Terjerat Bayangan Cinta Polwan

Terjerat Bayangan Cinta Polwan
duka berganti suka


__ADS_3

di pemakaman.


"nenek,,, nenek kenapa jahat Ama Cilla? apa selama ini Cilla nggak jadi cucu baik untuk nenek sehingga nenek marah dan pergi tinggalin Cilla?". ujar Cilla meniduri kepala nya di atas kuburan mendiang.


"my prince, nenek tidak jahat kepada mu". jelas Bert dengan mata berkaca-kaca.


"kenapa dia tidak ajak Cilla ke bintang juga biar sama sama jadi bintang, Cilla takut sendirian Cilla nggak punya siapa-siapa selain nenek".


"bangun nek ayolah kembali jemput aku bawa aku dengan mu, aku takut, mengapa Tuhan tidak adil kepada anak kecil seperti aku om? hidup tanpa ayah dan bunda, hanya nenek yang Cilla punya hikss,,,hiks". tangis bocah kecil itu pecah.


"sungguh miris hidup mu nak, orang tua mu akan menyesal sudah meninggal kan dirimu" batin Elard mengusap pucuk kepala Cilla.


hari sudah mulai panas, Dengan susah payah Bert dan Elard membujuk Cilla untuk pulang.


Cilla yang dia dalam dekapan Bert tak da suara hanya deru nafas yang tidak teratur seperti menahan tangisnya.


"nangis lah jangan pernah menahan nya tapi ingat hanya untuk keluarga tidak orang lain". ucap Elard mengenggam tangan Cilla.


ada rasa hangat saat menyentuh tangan Cilla, wajah tenang chubby nya membuat Elard tertarik dengan anak itu.


"Cilla mau makan apa, sayang?" tanya Bert lembut.


Cilla hanya menjawab gelengan kepala.


"Cilla ingin melihat nenek tersenyum bahagia?" tanya Bert yang di Jawab anggukan cepat oleh Cilla.


"kalau begitu Cilla harus menjadi anak kuat, anak yang sehat tidak boleh kalau tidak makan" . lanjut Bert berusaha untuk membujuk dengan kasih sayang agar bocah kecil itu tidak ketakutan.


"untuk apa Cilla sehat? Cilla ingin susul nenek Cilla takut tinggal sendirian Cilla tidak punya siapa-siapa lagi". sendu Cilla menangis dan menangis.


"itu salah sayang, Cilla tidak sendirian disini ada om dan ombet, mulai sekarang Cilla adalah anak kami, kami semua janji tidak akan membuat Cilla merasa kesepian". usaha bujuk Elard dengan mata sedih.


melihat bocah itu sedih Elard bisa merasakan nya, perasaan apa ini? mengapa aku merasakan ada aliran yang tidak bisa ku jelaskan, akh mungkin sifat ke ayahan saja. pikir Elard mengelus rambut Cilla dan mencium punggung tangan nya.


dirumah Danendra.


seperti keinginan Bert, dirinya ingin acara kematian buk nini di laksanakan dirumah utamanya, dengan senang hati Loren dan Dalbert mengizinkan.


semua tetangga dan kerabat tuan Dalbert datang menghadiri nya, termasuk Cici dan celsie.


"maaf kami telat" ujar Geof dan Winda baru saja datang.


"iya tidak apa-apa, lagian acara nya belum di mulai". jawab Al.


"siapa putri kecil itu?" tanya Winda penasaran,

__ADS_1


Cilla yang dari tadi tidak berani melihat orang sekitar hanya menenggelamkan kepalanya di dada Elard, karena Bert sedang pergi mengurus sesuatu. Yap Cilla hanya mau dengan Elard selain Bert.


"sayang" gumam Elard lembut ke Cilla


"apa kau tidak mau menyapa mereka?" lanjut Elard mengelus rambut Cilla.


"ayo anak baik sapa mereka sayang". lanjut Elard selembut seorang ayah


Cilla mendengar itu ia mengikuti apa yang Elard katakan, Cici dan keluarga besar Danendra begitu penasaran dengan wajah Cilla yang dia tutupi dengan rambut tebal pirang nya.


mengangkat kepalanya menatap wajah Elard seraya melihat ke arah semua orang.


sontak membuat mereka heran, salin memandang satu Sama lain.


"apa dia putri lu bro?" tanya Geof yang masih menatap wajah anak kecil itu Secara bergantian dengan wajah Elard.


