
seminggu sudah berlalu.
Bert yang hampir setiap hari mengunjungi rumah wanita paruh baya itu, dirinya tidak mengizinkan wanita tua itu untuk bekerja menjual koran lagi.
Bert yang memiliki hati yang sangat baik dirinya menyuruh beberapa anak buahnya untuk menjaga prince dan wanita itu, pembantu dan dokter pribadi yang dibayar oleh Bert untuk kedua wanita itu.
entahlah hatinya sangat tidak tega melihat dua wanita itu merasakan kesedihan.
duduk di tepi ranjang menatap Cilla bocah perempuan itu yang sedang tidur pulas dengan memeluk boneka panda yang sangat besar hadiah dari Bert.
"my prince ku yang kuat, kau terlahir tanpa mengetahui siapa orang tua mu dan kini orang yang merawat mu, orang yang kau anggap nenek dia sedang sakit keras berjuang melawan penyakitnya".
Yap, wanita tua itu mengidap kanker paru-paru stadium akhir, yang memungkinkan umur nya tidak panjang lagi.
siap yang tahu umur, Bert yang berusaha keras untuk membujuk wanita tua itu untuk di bawa kerumah sakit tetapi malah di tolak mentah-mentah.
"mengapa kau tidak ingin kerumah sakit, apa anda tidak ingin sembuh melihat cucu anda Tumbuh besar" tanya Bert menggenggam tangan wanita paruh baya itu.
"sudah cukup atas kebaikan mu selama ini nak, aku tidak bisa mengikuti kemauan mu, waktu ku hampir tiba, saat aku telah tiada tolong jaga Cilla dirinya tidak mempunyai siapapun selain dirimu, kau lah pria yang sangat tepat untuk memberikan nya kasih sayang dan merasakan apa itu kasih sayang dari seorang ayah yang tidak pernah ia dapatkan, tolong jaga dia nak" ujar wanita itu dengan air mata yang tidak dapat di tahan.
"jangan bicara seperti itu buk, aku akan melakukan apapun, besok pagi aku akan membawa mu kerumah sakit" tegas Bert seraya meninggalkan wanita tua itu.
bert yang mengetahui Cilla bukanlah cucu kandung dari wanita tua tersebut yaitu buk Nini.
dulu di saat malam gelap gulita tidak ada seorang pun yang keluar di hari itu, buk Nini yang sudah sering batuk batuk. Dirinya keluar dari kamar menuju dapur untuk mengambil segelas air.
saat dirinya sudah sampai di dapur, ia mendengar ketukan pintu dari luar, menatap jam yang pukul 2 dini hari, manusia manakah yang ingin bertamu, tidak menghiraukan ketukkan pintu tersebut terdengar suara tangisan bayi di luar pintu.
"oekk, oekk"
suara tangisan yang menggema membuat buk Nini memberanikan diri untuk keluar, betapa terkejutnya saat mendapati seorang bayi dan tas yang berisi pakaian bayi, yang di baluti dengan kain berwarna pink muda, menatap sekeliling mencari ibu mana yang tega membuang anak nya sendiri,
karena cuaca yang dingin bik Nini segera membawa bayi tersebut masuk dan memeriksa apakah ada sesuatu di dalam tas tersebut.
buk Nini mendapatkan selembar surat dan kalung yang bertuliskan nama yaitu Cilla.
surat itu berisikan.
*Maaf kan mommy nak, mommy telah gagal menjadi ibu yang baik untuk mu, tapi mommy janji suatu saat nanti mommy akan menjemput mu mommy sangat menyayangi mu nak, percaya lah mommy tidak menyesal akan kehadiran mu,
__ADS_1
nyonya yang terhormat maaf kan aku telah lancang dan menyusahkan mu, karena sebuah karir untuk masa depan ku dan putri ku nanti aku mengambil langkah ini,,
tolong jaga dia, maaf kan ku*.
terimakasih.
"ternyata nama mu Cilla, kau sangat cantik sayang, mulai sekarang kau adalah cucuku" ujar buk Nini bahagia.
kini dirinya tidak lagi merasakan kesepian karena suami yang sudah tiada, dan anak anak nya sudah pergi jauh tidak peduli dengan keadaan nya lagi.
...****************...
sementara Al yang mulai menata hati nya kembali dan akhirnya dirinya memutuskan untuk pulang.
"Al" teriak Loren yang sedang duduk santai sambil membaca majalah.
