Terjerat Cinta Gadis Kecil

Terjerat Cinta Gadis Kecil
Extra Part (3)


__ADS_3

____________


Ketika hari menyingsing sore. Zean dan Sally tengah duduk santai di gazebo taman samping rumah. Memandangi dua anaknya yang tengah bermain. Sang kakak melempar bola pada adiknya, begitu sebaliknya.


"Kau lihat, Sa ...." Zean menunjuk pada putranya. "Aku tak yakin jika Aksara dewasa, dia akan tak acuh pada adiknya. Lihat saja sekarang, Hira masih berumur lima tahun, tapi Aksa begitu protective."


Sally mengulas senyum. Mengarahkan diri untuk dipeluk sang suami. Sepasang orang tua yang begitu bangga dengan anak-anak mereka, tak henti-hentinya terus memuji.


Kegiatan setiap hari mereka berkumpul ketika sore. Zean selalu berusaha pulang lebih cepat dan tidak mau lembur. Pekerjaan bisa ditangani besok lagi, tapi momen kebersamaan dengan anak istri tak pernah bisa diulang ketika waktu terus berputar.


"Papa! Lempal cini!" Hira berteriak dengan suara khas bocah. Kata-kata yang terdengar masih tidak jelas.


Zean menjejakkan kaki ke tanah. Membungkuk dan meraih bola yang menghampiri tadi. Dia tersenyum hangat sambil melangkah pelan.


"Kamu tidak capek, Sayang?" Zean bertanya sembari berjongkok. Berusaha menyejajari tubuh mungil putrinya.


Hira menggeleng cepat. Rambut kuncir dua di atas kepala ikut bergoyang. "No, Papa. Mumpung Bang Akca tidak les, Hila pengen main campai puas. Tiap hali dia cibuk kayak Papa."


Aksara tersenyum lantas menghampiri. Zean menoleh dan ikut mengusap rambut anak pertama.


"Abang harus belajar giat karena dia penerus keluarga ini." Zean berucap secara tenang. Berusaha memberi pengertian meski tak yakin jika putrinya akan paham.


"Penelus?" Hira menelengkan kepala. Dia terlihat linglung.


Zean terkekeh sendiri. Kedua tangan lalu mengulur dan menggendong Hira.


"Dengar Sayang. Bang Aksara adalah anak pertama dari Mama dan Papa. Itu artinya ... dia punya tugas untuk menjaga dan meneruskan pekerjaan Papa."


"Papa tidak kelja lagi? Tapi kenapa masih pelgi cetiap hali?"


Pertanyaan Hira membuat Zean semakin tertawa. Dia mencubit gemas hidung mungil gadis itu dan menggandeng Aksara.


Berjalan beriringan menuju ke tempat Sally. Wanita yang duduk tenang sejak tadi ikut menebar senyum.

__ADS_1


"Duduk sini, ya. Minum dulu. Kalian udah keringetan. Padahal tadi udah mandi."


"Nanti mandi lagi, Ma." Aksara menyahut enteng.


Zean menatap Sally lalu menggeleng. Membuat Aksara bingung.


"Papa dan Mama kenapa?" tanya Aksa.


"Tidak ada, Nak. Kami bangga padamu." Sally menjawab penuh perasaan.


Anak umur sepuluh tahun memilih diam. Mengambil satu buah jeruk dan menyodorkan pada sang mama.


"Ma, kupasin."


Ibunya menerima sukarela. Padahal Aksara bisa melakukan sendiri tapi dia sengaja. Ketika sang mama tidak dikuasa ayah dan adiknya, itulah waktu yang tepat untuk bermanja ria.


Hira yang ada di pangkuan Zean terus memandangi. Melihat ibunya dengan telaten mengupas kulit. Ketika sudah bersih dan satu butir diulurkan ke Aksara, air liur gadis mungil itu menetes.


Tangan Zean terasa basah. Pria itu lantas menunduk dan melihat Hira.


Hira dibantu berdiri. Berjalan pelan menghampiri ibunya. Akan tetapi, Aksara menghalangi. Dengan sigap duduk di pangkuan Sally.


Wajah Hira berubah pias. Ekspresi yang dia miliki berubah sedih dan siap meraung karena tangis. Mata hitamnya sudah menumpuk cairan bening.


"Abang, kenapa gini? Adikmu mau kemari." Sally bertanya sambil meletakkan jeruk ke piring. Hendak menyambut Hira yang masih mematung.


Zean menggeser posisi. Mendekati putrinya yang reflek berhenti. "Sayang, katanya mau jeruk?"


"Bang Aksala nakal, Pa." Hira mengadu.


Semua tertawa bersama. Gadis kecil yang hendak menangis jadi urung dan berubah bingung. Dia mundur dan melingkarkan lengan ke leher Zean. Badan merosot dan kembali ke pelukan.


"Sini, sama papa aja, ya?"

__ADS_1


Hira diam dan hanya mengangguk sekali. Mata hitam turunan dari Zean terus memperhatikan Aksara yang begitu menikmati.


"Kalian berdua kayak Mama. Suka sekali sama jeruk." Zean berkata tanpa memandang orang yang dibicarakan. Tangan bergerak aktif menyuapi Hira yang ikut lahap seperti Aksara.


"Aksa, duduk sendiri. Kamu sudah besar."


Aksara menggeleng dan tidak mau. Terus minta disuapi sambil duduk merosot di pangkuan ibunya.


Sore hari menghangat seiring matahari tenggelam di ufuk barat. Kehangatan menerobos sampai di tengah keluarga Zean dan Sally.


Dua manusia yang dulu bersama karena rasa pengorbanan demi keluarga. Rela melawan ego dan berusaha saling memahami. Menyelami pribadi yang jelas-jelas bertolak belakang.


Ketika satu meninggikan ego, dan lainnya harus mengalah. Satu menangis, yang lain harus siap menjadi tempat bersandar.


Badai pernikahan yang penuh kesalahpahaman telah mereka lalui. Saling menguatkan dan makin mendalamkan perasaan memiliki ketika berhasil melewati bersama.


Pernikahan tanpa cinta, tanpa rasa saling butuh karena masing-masing memiliki segalanya. Harta, keluarga, dan kekuasaan. Zean dan Sally memiliki itu semua.


Namun, karena sayang terhadap keluarga, mereka bertahan dan sukses menumbuhkan cinta hingga detik saat ini.


.


.


.


.


.


.


________

__ADS_1


Makasih sudah baca. Carangeo ❤❤❤


Udah baca kisah Hira belom? Cus ke Selaksa Cinta kalau belum. udah tamat, lho. 😁


__ADS_2