Terjerat Bayangan Cinta Polwan

Terjerat Bayangan Cinta Polwan
hari yang dinanti (pernikahan)


__ADS_3

1 bulan kemudian.


Cilla yang semakin dekat dengan keluarga Danendra, dirumah megah itu Cilla tidak pernah merasakan kekurangan kasih sayang semua kemauan nya terpenuhi walau dia jarang meminta tetapi Bert sudah dulu memenuhi kebutuhan nya. Serta kasih sayang dari Dalbert dan Loren yang tidak pernah memandang latar belakang Cilla dari mana anak itu berasal.


dalam sebulan ini juga Bert dan Cici dengan penuh semangat dan bahagia dalam menyiapkan hari pernikahan impian mereka.


"aku tidak menyangka akhirnya kesabaran ku berbuah manis". ujar Bert melirik Cici yang sedang sibuk bermain dengan Cilla.


"hahahaha geli mom,,eh ampun ampun Tante Cici" kata Cilla tertawa lepas karena Cici menggelitik pinggang Cilla karena bocah kecil itu sudah berani memanggil dirinya mommy untuk kesekian kalinya.


akh sangat gemesh, tapi apa kau tidak tahu aku sangat malu saat dirimu memanggil diriku mommy yang jelas-jelas belum menikah dengan Daddy mu, pikir Cici.


jangan lupa kan setiap Cilla memanggil nya mom pipi Cici memerah karena malu.


"apa tadi? manggil apa,,, coba ulangi" ujar Cici yang masih menggelitik pinggang Cilla dengan gemas.


"Tan..te hahaha ampun,, hahahah" ucap Cilla.


tiba tiba Cilla merasakan sakit di bagian perut nya.


"awww" keluh Cilla dengan mata berkaca-kaca.


bangun dan berdiri berlari ke arah balkon di mana ada Bert.


"kenapa prince?apa yang sakit?" tanya Bert cemas.


wajah yang ketawa riang tadi kini berubah drastis membuat Bert cemas.


"dia pura pura, akting kan menjadi kebiasaan nya" ucap Cici datang menghampiri mereka dengan tidak merasa bersalah sedikitpun.


Bert menyerngitkan dahinya menatap dua wanita yang sangat ia sayangi.


"akh mommy selalu tahu,, tidak seru padahal aku ingin melihat wajah Daddy cemas" keluh Cilla cemberut malah semakin membuat pasangan kekasih itu gemas dengan bocah kecil itu.


"apa? mommy lagi?" ujar Cici manyun seraya mencubit pipi chubby Cilla.


"aaaa sakit dad" ngadu Cilla.


"Cici sayang sebentar lagi kau juga akan menjadi mommy nya Yasudah biarkan dari sekarang dia memanggil mu mommy agar terbiasa nantinya" jelas Bert merangkul pundak cici.


sedikit canggung" hmm baiklah tidak masalah prince nya Daddy" jawab Cici senang seraya mengambil Cilla dari gendongan Bert.


"yeyeye maacih,,muachh" ucap Cilla sangat bahagia seraya menghadiahkan sebuah ciuman untuk Cici dan Bert bergantian.


semenjak malam itu rencana Bert yang ingin mengadopsi Cilla, Bert sudah mengajarkan Cilla untuk memanggil nya Daddy, yak Walau canggung bagi anak kecil itu yang berawal memanggil Bert adalah ombet dan kini menjadi Daddy, sedikit demi sedikit Cilla terbiasa dan akhirnya dia tidak canggung memanggil nya Daddy.


seminggu berlalu,


kini hari spesial bagi mereka semua termasuk pasangan itu, Ciysa dan Albert.


sesuai permintaan sang pengantin yang ingin melaksanakan pernikahan itu di rumah utama keluarga nya, tidak di hotel mewah milik keluarganya.


tidak lupa di acara pernikahan itu tuan kenric Edelhart dan alisya Edelhart Juda datang menghadiri pernikahan putri sulung kesayangan nya,


"kau sangat cantik sayang" ujar Loren menatap cici yang sedang menatap dirinya di pantulan cermin saat sudah selesai berdandan.


"Oma hanya memuji mommy,apa aku tidak cantik?" sela Cilla cemberut menatap dua wanita dewasa itu.


"sayang, ayolah kau sangat sangat sangat cantik sama seperti mommy mu" bujuk Loren menggendong Cilla dan mencium bibi chubby nya.

__ADS_1


"benar prince, tidak ada yang bisa mengalahkan kecantikan putri ku" sambung Cici mengedipkan mata nya.


"aaa terimakasih nyonya nyonya" jawab Cilla tersenyum bahagia.


"ayo turun sayang, pinggang Oma terasa nya akan patah karena menggendong dirimu yang semakin berat". ucap Loren terkekeh.


tok,, tokk,,,


suara ketukan dari luar pintu kamar Cici.


"masuk!!" sahutan Cilla dari dalam.


