Terjerat Bayangan Cinta Polwan

Terjerat Bayangan Cinta Polwan
perasaan apa ini


__ADS_3

"5" ucap Al sambil melihat kan kelima jarinya.


"juta nyo, besok aku akan kemari membayar utang ku" jawab nya dengan santai sambil meneguk air.


"Lima ratus juta" ujar Al, membuat Cici kaget menyemburkan air ke wajah Al.


"kauuu" geram Al mengelap wajah nya yang basah akibat semburan air dari Cici


"aku tak mau tau kau harus membayar hutang mu dalam 1X24 jam kalau tidak kau harus menerima tawaran ku!" lanjut nya tegas.


"hahaha anda gila, 1 hari duit sebanyak itu? kalau aku tidak membayar nya tepat waktu?" tanya Cici dengan nada meremehkan.


"akan ku pastikan kau tidak akan memakai gelar mu lagi, dan sekali lagi kau jgn pernah main-main dengan keluarga Danendra" ucap Al dengan tatapan tajam seraya berdiri dari tempat duduknya.


Cici yang mendengar perkataan Al hanya bisa menelan kasar Salivanya,


"aku tunggu besok malam di sini, di ruang ini" tegas Al langsung meninggalkan meja makan dan Cici yang terdiam.


***


di dalam apartemen seorang AIPTU ciysa Edelhart mondar mandir di kamar nya, bagaimana aku bisa memiliki uang sebanyak itu dalam sehari?. tabungan ku hanya tersisa 200 juta,


apa harus meminta ke pada papa? akh tidak tidak aku malu aku kan sudah bekerja masa minta uang kepada papa.


Cici bingung bagaimana cara mendapatkan uang banyk dalam sehari.


"jual diri? gila lu ci, berpuluh-puluh tahun lu jaga untuk lakik Lo sekarang karna sebuah hutang lu jual yang paling berharga dari diri lu" ujar Cici pada dirinya sendiri, kadang berdiri kadang terduduk,


beberapa jam berlalu Cici semakin stres memikirkan nya memutuskan untuk merendam tubuh nan mulus itu, ia berjalan menuju kamar mandi dan masuk ke dalam bathtub.


.


.


.


"ha!! 200 juta ci" kaget Winda serasa mau pingsan mendengar cerita Cici.


kini mereka duduk di ruang tv untuk bersantai sesudah makan malam.


"banyak banget buk" lanjut nya dengan lemas


"emang lu kira menurut gw dikit apa win.. hikks bantu gw win, please" rengek Cici menyadarkan kepala nya ke bahu Winda.


"Lu TAUKAN gw sebatang kara di sini, hidup gw pasan, kalo 10 juta mah gw ada malam ni gw kasih deh bener tapi 200 juta kagak ada buk,,, lu jual aja dah gw" ucap Winda pasrah.

__ADS_1


"Alhamdulillah memang beruntung gw nemuin sahabat kek Lo, demi bayar hutang gw lu mau jual diri Lo" jawab Cici dengan tertawa lepas melihat kelakuan Winda selalu membuat dia happy walaupun selalu banyak masalah yang ia hadapi.


"pletakk, EMG kurang ajar Lo" Winda memberikan toyoran ke kepala Cici,


"hehehe" cengengesan Cici sambil memeluk sahabatnya itu...


......................


di dalam perjalanan Al yang tak lain Aldrich bingung bagaimana cara menyikapi saudara nya dengan papa di kantor nanti,


"buat apa papa menyuruh ku ke kantor" ujar nya pada diri sendiri.


"apa papa ingin aku berhenti jadi dokter dan bekerja di salah satu cabang keluarga Danendra?" lanjut nya, sungguh ia merasa tidak menyukai sifat papa nya yang memaksa kehendaknya kepada Al untuk berhenti dari profesi nya yang kini.


Al merasa kepalanya pusing maka ia memutuskan untuk berhenti sejenak untuk memenangkan pikiran nya, kebetulan Al berhenti di depan sebuah mall ternama di kota tersebut.


