
"new page?" tanya Al mencairkan suasana dengan tatapan serius penuh harap
Cici yang menganga mendengar perkataan Al itu,
apa maksudmu? barusan anda bilang apa? lembaran baru?
"maksud ku mau kah kita buat lembaran baru? kita mulai dari sekarang, malam ini jam ini detik ini"
jelas Al seraya menggenggam tangan cici.
"ta-tapi tuan" sela Cici yang belum mengerti maksud pria yang ada di hadapannya.
"ciysa Edelhart, aku menyukai dirimu" to the points Al dengan tatapan serius.
Cici yang masih bungkam mendengar pengakuan itu, dirinya bingung apakah dia harus bahagia mendengar itu? atau kah sebaliknya?.
"aku tau ini terlalu cepat, aku tau itu pasti membuat mu canggung dengan ini,,, baiklah Cici aku minta untuk saat ini, kau mau menjalankan hubungan dengan ku selama 3 bulan saja? dalam tiga bulan ini kalau kau juga menyukai ku kita akan melanjutkan hubungan kita ini ke jenjang yang lebih serius" jelas Al
"apakah ini bisa di sebut hubungan kontrak tuan?" tanya Cici bingung mendengar perkataan Al.
"bisa di bilang begitu, anggap saja tiga bulan ini kita pacaran atau masa pdkt ( mengenal/mencari tau tentang pasangan kita). tetapi dalam 3 bulan ini kau tidak bisa membalas perasaan ku, kau bisa mengakhiri hubungan ini,,, aku akan terima apapun keputusan mu kelak Cici" ujar Al dengan senyum tipis.
"apakah sebercanda itu perasaan ini tuan?" ujar Cici menampakkan wajah kecewanya.
"bukan begitu maksud diri ku ci, aku sadar perasaan ini terlalu cepat untuk mu, aku ingin lebih dekat dengan mu, dengan cara ini kau akan mengetahui betapa besar rasa sayang ku pada mu ci,,, anggap saja malam ini aku sedang mengungkapkan perasaan ku kepada gadis yang baru aku kenal beberapa bulan ini"
"bisakah kau memberikan waktu untuk ku berpikir tentang semua ini?" pinta Cici.
"baiklah tidak masalah, aku tunggu besok siang di caffe x jam makan siang, aku tidak akan memaksa mu membalas perasaan ini cukup kau rasakan saja apakah perasaan ku ini nyata atau sebuah ambisi untuk mendapatkan hati mu" jelas Al dengan lembut seraya memegangi pipi Cici.
"ini untuk mu" lanjut Al menyodorkan paper bag warna cream.
"apa ini?" tanya Cici menerima barang tersebut.
"oleh - oleh dari ku dan Hadiah di malam jadian kita" ujar Al menaik turun kan alis matanya.
"aku belum menjawab nya tuan" ketus Cici.
"hehehe" cengengesan Al menggaruk tengkuknya
"pasti kau akan menerima nya ci" ( batin Al).
.
.
.
.
__ADS_1
dikamar Cici yang sedang menatap paper bag di hadapan nya itu, berpikir apakah malam ini hanya mimpi? mengapa pria angkuh itu bisa sehangat tadi? dan buat apa dia memberikan aku ini?.
Cici mengambil barang tersebut saat ingin di bukanya...
no ci jangan sekarang tunggu setelah kau sudah bertemu dengan nya besok baru di buka, jangan sekarang.
(batin Cici, dengan segera ia memindahkan paper bag itu ke meja di samping tempat tidurnya).
.
.
.
.
malam berlalu kini cahaya pagi yang cerah telah datang untuk mendengar ucapan selamat pagi dunia.
Di meja makan, cici dengan asik menikmati roti lapis nya sendiri,
"Beby" bisik Winda di telinga cici yang baru datang dari belakang.
entah mengapa panggilan Beby itu membuat jantung nya berdegup dengan kencang, iya dia ingat panggilan itu di buat oleh pria angkuh tuan Albert, ia selalu memanggil ku dengan sebutan baby,
ada apa dengan diriku? dia sudah kembali ci kenapa kau merasa dia sedang jauh? mengapa kau begitu rindu dengan nya? dasar bodoh
(batin Cici).
"oiya Lo ngomongin apa ma tu tuan Al tadi malam? gue kepo ci" lanjutnya dengan suara khas orang sedang mengunyah.
