Terjerat Cinta Gadis Kecil

Terjerat Cinta Gadis Kecil
BAB 56


__ADS_3

Hari menyingsing sore, tapi belum menghentikan penjelajahan dua sejoli tersebut. Zean masih terus membawa Sally mengendarai sepeda motor trail yang tadi ia pinjam dari penjaga vila. Saking lamanya mungkin, bahkan mereka sudah mengisi bahan bakar motor itu sebanyak dua kali. Entah boros atau memang karena terlalu lama perjalanan mereka.


Kembali Sally hanya diam, saat sang suami sudah selesai membawanya dari kebun teh dan kebun stroberi tadi. Kebun sayur pun tak luput dari ajakan Zean. Tak pernah terpikir di otak Sally, jika suami yang katanya orang kaya, mengajak berlibur hanya di dalam kota. Biasanya, para pasangan pengusaha muda lebih memilih untuk ke luar negeri, bahkan antar Negara. Meski begitu, itu bukan sebuah keharusan. Ah, tapi sepertinya Sally lupa kalau kunjungan mereka ke puncak bukan untuk liburan, melainkan karena pekerjaan. Hmm ....


Sally memang terlahir dari keluarga kaya, tapi bukan berarti kehidupannya tidak jauh dari orang biasa yang sederhana. Sang nenek dari dulu sudah mengajarkan tentang arti hidup sebenarnya, bukan soal harta atau kemewahan. Tapi rasa syukur dan rela dalam menjalani takdir kehidupan. Seperti saat dia menjalani pernikahan itu, hanya bisa penuh kerelaan.


Menggandeng tangan istrinya, menuju sebuah bangku di tepi danau. Matahari yang tadi sedikit terik, tapi tidak sampai menyengat kulit karena terhalau udara sejuk, kini sudah menghangat. Sally tak berhenti berdecak kagum. Tak pernah menyangka, jika Zean yang dulu tak peduli itu ternyata bisa membuat hatinya terenyuh haru sejak kemarin.


“Duduk,” ajak Zean saat mereka telah sampai pada bangku kosong yang tadi mereka tuju.


Keduanya mendudukkan diri, bersandar di sandaran bangku itu. Tangan Zean mengulur memeluk pundak istrinya, menatap lurus ke air danau yang terlihat tenang.


Sally hanya menyandarkan diri dalam dekapan Zean, tak henti-hentinya dia mengulas senyum. Angin lembut menerpa keduanya, menggugurkan daun kering dari pohon yang tak jauh dari tempat mereka duduk.


“Sa … kelak, jika ada sebuah keburukan dariku yang baru kau ketahui, akankah kau mau memaafkanku?” Tak memandang Sally saat bicara, tatapan Zean masih menatap lurus ke arah danau yang airnya berwarna biru kehijauan.


“Apa Kakak sedang mencoba untuk membahas masa lalu?” Gadis itu mengangkat kepala, lalu menoleh pada Zean yang memiliki ekspresi tak terbaca, untuk mencari jawaban.


“Mungkin bisa dibilang begitu.” Zean menoleh, tapi masih tak ada senyum dalam air mukanya kali ini. Wajahnya datar minim ekspresi, tapi sorot mata seolah membawa pengungkapan rasa yang sulit.


Gadis berambut panjang itu beranjak, berjalan ke depan beberapa langkah. Air danau semakin dekat dari posisinya. Ia bersedekap, lalu berkata, “Semua orang punya masa lalu, entah baik atau buruk. Tapi … semua orang juga punya masa depan. Dan semua berhak menentukan ingin seperti apa masa depan mereka. Jika Kak Ze ingin mengungkit masa lalu, aku hanya akan mendengar tanpa memedulikan.”


Ia memutar setengah badan, menoleh pada suaminya yang masih setia menatap dari posisi duduk. “Bagiku, hanya saat ini dan masa mendatang. Bagaimana Kakak memperlakukan aku dan kebersamaan kita. Seburuk apa pun masa lalu, ia hanya sebuah kenangan yang tak seharusnya bisa menghancurkan, bukan?”


Kembali mengarahkan pandangan lurus ke danau, dan berkata lagi, "Jika Kakak yakin sudah mencintaiku dan aku mencintaimu. Kenapa Kakak menanyakan tentang hal semacam itu? Apa pun itu kesalahannya, baik dulu atau sekarang. Aku akan mencoba memaafkan selama hatiku kuat untuk menerimannya."


Zean terperangah, mendengar penuturan Sally. Gadis itu terlalu mengagumkan baginya. Didikan macam apa yang Sally dapat semasa kecil, sehingga mendewasakan dia sedemikian rupa.


Ikut beranjak dari duduk, Zean segera memeluk Sally dari belakang. Mendekap erat, menundukkan wajah pada bahu istrinya seakan menumpahkan segala kecamuk rasa dan beban yang selama ini ia tanggung sebagai anak tunggal.


“Sa … aku beruntung mendapatkanmu. Papa memang tidak pernah salah dengan pilihannya. Meski aku tak pernah bisa melawannya, tapi semua hal yang ia tekankan padaku adalah demi kebaikanku.”

__ADS_1


Sally hanya tersenyum, tangan kirinya mengelus rambut hitam lebat milik Zean. “Aku bukan siapa-siapa, Kak. Aku hanya menjalani apa yang menurutku benar, tanpa harus melukai orang lain. Bukan aku tak peduli dengan kisah Kakak. Tapi untuk apa kita membahas hal itu, aku tidak ada di sana. Yang lalu biar berlalu.”


