
perjalanan panjang yang cukup melelahkan bagi kenric, itu tidak membuat nya terasa lelah sebelum menemui tujuan utama kenapa ia kembali ke Indonesia.
"apakah putri ku kini ada di apartemen nya?" tanya kenric Kepada asisten nya yang sibuk menelpon anak buah nya yang mencari keberadaan tuan Raymond Pranda.
"tidak tuan, dia kini sedang bekerja, ia akan pulang pukul 5 sore nanti"
mendengar ucapan itu kenric melirik jam yang ada di pergelangan tangan nya yang menunjukkan pukul 3 sore.
"aku tidak ingin menunda lagi aku ingin menemui nya sebelum ayah menceritakan semua itu" ujar kenric yang menerka apa yang akan terjadi dengan kondisi Cici setelah peristiwa 24 tahun itu terungkap.
****
di dalam ruangan kerjanya ia hanya menatap nanar pada komputer yang ada di hadapannya, beberapa harini perasaan Cici tidak menentu, memilki firasat bahwa sesuatu akan terjadi membuat pikiran nya berkecamuk.
merasa stress berdebat dengan pikiran nya itu, Cici memutuskan pergi keluar untuk mencari udara segar. dengan langkah santai keluar dari kantor menuju taman yang ada di sekitar daerah yang hampir dekat dengan kantor nya.
Ting...
"sayang" sebuah pesan singkat masuk dari Al yang membuat Cici sedikit bahagia.
"iyaa, ada apa?" balasan Cici kepada Al.
"malam nanti maukah makan di luar bersama ku?" tanya Al yang berdebar menanti jawaban Cici di seberang sana.
"hmm itu tidak buruk, baiklah aku mau" jawab Cici seraya senyam senyum membalas pesan dari sang kekasih, kontrak lebih tepatnya.
bahagia, ya Al sangat bahagia kini semakin hari semakin banyak perubahan sikap ciysa terhadap Aldrich, bulan berganti bulan yang Al pikir Cici mulai menerima dirinya untuk bersemi di hati wanita yang ia cintai.
"aku akan menjemput mu nanti sayang, sampai bertemu beberapa jam lagi" pesan terakhir sebelum percakapan berakhir.
beberapa jam yang ia habiskan sendirian di taman hingga menyambut indah nya senja,
"Selamat datang malamku, selamat jalan rinduku, hanya itu yang selalu
ku ucap, saat senja berlalu darI langiku.
Rindu menyeruak saat senja menanti malam. Geloranya tak padam, meski
diam-diam kupendam.
__ADS_1
semestaku sekarat saat punggungmu menjauh sirna. dan di ufuk barat,
tak pernah kulihat senja lebih bermuram durja.
Saat mata senja berlinang jingga, engkau hanya terlalu bahagia
mengenang luka, seperti pergi yang lupa jalan pulangnya.
Maka, suatu saat nanti. Jika cinta cukup waktu, ia akan pergi.
Menemukan inangnya. Dan kita kekasih, hanya sepasang ranting senja".
setelah puas melihat senja dan berhasil membuat nya tidak terlalu memikirkan sesuatu hal yang mengganjal di hati nya, dengan langkah santai berjalan kembali menuju kantor untuk mengambil barang nya lalu pulang untuk istirahat sejenak sebelum dinner dengan Al nanti malam, itulah pikiran Cici.
****
menatap kanan kiri sambil menikmati macetnya Jakarta kenric meminta sang asisten berhenti di salah satu restoran untuk membelikan ciysa makanan.
saat telah sampai di salah satu resto yang cukup ramai oleh kalangan anak muda yang sedang nongkrong, dinner dengan kekasih bahkan berkumpul dengan keluarga.
menatap salah satu pria yang seusia dirinya kenric menyipitkan matanya menatap pria itu, walaupun ia sudah tua tetapi ingatannya cukup kuat mengingat orang orang yang pernah ia temui.
alangkah terkejutnya pria yang mengenal kenric melihat nya kini sudah ada di hadapannya.
" berjumpa kembali tuan, apa kabar?" ujar kenric santai seraya mengulur kan tangan nya kepada pria yang sebaya dengan dirinya itu.
"saya baik tuan kenric Edelhart, senang kita berjumpa lagi dan syukur lah dirimu baik-baik saja sampai kini" jawab nya sedikit mengejek menerima uluran tangan kenric.
sela persapaan teman lama datang lah manusia yang telah di nanti kedatangannya sejak tadi.
"menantuku... akhirnya kau menginjak kan kaki mu di Indonesia kembali" ujar pria tua itu, ya dia tuan Raymond Pranda, yang baru kembali dari toilet.
"menantu... sekian lama akhirnya kau memanggilku menantu tuan" ucap kenric dengan sinis seraya berdecih.
keadaan semakin memanas tatapan yang saling membunuh satu sama lain, kalau bukan di tempat yang ramai mungkin kenric tidak akan berkutik setelah Raymond menyuruh anak buahnya menghajar kenric.
jeo yang melihat itu membuka suara
" ada apa kau kemari, jangan pernah membangun kan singa yang sedang tidur" santai nya sedikit menertawakan.