"iya nak, wajah nya, mata nya dan alis nya sangat mirip dengan mu!" lanjut Loren mendekati Cilla yang keheranan dan kembali memasukkan kepala nya ke dalam dekapan Elard.


"akh sudah lah mungkin hanya mirip saja sudah ayo kembali semua tamu sudah menunggu kita". sela sela Dalbert di tengah tebak tebakan itu.


Acara selesai.


Cilla yang sudah tertidur pulas di dalam pelukan Elard, segera dia bawa ke kamar Bert.


Dalbert, Loren, Aldrich, Clara, Albert, Cici, Winda , Geof, celsie.


"dad! aku ingin mengadopsi Cilla agar dia mendapatkan keluarga yang layak yang bisa memberikan dirinya kebahagiaan dan kasih sayang". kata Bert yang mengutarakan keinginannya.


"kau benar Bert ini langkah yang bagus, cukup.. ini cukup aku tidak sanggup melihat nya menderita lagi". ucap Elard membuang muka nya dia sangat sedih mengingat Cilla menangis tersedu-sedu.


"mengapa wajah mu sangat mirip dengan Cilla? atau aku sendiri yang berpikir seperti itu". sambung Winda yang masih heran menebak nebak.


"aku sependapat dengan mu, jangan jangan" lanjut Cici menatap tajam ke arah Elard.


"apa?" ucap empat AAGE kompak.


"eh jangan ngegas" jawab Cici terkejut.


"sudah sudah" lerai Dalbert menatap satu persatu orang yang ada di sana, tiba tiba suasana berubah menjadi hening.


"kalau kau ingin mengadopsi dirinya kau harus mempunyai istri, dia juga membutuhkan sosok ibu bukan ayah saja" jelas Dalbert membuat Bert diam seribu bahasa.


"untuk itu mari kita laksanakan pernikahan Cici dan tuan Bert, lebih cepat lebih baik" jawab Clara di sambut setuju oleh Winda.


deg.. deg..

__ADS_1


bert menatap cici dengan dalam yang pura pura tidak menghiraukan pandangan itu.


menebar pandangan menatap seluruh orang yang ada disana, mendapat anggukan kepala setuju dari mereka termasuk Al yang menampilkan senyuman nya.


beranjak dari duduknya, berdiri berjalan ke arah Cici.


"Cici" seru nya.


"mau kah kau menikah dengan ku?" lanjut Bert mengeluarkan cincin berlian dari dalam kantong jas nya, yang ia siap kan tadi.


srettttt...


apa ini? mengapa di depan mereka semua? aku tidak ingin membuat mereka kecewa dengan ku lagi tapi....


"terima dong" sorak mereka semua.


Cici menatap nyonya Loren, yang di tatap mengembangkan senyuman nya dan mengangguk kode harus menerima itu.


menatap Al,


"jangan menghiraukan aku, kini sudah ada bidadari di samping ku" gombal nya mengenggam tangan Celsi dan mencium nya. cel dokter cantik itu tersipu malu karena ulah Al.


"aaaaaa,,, aku pengen juga!" iri Winda memanyunkan bibirnya.


"sini sayang akan ku berikan apapun termasuk dompet ku ini". lanjut Geof merangkul Winda. yang di sambut tawa renyah oleh mereka semua.


beralih tatapan, kini Cici menatap mata pria yang sedang bersimpuh di hadapan nya itu mencari ketulusan di manik mata indah itu.


"aku akan menerima apapun jawaban mu baby, tapi jangan biar kan aku berlama lama seperti ini bisa bisa aku akan membeku". canda Bert berhasil membuat lengkungan manis di bibir Cici.


mengangguk


"aku mau" jawab Cici


sontak refleks Bert memeluk Cici dengan erat, tidak dapat di pungkiri ini kabar bahagia yang di nantikan,


menyematkan cincin di jari manis Cici.


"ciee hmm,, hmm, ingat masih ada manusia disini" ketus bahagia dari Clara.


air mata winda berhasil lolos terjun, melihat Cici akhirnya menemukan seseorang yang sangat mencintai nya, kisah yang berliku Liku silih berganti akhirnya datang sebuah kebahagiaan yang tidak dapat di ucapkan oleh kata.


Loren, terharu akhirnya kisah cinta kedua putra nya kini sudah mulai pulih, berangsur tapi pasti satu persatu putra nya sudah menemukan kebahagiaan.


berharap semoga kebahagiaan ini jangan cepat berlalu.

__ADS_1


__ADS_2