Zean mengangkat wajah, lalu mendaratkan kecupan hangat di pipi kiri Sally. Angin kembali berhembus, menerbangkan dedaunan kering. Tangan kanan Sally menengadah ke atas, seolah ingin menangkap salah satu daun yang berguguran.


Saat satu daun terjatuh dan hanya menyerempet tangannya, tangan Zean mengulur dan meraih tangan Sally. Menggenggamnya, seolah sedang bicara mewakilkan bibirnya untuk menyalurkan rasa cinta. Gadis itu hanya melebarkan senyum. Menikmati kembali suasana danau sore hari.


Sinar jingga mulai terlihat, memantul cerah di tengah danau. “Cantik, Kak,” ucap Sally saat melihat ke tengah danau. Suaminya hanya menjawab “ya” sambil tersenyum.


Beberapa pengunjung juga ikut menikmati suasana sore itu. Cuaca yang harusnya terasa hangat jika tidak di dataran tinggi, ikut menghangatkan hati para pengunjung di sana. Tampak sebagian dari mereka sedang berfoto bergantian, menikmati camilan, atau hanya sekedar mengobrol santai.


“Mau foto?” tanya Ze saat melihat arah pandangan Sally menatap pada sekelompok anak muda tengah berpose bersama untuk pengambilan gambar.


Tak menunggu jawaban, Zean mengambil ponsel dari saku. Lalu mengarahkan ke depan Sally. Tangan kirinya memegang ponsel, sedang tangan kanan yang tadi menggenggam tangan Sally, kini meraih kepala sang istri agar mendekat pada dirinya.


“Cheese,” ucapnya membuat Sally tersenyum, lalu memotret dirinya dan Sally. Bahkan mengulangnya beberapa kali sampai puas.


Foto pribadi mereka pertama kali, mengingat memang Zean dan Sally tidak pernah dekat dari awal mereka menikah. Hanya karena berawal dari sebuah kesalah pahaman, akhirnya membawa ke sebuah pengungkapan rasa.


***


Usai makan malam, keduanya memilih beristirahat. Sally sibuk bermain ponsel, memberi kabar pada keluarga. Sedang Zean sibuk dengan laptop menyala di hadapannya.


“Lusa mungkin Mi, Sally pulang,” jawab Sally pada bu Anna yang tengah bercakap dengannya via telepon.


“Iya, Mi. Semua baik-baik aja, kok. Aku nggak ngacauin kerjaan kak Ze juga kali, Mi.” Kata-kata Sally mengundang perhatian Zean, lelaki itu mengangkat wajah dan mengarahkan pandangannya pada Sally. Istri tuan muda Pratama itu melirik sekilas, lalu mengibas-ngibas tangannya  pertanda tidak terjadi apa-apa.


Menutup panggilan telepon, dan menaruh benda canggih itu di nakas. Gadis itu menghampiri sang suami, yang sejak tadi sibuk dengan laptop di meja sofa.


Hanya diam, memilih duduk di samping Zean. Mau membantu juga tak paham, jika bertanya pasti malah mengacau. Akhirnya hanya diam di samping saja, dan memandang laki-laki yang telah menjadi suaminya beberapa bulan ini.


Sally serasa semakin jatuh cinta, kala melihat Zean yang serius mengerjakan segala urusannya. Sekilas terbesit dalam pikiran gadis kecil itu, bagaimana bisa ia tidak jatuh cinta kemarin-kemarin, jika makhluk yang dikirim Tuhan untuk menjadi suaminya setampan itu. Hmm … entahlah.

__ADS_1


“Kenapa?” Zean bertanya tanpa menoleh pada Sally. Seperti memiliki mata di samping kepala memang, tanpa menoleh pun tahu jika sedang diperhatikan.


“E-enggak, kok.” Sally segera memutar tubuh, tatapannya ke sembarang arah. Tidak mau mengaku.


Lelaki itu mematikan laptop dan menutupnya, melepas kacamata, lalu menghadap Sally. “Mami nanya apa?” tanyanya dan hanya mendapat gelengan kepala dari sang istri.


“Beneran?” tanyanya lagi.


“Um.” Sally menjawab mantap sambil mengangguk.


Mengacak rambut hitam cokelat bergelombang itu, sambil tersenyum seperti biasa. “Besok aku harus meninjau proyek pembangunan hotel, kamu mau ikut?”


Gadis berkulit putih itu diam sejenak, melipat satu lengan ke dada dan satu tangan lain menopang dagu sambil telunjuk mengetuk dagu beberapa kali. Dia berpikir, tampak Zean masih sabar menunggu jawaban.


“Aku di sini saja, di sana pasti sangat membosankan.”


Putra pak Bobi itu hanya melebarkan senyum, mendengar jawaban Sally. “Jangan ke mana-mana. Aku tidak mau kehilanganmu lagi.”


Pipi putih itu merona, pemiliknya tersenyum malu-malu mendengar ucapan lelaki 8 tahun lebih tua darinya itu. Makin hari makin tak beraturan saja jantung Sally berdebar. Setiap kata manis yang Zean ungkapkan, semakin membuat ia terjerembab dalam kubangan asmara.


“Tidurlah,” lanjut Zean, seolah tak melihat jika Sally tengah malu.


“Kakak nggak tidur? Seharian kita keliling-keliling, Kakak nggak capek?”


“Aku mau ke kamar mandi sebentar, setelah ini aku menyusul.” Sally hanya mengangguk, lalu ia beranjak menuju ranjang.


Tak menunggu waktu lama, Sally sudah terbang ke alam mimpi saat Zean sudah keluar dari kamar mandi.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2