"dia tadi malam ungkapin perasaan nya dan ngajakin gue untuk berkomitmen dengan dia" santai Cici mengingat kembali kejadian tadi malam.
mendengar perkataan Cici membuat Winda tersedak
" hukkkk..hukkk" sadak Winda sambil memukul-mukul dadanya.
"pelan pelan Napa Bambang, kek Lo GK makan aja seminggu" ujar Cici mengambil kan air untuk Winda
"ehh gue baru sadar itu kan roti gue win, kalo lu mau buat sendiri noh, Napa ambil punya gue win" kesal Cici
"malas buat nya ci, hehehehe" bela diri Winda
"kan kualat Lo kan, tulah ambil milik orang tanpa izin" ketus Cici.
"idih roti doang" lanjut Winda dengan Santai memakan roti Cici kembali.
"oiyaa gimana ceritanya tuan Al pria tampan nan kaya itu ungkapin perasaan ma Lo yang begini bentuk nya?" ujar Winda menyepelekan perkataan Cici tadi.
"enak aja mulut Lo ya win, gini gini gue jadi antrian para lelaki tampan" ujar Cici mengeluarkan sifat centil nya itu.
__ADS_1
"lu kepo kan ma cerita gue" tanya Cici di Jawab anggukan kepala oleh Winda
"gini tadi malam....." Cici pun menjelaskan apa yang terjadi di antara mereka berdua.
.
.
.
.
"wahh gila keren banget ci, terima aja gue jamin hidup Lo bahagia tu ma pria tampan tuh, gue mau deh kalau ada pria yang begitu GK gue tolak deh bener" ujar Winda sambil tersenyum
"yudah Lo aja ma dia, eh salah nya dia GK mau tu ma Lo" santai Cici dengan nada mengejek.
"eeh mulut Lo ci tega bener" ucap Winda dengan cemberut
"tapi kalo lo ma dia Lo di kenal menjadi nyonya Albert Danendra, gue srius ci coba aja dulu jalani mana tahu Jodoh Lo dia, dan Gk bisa di pungkiri bahwa Lo juga punya perasaan kan sama tuan Al tapi Lo aja yang entah sadar entah pura pura bego" jelas Winda dengan jujur apa yang ia rasakan, ia ingin melihat Cici bahagia Winda akan selalu mendukung apapun keputusan Cici, tetapi malah mendapat tatapan membunuh dari Cici.
***
Di caffe yang sudah di tentukan, siang itu Al yang lebih dulu sampai, karena ia sengaja tidak menghandle pasien terlalu banyak, karena ia tidak sabar ingin bertemu gadis itu untuk mengetahui apakah jawaban nya, gara gara pertanyaan tadi malam Al tidak dapat tidur nyenyak.
sudah beberapa menit Al menunggu, datang lah Cici dengan menggunakan motor dinasnya.
"granpa!" tegur Cici melihat pria tua yabg yang bertemu nya di Taman waktu itu.
pria yang sedang di kawal oleh beberapa orang yang berbadan besar, merasa di panggil ia pun menoleh ke sumber suara.
"Cici" panggil pria itu dengan senyum yang belum pernah kelihatan oleh anak buahnya, kecuali sang asisten pribadi yang dari kecil sudah bersama nya, entah mengapa ada perasaan bahagia ketika bertemu kembali
siapa polwan itu? mengapa dia bisa membuat tuan tersenyum? sebentar mengapa sekilas wajah anak gadis itu Mirip dengan feren ya? ( batin jeo memperhatikan Cici dari atas sampai ke bawah).
"granpa, ada disini?" ujar nya seraya mencium punggung tangan pria itu. pria itu terkejut mendapat sambutan hangat dari anak itu,
"iyaa nak, kami sedang ingin makan siang disini, kau mau kemana?" tanya pria tua itu dengan lembut, seperkian detiknya asisten nya terkejut mendengar kata lembut dari tuan nya itu.
"aku ada urusan dengan teman ku" jawab Cici dengan senyum manis.
"Ciysa Edelhart" teriak Al meliha Cici sedang asik berbincang dengan beberapa pria.
mereka semua terkejut mendengar nama itu, apalagi sang granpa.
Ciysa Edelhart (gumam pria tua itu).
Cici pun menoleh ke arah asal suara.
"iya Al" teriak Cici membalas panggilan Al.
__ADS_1
"maaf semuanya aku permisi dulu" ujar Cici sebelum meninggal kan mereka di dalam kebisuan