.


.


.


"coba aja gw dapet mukjizat, seperti dapet duit banyak mendadak" ujar nya sembari berjalan-jalan untuk memenangkan pikiran sebelum bertemu dengan tuan Al,


langkah nya terhenti. ia merasa sedih melihat keluarga kecil di ujung jalan sedang menikmati makanan dengan bercanda ria, sungguh keluarga kecil itu sangat membuat Cici sedih tanpa sadar ia tertegun sambil meneteskan air mata.


Kebahagiaan itu lah yang belum pernah ia rasakan seumur hidup nya mungkin itu tidak akan pernah, sosok sang ibunda saja ia tidak tahu, jangan kan berhayal untuk bercanda ria dengan keluarga ku, melihat bunda saja dari Poto nya itu sudah membuat ku begitu bahagia.


bukk!


awww.


ringis cici saat di tabrak ibuk ibuk.


"bukk bukk" teriak Cici melihat dompet wanita paruh baya itu terjatuh.


rejeki anak Sholehah nih dapet dompet, pasti duit nya banyak (batin Cici menatap dompet itu)


"astaghfirullah Cici, sadar itu dosa" lanjut segera mengejar wanita paruh baya tadi.


"bukk!" teriak nya dengan kuat mengundang perhatian orang sekeliling nya termasuk sang wanita tadi,


"ini dompet ibuk, tadi terjatuh" ujar Cici dengan ngos-ngosan sambil mengulurkan dompet itu


"terima kasih nak" jawab nya menerima dompet tersebut.

__ADS_1


"hmm ini tanda terima kasih saya karena kamu telah jujur, kalau orang lain mungkin ini tidak akan kembali" ujar wanita itu dan mengeluarkan beberapa lembar uang merah


"MMM terimakasih kembali tapi saya iklhas membantu anda" jawab Cici seraya meninggalkan ibuk itu.


.


.


.


akh waktu ku beberapa jam lagi. (gumam cici melirik jam tangannya).


akh sudah lah aku pasrah dengan keputusan laki laki angkuh itu,


bagaimana Cici cara membayar hutang nya?


apakah dia berani untuk datang menemui Al?


atau kah sebaliknya?


"hyy Cici" suara orang dari seberang memanggilnya, Cici pun menoleh ke arah sumber suara.


"oh no" Cici begitu terkejut melihat siapa yang memanggil nya, yak tuan Al yang angkuh itu.


Dengan cepat Cici melangkah kaki nya untuk meninggalkan tempat itu, tapi siapa sangka Al sudah ada di hadapannya.


"tuan Al kenapa kau meneror ku bukan nya nanti sore kita akan bertemu, kenapa sekarang? masih ada beberapa jam" ujar Cici mencerotos trus, Al yang mendengar itu merasa bingung.


"Cici kau kenapa? meneror mu?" ucap Al dengan nada lembut, membuat Cici berpikir keras kenapa ni manusia kadang lembut kadang datar.


"nanti kita akan bertemu di jam yang sama biar kan kini aku berpikir untuk itu?" ucap Cici menatap mata Al langsung meninggalkan Al yang sedang bingung itu.


meneror? berpikir? nanti sore di jam yang sama?. ada apa ini aku tidak mengerti


atau kah dia mengenal Albert, ataukah ia mengira aku dia? ada hubungan apa mereka?


(batin Al sedang penuh dengan pertanyaan menatap punggung Cici yang sudah berlalu).


"baiklah Al kini sebaiknya kau kembali ke kantor pasti papa dan Bert sudah menunggu mu" ujar nya pada diri sendiri.


ia pun kembali ke mobil nya, menancapkan gas dengan kecepatan sedang, sungguh perasaan nya kini campur aduk mendengar perkataan Cici tadi di tambah dengan yang akan terjadi nanti di kantor.


"mengapa diriku sedih kalau Cici hanya mengingat Bert? apa aku jatuh hati pada polwan itu? akh "


ucap nya sambil memukul setir mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2