Terjerat Cinta Gadis Kecil

Terjerat Cinta Gadis Kecil
BAB 38


__ADS_3

“Kamu tampan ya, Nak.” Bu Lyra menyela, Leon hanya tersenyum manis.


Mendengar itu, Zean yang pura-pura memejamkan mata mengintip dari posisi. “Cih!” Dia berdecih malas, memutar tubuhnya ke samping tapi sudah menjerit sakit sebelum berhasil —lupa jika kakinya tengah cedera.


“Kak ….”


Sally panik, ia segera mendekat ke arah Zean. Laki-laki itu meringis sakit, sambil memegang kaki sebelah kiri. Bu Lyra panik, justru Lisa yang sudah sigap keluar mencari dokter. Dengan terburu-buru, Lisa menyeret seorang dokter yang baru saja keluar dari ruangan yang tak jauh dari kamar Zean.


“Nona, tolong berhenti.” Dokter itu  pasti kaget, karena tiba-tiba seorang gadis menariknya secara paksa.


“Tenanglah, Nona. Tenang,” pintanya sekali lagi.


“Urgent Dokter, urgent!” Gadis itu tak peduli. Dan terus saja menarik paksa sampai ruang perawatan.


Sampai ruangan Zean, segera dokter itu memeriksa. Dengan serius dan tetap professional, ia mengatur napas lebih dulu. Menanyakan beberapa keluhan pada pasien, mengangguk, kemudian mulai memeriksa.


Melepas stetoskop dari telinga, membiarkan menggantung di leher begitu saja. Kedua tangan masuk di jas putih sesuai identitasnya sebagai dokter, dengan wibawa beliau berkata, “Tidak ada masalah, dua hari lalu sudah saya sampaikan. Jika, jangan melakukan aktivitas berat selama beberapa hari kedepan. Dan beberapa hari ini, jangan terlalu banyak bergerak dulu.”


“Rasa sakit yang pasien rasakan kali ini sepertinya karena pergerakan tiba-tiba dan dengan sedikit terburu, mengakibatkan rasa ngilu. Saya sarankan, jika ingin merubah posisi tidur atau pun duduk. Bisa dengan perlahan dan hati-hati. Atau lebih baik dibantu seseorang.”


Semua orang memperhatikan penjelasan dokter dengan serius, sampai akhirnya suara deritan pintu terdengar. Laki-laki tampan dengan kaos hitam dan hem kotak-kotak berwarna maroon datang, disusul di belakangnya wanita dan pria paruh baya.


“Eh!” Mendadak canggung, karena merasa diperhatikan.


Lisa membelalakkan mata, melihat siapa yang datang. Hatinya bersorak riang, bisa melihat kembali laki-laki idaman yang pernah ia lihat di pesta pernikahan sahabatnya waktu lalu.


“Baiklah, jika begitu saya permisi,” lanjut dokter itu, memecah rasa canggung dan keheningan.


“Terima kasih, Dokter.” Dokter pun mengangguk, lalu meninggalkan ruangan tersebut.


“Ada apa sih, Tan?” Elo mendekat, dan bertanya. Ia penasaran, kenapa di ruangan semua orang tampak serius.


“Nggak ada papa, terjadi sedikit masalah tadi.” Bu Lyra sudah tenang, dan ruangan kembali normal. Hanya Zean yang masih enggan berbaur, ia masih saja memasang wajah tak peduli.


Bu Dira dan pak Bagas mendekat, menyapa dan menanyakan kondisi keponakannya. “Maaf ya, Ze. Baru ke sini,” kata bu Dira.


“Nggak papa, Bun,” jawab Zean sekenanya. Zean memang tak memanggil dengan paman dan bibi kepada kedua orang tua Elo, ia lebih memilih memanggil bunda dan ayah. Karena terlalu seringnya dua lelaki itu bersama saat kecil.


“Bob, kami pamit, ya.” Pak Tomi berpamitan pada dua besannya. Saling memeluk seperti biasa.


Sally mendekat, ia menghampiri keluarganya. Ingin sekali berkata jika tak ingin pulang, tapi ragu.

__ADS_1


“Kamu jadi pulang, Sa?” Bu Anna bertanya, memastikan kembali.


Gadis itu tertunduk, ia meremas ujung pakaian yang ia kenakan. Hening beberapa saat, karena tak ada jawaban.


“Kalau ragu, biar besok-besok saja. Sudah tidak ada urusan di sekolah, ‘kan?” tanya pak Tomi, tapi Sally hanya terdiam. “Nggak ada urusan ‘kan, Lisa?” Berganti pada sahabat anaknya.


“Eh, i-iya Om.” Gadis itu gelagapan, karena sejak tadi tak menghiraukan Sally. Dia sibuk memperhatikan sepupu Zean.  “Udah nggak ada yang penting, paling cuma lontang-lantung nunggu pengumuman kelulusan, sama mungkin ada bimbingan-bimbingan pengarahan buat kuliah atau lainnya.”


“Kamu bisa di sini, Sa. Kalau tiba-tiba mau pulang, biar diantar Elo.” Bu Lyra memberikan solusi.


“Hah? Kenapa Elo, Tan?” Laki-laki yang tidak tahu akar permasalahan itu tampak tak paham, kenapa tiba-tiba ia dibawa-bawa.