"Al anak ku, apa kabar sayang" lanjut Loren menghampiri Al dan memeluk nya.
"aku sangat baik mommy, Dimana Daddy, Bert dan Clara?" tanya Al yang membalas pelukan Loren.
"mereka sedang di kantor mungkin sebentar lagi akan pulang, sedang kan Clara ada di kamar nya" jawab Loren.
"aku ke kamar dulu mom, oiya apa aku boleh minta tolong?" tanya Al.
"aku ingin undang Cici, Elard, Winda dan Geof untuk makan malam nanti aku ingin menyampaikan sesuatu" jelas Al.
"apa itu?" tanya Loren menyerngitkan dahinya.
"rahasia, cup" ujar Al dengan tersenyum seraya mendaratkan ciuman ke pipi Loren.
senyuman itu telah lama tidak ku lihat, semoga senyuman itu tidak hanya untuk menutupi luka mu saja, pikir Loren.
🕳️🕳️🕳️
malam yang di nanti tiba.
semua orang telah berkumpul di ruang makan di kediaman keluarga Danendra kecuali Bert,
karena dirinya harus menunggu Cilla tidur baru bisa meninggalkan nya, Cilla yang sudah semakin dekat yang sudah nyaman dan menganggap Bert adalah Daddy nya sehingga ia tidak mau jauh apalagi di tinggal Bert kecuali di tinggal kerja baru Cilla mau di tinggal.
__ADS_1
dengan kecepatan tinggi mengendarai mobil nya akhirnya Bert sampai di rumah, Tampak Beberapa deretan mobil sport milik Elard, Geof dan Cici yang sudah terparkir di halaman luas itu.
"maaf aku terlambat" ucap Bert saat sudah sampai di meja makan dimana mereka semua sedang asik bercerita.
"duduk lah" ucap Dalbert kepada sang putra nya.
"apa sudah bisa di mulai?" tanya Cici yang tidak nyaman sembari tadi.
"sabar lah aku sedang menantikan kehadiran nya" jawab Al santai sambil meneguk kopi hangat Nya.
"selamat malam semua, maaf aku terlambat tadi ada pasien yang harus aku tangani terlebih dahulu" ujar dokter cantik yang tak lain celsie yang merasa tidak enak telah membuat orang lain menunggu lama.
"ah, tidak masalah cel, kemari lah" ujar Al yang berdiri dari tempat duduknya.
"silahkan duduk" lanjut Al membukakan kursi untuk cel.
perlakuan itu berhasil menyita perhatian mereka semua,
ada apa ini? sebenarnya apa yang mau dia bilang? manis nya, Al kakak ku memang sangat romantis, batin Clara menatap Al dan cel.
"baiklah, karena semua nya telah berkumpul, dan aku mengucapkan terimakasih untuk semua nya yang Hadir" kata Al menebar senyuman nya.
"malam ini aku ingin memperjelas semuanya agar tidak terjadi kesalahpahaman, cukup dalam seminggu ini aku membenahi diri dan tentunya berkat wanita hebat yang ada di sebelah ku ini" ujar Al menatap wajah cel dengan senyuman.
mereka semua masih tidak mengerti maksud Al.
"Cici, apa aku boleh bertanya?" tanya Al dengan sopan.
'ten- tentu saja" jawab Cici gugup
"apa kau mencintaiku?"
deg,, deg,,,
jantung Cici berdegup kencang
"tolong Jawab aku jujur, jangan ada kebohongan lagi cukup itu semua, semoga dari pertanyaan ini kita menjadi seperti dulu" lanjut Al yang masih setia menatap cici yang hanya bergeming.
Secara perlahan-lahan Cici menggeleng.
__ADS_1
mencoba untuk menerima kenyataan ini semua, Al masih tetap bisa mengontrol dirinya. cel yang berada di samping Al menggenggam erat tangan Pria itu yang sudah berkeringat dingin, Al pun menatap cel dengan menerbitkan senyum palsu nya dan membalas genggaman itu.
"huh,,, aku sudah tahu jawabannya. Maka dari itu aku mengumpulkan kalian semua untuk memberi tahukan bahwa pertunangan aku dan Cici batal, mulai sekarang aku dan Cici tidak ada hubungan lagi, tidak ada ikatan selain pertemanan mungkin dia akan menjadi kakak ipar ku kelak" jelas Al yang sangat tenang menyampaikan itu semua.