__ADS_1
"duduk lah terlebih dahulu tuan kenric" ujar jeo kembali memberikan kode ke anak buah untuk mengambil kan kursi.
"tuan Raymond Pranda yang terhormat, mengapa kau ingin menemui putri ku? apa anda tidak puas membuat ku menderita?" tanya kenric yang sudah duduk di hadapan Raymond dan jeo.
mendengar perkataan menderita dari kenric membuat Raymond melebar kan senyuman sinisnya.
"karena dia cucu juga cucu" tegas Raymond.
"hahaha cucu anda bilang" di Jawab anggukan oleh Raymond.
"kemana saja anda selama ini? mengapa baru mengakuinya kini? cucu anda bilang hahaha apakah masih bisa di sebut dengan cucu yang sembari kecil telah di pisah kan dari bunda nya sendiri". jelas kenric tak kalah tegas.
"hubungan darah tetap lah hubungan tidak bisa di pisahkan"
"mudah sekali anda berbicara seperti itu tuan Raymond 24 tahun anda menjauh kan putri putri ku dari bunda nya mereka tidak mendapatkan kasih sayang seorang ibu dari kecil. mereka menderita tuan... mereka juga merasakan kehilangan, bukan anda saja kehilangan istri saat kematian istri anda saya juga di pisah kan dari istri saya. kita sama-sama menderita sama-sama di tinggalkan oleh orang yang kita cintai"
Raymond hanya bergeming mendengar perkataan kenric.
"apakah menurut anda kedua putri saya atau cucu anda bisa memaafkan kesalahan anda.. bisa kah mereka memanfaatkan anda dengan mudah betapa kecewanya mereka ketika tau bunda nya masih hidup sudah bertahun lamanya aku bilang ke mereka bahwa bunda nya telah tiada".
"kenapa kau bilang bunda mereka telah tiada" kesal Raymond mendengar kenric mengatai putri nya feren telah tiada.
"apakah aku harus bilang bahwa granpa nya lah yang telah memisahkan Kalian dengan bunda, apakah jawaban itu yang aku berikan kepada mereka tuan!!" ujar kenric sedikit menaikkan suaranya.
"betapa bencinya mereka ketika tau itu semua ulah granpa nya, setelah mereka tau itu apakah masih mau mereka menganggap mu granpa mereka, apakah bisa mereka memaafkan anda semudah itu,,, bertahun-tahun mereka menyimpan penderitaan saat melihat keluarga yang lengkap sedang bersenda gurau, merasakan hangatnya pelukan sang ibu. tapi mereka tidak merasa kan itu dari kecil tuan... setiap hari selama 24 tahun ini mereka bertanya dimana makam bunda Dimana pa? apakah anda bisa merasakan betapa terpuruk nya kami tuan...". ujar kenric sedikit menurunkan emosi nya ia tau bahwa orang tua di hadapan nya itu juga merasakan penderitaan yang sama.
"mungkin menurut anda semuanya bisa di beli dengan uang dan uang, siapa yang tidak tau kekuasaan tuan Raymond Pranda seorang nan kaya raya. tapi kebahagiaan tidak dapat di beli dengan uang tuan. mungkin kini anda telah sadar dan ingin berkumpul dengan cucu cucu anda, tapi satu yang perlu anda ingat kedua putri ku tidak pernah ku ajarkan untuk mempunyai perasaan pendendam tapi aku tidak tau bersedia kah mereka memaafkan anda atau tidak". ujar kenric menahan sesak di dadanya, sudah lama ia menyimpan kata kata untuk ia sampai kan kepada Raymond mertua nya.
setelah puas menyampaikan ISI hati yang telah ia simpan berpuluh-puluh tahun dengan segera ia berlalu di hadapan pria itu.
dengan mata berkaca-kaca Raymond merasakan sakit di hatinya mendengar perkataan kenric, melihat punggung kenric yang sudah berlalu Raymond hanya terdiam merenungi ucapan yang keluar dari mulut menantu nya itu.
ingin rasanya kenric melenyapkan orang paruh baya itu tapi jiwa kemanusiaan nya melarang itu, karena ia masih menghargai Raymond mertua ayah dari wanita yang ia cintai hingga kini.
sungguh besar kesabaran di hati kenric, ia tidak pernah menyimpan dendam kepada mertuanya yang licik seperti monster itu demi ego Raymond tega membuat orang yang ia sayangi menderita.
Orang yang kuat dan sabar adalah orang yang mampu menyembunyikan perasaan sedihnya kepada orang lain dan senantiasa mengukir senyuman dengan ikhlas.
dan Keterpurukan mengajari kita untuk belajar bangkit dalam hal apapun dan setiap keterpurukan mengajari kita untuk selalu belajar bertahan dan sabar dalam memeranginya, tetap semangat untuk esok.
__ADS_1