici seraya berdiri
"Cici" panggil Raymond.
"tunggu sebentar aku akan kembali" segera Cici keluar untuk memanggil dokter.
"dia cucuku, cucu ku yang selama ini aku cari" gumam nya tatkala menatap punggung Cici seraya keluar dari ruangannya.
"dokter... dokter (teriak Cici)
__ADS_1
melihat Cici keluar berlari memanggil dokter membuat jeo dan para bodyguard khawatir akan kesehatan.
"ada apa cici, apa tuan Raymond baik baik saja?" tanya jeo cemas.
bukannya menjawab pertanyaan jeo
"panggil dokter segera" ucap Cici segera masuk melihat Raymond.
dengan segera jeo meminta anak buah nya memanggil dokter, dan dirinya masuk untuk mengecek kondisi Raymond.
betapa leganya melihat pria tua itu sudah sadar.
datang lah dokter Al untuk memeriksa keadaan Raymond.
"keadaan nya kini sudah mulai membaik jangan terlalu stres dan kecapean kalau bisa istirahat penuh dalam Minggu ini agar cepat pulih satu lagi makan lah dengan teratur" jelas Al yang di anggukan oleh mereka yang mendengar penjelasan dokter Al.
"granpa dengarkan kata dokter kalau ingin cepat sembuh maka harus ikuti semua perintah nya itu semua demi kesehatan granpa, okehh!" ujar Cici lembut seperti anak kecil yang membuat Raymond tersenyum melihat tingkah bicara nya yang di jawab anggukan oleh Raymond.
"kalau gitu aku permisi dulu". pamit Cici karena ia mengingat bahwa alasan pertama nya kemari adalah ingin berbicara dengan Al.
"cepat sekali, apa kau tidak mau menemani granpa" ujar Raymond sedih
"bukan begitu granpa harus banyak istirahat, besok aku akan datang lagi untuk menemani granpa, janji" ucap cici dengan menaikkan jari kelingking nya.
"baik lah hati hati nak" ujar Raymond khas suara lemah nya, membiarkan Cici pergi.
melihat cucu nya saja sudah bahagia apalagi bisa mengobrol dengan nya, ketika Cici tau semuanya apakah dia mau memaafkan aku? apa masih ingin bertemu dengan ku?. pikir Raymond yang masih terbaring menatap langit-langit kamar tersebut.
***
di ruangan Al,
"sayang aku minta maaf akan tadi malam karena aku mendapat kan telpon dari rumah sakit karena ada pasien yang harus segera di tangani ya dialah tuan Raymond, saking terburu-buru nya aku lupa mengabari dirimu, sorry darling" ucap nya berlutut dengan wajah menyesal.
"hmm, bangun lah tidak usah begitu" Cici menuntun Al untuk duduk di sebelah nya.
"aku sudah memaafkan mu, lagian tadi malam aku juga melupakan nya karena papa baru saja datang dari London" jelas Cici cengengesan.
"kesempatan yang cocok aku akan menemui papa mu untuk meminta Restu" lanjut Al.
__ADS_1
"oiya Al Granpa sakit apa?"
"Anemia, penyakit anemia adalah kondisi ketika tubuh kekurangan sel darah merah. Seseorang yang memiliki kegiatan yang sangat padat dan kerap merasa kelelahan.Anemia bisa disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah kekurangan zat besi" jelas Al yang di anggukan kan oleh Cici.