Terjerat Bayangan Cinta Polwan

Terjerat Bayangan Cinta Polwan
hadiah


__ADS_3

"emmm". erangan cilla merenggangkan otot otot nya, melirik ke kiri kanan di mana dirinya tidak menemukan Daddy nya.


"Daddy". panggil Cilla menatap seisi kamar itu.


"mana Daddy mom?". tanya cilla mengelus pipi cici.


Cici yang sensitif akan sentuhan membuat dirinya terbangun.


"mmm ada apa sayang?". tanya Cici berusaha membuka matanya, kantuk berat yang melanda membuat ia tak sadar Bert sudah tidak ada sisi mereka.


"pipis mom". ucap nya sedikit memajukan bibirnya.


"Yasudah ayo".


"eh dimana Daddy mu?" tanya Cici baru sadar ia tidak menemukan Bert di kamar.


"entah, tadi Cilla bangun tak lihat Daddy". jawab bya seadanya.


mendengar itu membuat Cici merasa heran, melirik jam yang ada di atas nakas samping tempat tidur nya, pukul 5 dini hari kemana dia? kenapa tak memberi tahu diriku kalau ingin pergi. pikir nya.


****


sementara Bert yang kini sudah sampai di kantor nya.


satpam yang menjaga perusahaan nya bingung ada apa bos nya sepagi ini sudah sampai di kantor bahkan para karyawan Belum ada datang di jam seperti ini.


"malam,,, eh pagi bos". sapa nya sedikit menahan rasa kantuknya


"pagi, oiya nanti kalau ada yang menanyai ku bilang kalau aku sedang menunggu di ruangan ku". ujar Bert

__ADS_1


"baik pak". jawab nya semangat


Bert pun berlalu.


"bagaimana?". tanya Bert kepada asisten pribadi nya.


asisten nya pun langsung paham apa yang di katakan bos nya


"mereka sudah di jalan sebentar lagi akan sampai". jawab nya yang di anggukan kepala oleh Bert


tak selang berapa lama datang lah tamu yang sudah di nanti nanti kehadiran nya.


"selamat pagi tuan Albert Danendra, akhirnya aku bisa bertemu dengan mu secara langsung". ujar wanita bergaya elegan itu sambil menjulurkan tangannya.


"pagi nyonya, sebuah kehormatan aku bisa bertemu Juga dengan mu". jawab Bert sopan dan menerima uluran tangan itu seraya mencium nya.


"duduk lah". ajak Bert mempersilahkan wanita di depan nya untuk duduk.


kini hanya mereka berempat yang ada di dalam ruangan tersebut yaitu tuan Albert bersama asisten pribadi nya dan tamu yang bersama asisten nya juga.


"apa ini akan berhasil?". tanya wanita itu sedikit ragu


"tentu percaya lah ini tak selulit seperti merebut hati klien". kekeh Bert berusaha tidak membuat wanita di hadapan nya ragu.


"baiklah aku percaya kan ini semua kepada mu". ucap nya yang di Jawab angguk anggukan kepala dari Bert.


"permisi tuan, semua persiapan sudah selesai". sela Rayhan asisten sekaligus kepercayaan Bert.


......................

__ADS_1


sementara di kediaman Raymond Pranda, pria paruh baya itu kini sedang kesakitan, dirinya enggan untuk pergi berobat


"ayo lah ayah kita kerumah sakit". ajak Valdo Pranda adik feren,


"tidak usah aku hanya kelelahan ini faktor karena aku sudah tua". jawab nya pasrah dengan kesehatan nya dirinya berpikir hidup nya sudah tak lama lagi tetapi keganjalan kesalahan yang tertanam di masa lalu belum iya lepas kan sehingga membuat nya tak cukup tenang untuk pergi saat ini.


"aku ingin menyusul istri tercinta ku". lanjut nya menatap nanar wajah putra nya.


mendengar itu Valdo hanya diam ada rasa sakit di hati nya karena lagi dan lagi harus di tinggal kan oleh orang yang ia sayangi


"ayah yakin saat meninggalkan dunia ini akan tenang?" ujar nya menatap sang ayah


"apa maksudmu?" tanya nya yang tak mengerti maksud putra nya itu.


"Iyah apa ayah bisa pergi dengan tenang, setelah apa yang ayah lakukan kepada kakak dan Kakak ipar berserta anak anaknya. lalu apa ayah tidak ingin melihat tawa keluarga kecil itu bahagia bersama ayah, dimana ponakan ponakan ku ketika memanggil ayah dengan sebutan Grandpa lalu datang untuk memeluk mu". ujar Valdo membayangkan itu yang dirinya merasa belum tentu terjadi.


"mengapa ayah selalu saja egois? kenapa ayah tidak memikirkan kami kebahagiaan kami ayah, kau hanya memikirkan diri mu diri mu dan diri mu. Apakah kami tidak anak mu?". lanjut nya menatap kesal ke ayah nya yang kini hanya diam dengan tatapan sendu.


setelah mengucapkan apa yang seharusnya tersampaikan membuat Valdo sedikit lega, Raymond hanya bergeming mencerna omongan Valdo,


hening sejenak.


"bawa aku bertemu dengan mereka". ucap nya kecil hingga hampir saja tak terdengar.


mendengar itu Valdo mengeluarkan ponsel milik nya dan mengetik sesuatu.


"sebentar lagi dokter akan datang aku akan mengurus segala nya ayah". ucap putra nya yang terlihat jelas raut kebahagiaan terpancar dari wajah nya


Raymond pun hanya mengangguk dan menerbitkan seulas senyum nya.

__ADS_1


ingin, Raymond sangat menginginkan merasakan kebahagiaan kembali di keluarga nya tetapi rasa kehilangan itu membuat nya seperti ini, apakah mereka akan memaafkan diri ku? bisakah aku merasakan pelukan dari cucu cucu ku? kalau itu terjadi Tuhan kau boleh memanggil ku dengan senang hati aku pergi dengan rasa bahagia itu, pikir nya mengingat wajah sangat istri tercinta.


__ADS_2