“Iya, kamu. Mau siapa lagi? Tante nggak mungkin nyuruh Zean. Dia masih sakit,” jawab bu Lyra.


“Di kediaman Pratama nggak kurang sopir kali, Tan.” Masih saja protes, ia tidak terima.


“Bener!” celetuk Zean. Laki-laki itu tiba-tiba angkat bicara, seakan mengatakan tidak terima jika istrinya diantar oleh Elo. Buaya berwujud manusia bagi Zean.


Bu Lyra menghela, lalu berkata, “ Kalian ini gimana? Sopir di rumah tidak ada yang bisa bela diri sehebat Elo. Kalau ada apa-apa gimana? Mau kamu kejadian kayak kemarin?”


Zean dan Elo saling berpandangan, mengangkat kedua alis mereka seakan sedang berbicara lewat tatapan mata mereka masing-masing.


“Maaf Tante dan Om, bagaimana jika Sally bareng saya saja. Kebetulan tiga hari yang akan datang saya ke kota A.” Leon ikut menawarkan diri.


“Kalian ini, apa-apaan?!” Bu Lyra berdecak sebal, melihat dua saudara itu.


“Ah, Tan. Maksud kami, bukan … maksud Elo, kalau ada keluarga yang bisa nganter, kenapa harus merepotkan orang lain gitu.” Elo tersenyum canggung, lalu melirik Zean.


Sorot matanya seakan mengatakan jika, “Kali ini aku udah bantuin kamu.”


Zean hanya  melengos, tak peduli dengan Elo. Manusia satu itu mungkin masih kesal, gara-gara Elo telat menyelamatkan dan sibuk mengatai saat dirinya belum sadar.  Padahal, bukan kemauan Elo datang telat. Salahkan saja dirinya sendiri, yang memilih lokasi jauh dari jangkauan.


“Jadi kamu setuju mengantar Sally besok-besok, El?” tanya bu Lyra kembali.


“Eh?” Elo bingung, harus menjawab apa. Jelas-jelas tadi dia melihat api cemburu menyala di mata Zean. Ditambah adiknya itu masih kesal, gara-gara Sally mengadu soal kemarin.


“Sudahlah, Ma. Berikan keputusan ini pada Sally saja. Mau pulang sekarang atau kapan.” Pak Bobi menimpali.


Ruangan VIP yang termasuk cukup luas jadi terasa sesak, karena ada perdebatan kecil lantaran tak ada yang mau mengalah dengan egonya. Yang satu berubah dingin tiba-tiba, yang satu keras kepala. Imbasnya, justru membuat bingung semua orang.


Leon, yang tak tahu jika keluarga Pratama adalah keluarga mertua Sally, merasa tak ada masalah. Meski sedikit ada rasa mengganjal di hati, ia pikir akan menanyakan nanti saat pulang mengantar Lisa.

__ADS_1


“Kak, kok bengong? Buruan, aku besok sekolah. Nanti keburu sore, kalau kakak nggak mutusin mau pulang kapan.” Dion berkomentar, padahal remaja itu sejak tadi hanya diam di sofa tanpa peduli.


“Ee ….” Masih berpikir. “Pulang sekarang aja deh.” Akhirnya memilih pulang dengan keluarga sendiri, daripada merepotkan orang lain.


Segaris kecewa di hati Leon, misi untuk dekat dengan Sally sudah  gagal duluan. Padahal, setelah sekian tahun ia memendam rasa, baru sekarang waktu dirasa pas untuk menyatakan cinta. Mengingat ia sudah kuliah, dan Sally juga sudah selesai dengan Ujian Nasional. Tapi, seakan waktu tidak pernah merestui keinginan pemuda bermata biru tersebut.


“Ya sudah, kalau gitu kita pamit, ya,” kata pak Tomi.


Keluarga Birawan dan Lisa pamit bersamaan, memeluk dan bersalaman hangat pada orang yang ada di kamar.


Leon dan Lisa sudah keluar duluan, pak Tomi dan bu Anna sudah menuju pintu. Sally mematung, mendekat ke arah Zean. Gadis itu ragu ingin berpamitan pada suaminya sendiri, gara-gara Zean memasang tampang tak acuh.


“Kak, aku pamit.” Sally berucap, dengan posisi tak jauh dari Zean. Berjarak beberapa langkah, untuk mendengar jawaban dari sang suami.


Tangan Zean melambai ke arah Sally. Agar dia mendekat.


“Lebih dekat,” ucap Zean tanpa merubah ekspresi.


Gadis itu melangkah lagi, sampai akhirnya ia menempel pada sisi brankar. Zean perlahan menegakkan tubuhnya, lalu menarik Sally.


Cup!


Satu kecupan mendarat di ubun-ubun gadis kelas tiga SMA itu. “Hati-hati,” kata Zean lalu tersenyum.


“Cieee ….” Dion. Laki-laki remaja itu selalu tak bisa diam, untuk tidak menggoda kakaknya.


Wajah Sally merona seketika, ia lalu mengangguk pelan. Elo hanya berdecih malas, melihat sosok gila itu menjelma menjadi laki-laki sok romantis. Ketiga pasang orang tua di dalam ruangan itu hanya tersenyum.


Pak Tomi dan bu Anna lalu memanggil Sally untuk bergegas.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2