"hy bibi cantik, mau bertemu siapa?" tanya Cilla menghampiri tamu itu dengan bertanya dengan suara khas lucu nya.


"iya cantik aku ingin men..." belum sempat melanjutkan perkataannya. Cici memanggil nya.


"lili" panggil nya. yang mempunyai nama itupun menoleh ke arah asal suara.


"kakak!!!" teriak bahagia alisya berhamburan lari dan memeluk Cici, kakaknya.


"aku sangat merindukan mu kak" lanjut alisya.


"aku juga sangat merindukan dirimu" jawab Cici dengan mata berkaca-kaca.


"jangan menangis nanti makeup mu luntur"


"oiya di mana papa?" tanya Cici yang tidak melihat ayah nya datang.


"di luar dengan mertua mu".


"mom kenalin ini alisya adik bungsu ku" ujar Cici memperkenalkan adiknya.


......................


di altar pernikahan.


Cici yang berjalan dengan menggandeng tangan sang papa berjalan dengan anggun.


gaun putih yang ia kenakan bak sihir dapat menghipnotis seluruh para tamu undangan termasuk Albert calon suaminya.


"ingin berdiam disini atau..." ujar Dalbert menepuk pelan pundak Bert, menggoda putra sulung nya yang sedang terhipnotis dengan kecantikan istrinya, belum istri masih calon untuk beberapa jam kedepan.


"ah i- iya dad" jawab nya gugup.


melangkah mendekat ke arah Cici.


"kau sangat cantik baby" gumam nya pelan menjulurkan tangannya.


tidak ada Jawaban hanya senyuman manis yang Cici berikan,


berjalan ke altar pernikahan di mana ada penghulu, wali dan saksi. jangan di tanya kan bagaimana kondisi Detak jantung mereka.


"SAH"


"SAH"


kini Cici dan Bert sudah sah menjadi pasangan suami istri.


🕳️🕳️🕳️

__ADS_1


"Cilla jangan lari lari nanti jatuh sayang" teriak alisya,


"ayo bican (bibi cantik) aku sangat ingin kan sudah janji" ucap Cilla yang lebih dulu dari dirinya.


Yap tadi alisya sangat gemes melihat Cilla saat ingin berkenalan Cilla hanya diam hanya menenggelamkan wajahnya di dalam pelukan Oma nya, tentu karena Cilla sangat susah dekat dengan orang baru maka dari situ muncul lah ide untuk membelikan nya eskrim kalau mau berkenalan.


anak kecil mana yang tidak suka mendengar kata eskrim sama juga hal nya dengan Cilla langsung mendongak menatap mata alisya di belakang Nya,


"aku akan membelikan mu eskrim tapi ketika kau mau memanggil ku bican" ujar lili.


"bican?" tanya heran Cilla menatap Oma nya seolah bertanya apa itu bican, bukannya menjawab loren malah mengangkat bahunya pertanda tidak tahu.


"Yap artinya bibi cantik! bagaimana?" jawab lili dengan menjulurkan tangannya.


berpikir sejenak.


"okehh bican" jawab nya dengan suara khasnya dan menerima uluran tangan itu.


......................


"ayo,,, bican nanti esyim nya habis" teriak Cilla.


mundur dan mundur tanpa melihat kebelakang ia menabrak seseorang.


"awww" ringis Cilla


"ya ampun sayang, kenapa berjalan seperti itu lihat lah terjatuh, mana yang sakit sini bilang" ucap Elard cemas akan bocah kecil itu.


"tidak ada yang sakit hanya terkejut,, hehehe" jawab Cilla tanpa dosa.


"ayoo" ucap Elard mengendong Cilla,


dari kejauhan lili melihat Elard seperti sangat cemas akan putri kandungnya sendiri,


"bican!" teriak Cilla yang membuat lili sadar dengan lamunan.


"hyy,,, apa ini Daddy mu?" tanya lili memperhatikan wajah mereka secara bergantian,


mendengar itu elard hanya menampilkan senyum nya, tidak merasa heran atau berkilah lagi karena hampir seluruh orang yang bertemu dengan Cilla dan dengan nya saat bersama pasti di bilang anak dan ayah, Elard tak merasa keberatan dirinya sangat sangat bahagia kalau benar Cilla putrinya.


akh sudah lh jangan berhayal lagi lard, batin Elard.


"akh.." belum sempat meluruskan pertanyaan wanita di depan nya Cilla sudah merengek.


"ayoo tapi bican mau beliin esyim" rengek nya cemberut.


"Ayuk sayang,, mau berapa? kalau mau aku akan membeli kan semua eskrim yang kau mau" ujar elard sangat bersemangat mengajak Cilla berbicara dengan antusias.


melihat itu lili sangat bahagia, kebahagiaan Cilla berbeda saat tidak bersama dengan pria yang ada di sebelahnya ini.



cisya



Cilla


__ADS_1


__ADS_2