Terjerat Cinta Gadis Kecil

Terjerat Cinta Gadis Kecil
S2 - Bab 12


__ADS_3

Malam terenggut oleh pagi, semua keluarga sudah terbangun. Pak Bobi dan Om Andra tampak berbincang di samping rumah, Bu Lyra, Naya dan Bi Minah sibuk menyiapkan makanan untuk sarapan. Eza duduk dengan tenang di meja yang ada di dapur.


Sepasang manusia yang baru beberapa jam tertidur, mulai bangun salah satu. Zean membuka mata, melirik seseorang yang tidur memunggungi dirinya. Tangan memeluk hangat, mengusap perut tanpa pakaian itu. Mengecup rambut istrinya berulang kali, satu tangan menopang kepala agar ia leluasa melihat wajah Sally yang tertidur karena lelah.


Tersenyum miring ketika ia melihat banyak tanda di punggung Sally. Merapikan rambut yang menutup wajah  ayu gadis itu, menunggu istrinya bangun.


“Jam berapa, Kak?” Gadis itu ternyata bangun, mungkin karena merasa terganggu dengan usapan di kepala yang berulang kali.


Tangan Zean terhenti, memperhatikan wajah Sally di bawah yang sudah berganti posisi menghadap dirinya. “Aku ganggu kamu, ya?”


“Enggak, emang udah pagi. Jam berapa ini?” Bertanya dengan mata sayu menahan kantuk yang berat.


Zean meraih ponsel di nakas, karena sejak tadi ia sendiri belum melihat jam. “Setengah enam, Sayang. Mau tidur lagi?”


“Hmm … pengen, tapi mama bilang mau pada bangun pagi buat masak.”


Zean menariknya, memeluk erat sejenak tubuh gadis itu, lalu melonggarkan pelukan. “Tidur aja, ada Naya yang gantiin kamu. Udah cukup bertiga nyiapin sarapan.”


Tak ada jawaban, ternyata sudah tidur lagi. Zean terkekeh kecil melihat Sally sangat mengantuk karena ulahnya.


Menemani sebentar, setelah terlelap sempurna. Laki-laki itu menarik badan, beranjak ke kamar mandi membersihkan diri. Menyelimuti tubuh Sally  sampai leher, guling diselipkan sebagai ganti dirinya. Tak lupa kecupan mesra mendarat di kening dan pipi, lalu beranjak.


Rapi dengan pakaian santai sebelum ke kantor, Zean berniat ke dapur mengambil minum. Tiba di dapur, ternyata orang-orang sudah sibuk.


“Pagi semua, pagi Za.” Satu kecupan mendarat di puncak kepala Bocah Kecil itu, ia tampak sibuk menguyah beberapa kue kering.


“Um, pagi Dad.”


“Sally mana, Ze?” Naya diam, bu Lyra yang bertanya.


“Masih tidur, Ma. Semalam nggak bisa tidur,” jawabnya santai, sambil menarik kursi di samping Eza dan meminum segelas air.


Naya melirik sinis. “Bagaimana bisa tidur, kalau Kakak nggak berhenti menggarapnya.”


Air menyembur dari mulut Zean. Ia terbatuk berulang kali, sampai bu Lyra terpaksa datang dan menepuk punggung lelaki bernama lengkap Zean Aditya Pratama itu.


“Kamu denger, Nay?” ucapnya sambil menghalau batuk-batuk yang belum juga berhenti.


“Bukan aku, tapi tu bocah yang ada di sampingmu, Kak.” Pisau yang digunakan memotong sayur, ditekan dengan keras ke tatakan, sampai terdengar bunyi ‘tak’ saking dongkolnya perasaan Naya.


Bu Lyra melotot tajam, satu tarikan mendarat di telinga Zean. Sang anak mengaduh sakit, seketika Eza yang sejak tadi diam mulai berdiri di kursi dengan susah payah. “Oma … kasian Daddy!” Bagai Super Hero yang sering ia lihat di film animasi, Eza seolah menjadi penyelamat untuk Zean.


“Sorry, Ma. Lupa kalau kamar bawah nggak kedap suara.” Masih mengusap telinga yang terasa panas, karena tarikan kasar dari sang ibu.


“Pinter banget kamu Ze bikin alesan.”


“Tau tuh, Kakak memang nggak bisa ngertiin posisi aku juga.” Terus menyela, seakan meluapkan emosi di dada sejak semalam. Bi Minah hanya diam, terkadang senyum sendiri melihat kelakuan Tuan Muda Pratama itu.

__ADS_1


“Makanya, balikan aja, Nay,” ucap Zean tanpa dosa.


Perempuan beranak satu itu menghentikan aktivitas memotong sayur, makin menatap nyalang pada kakak sepupu gila yang ia miliki. “Aku aja nggak tahu sekarang dia di mana. Gampang banget Kakak ngomong gitu.” Air mata itu jatuh juga, karena merasa kesal berlipat dengan omongan Zean.  Andai Naya tahu keberadaan mantan suaminya, sudah sejak kemarin-kemarin ia ingin mengajak untuk rujuk.


“Ze! Keluar sana. Bikin suasana keruh!” Bu Lyra ikut kesal, lalu menghampiri Naya memeluk keponakannya memberi ketenangan.


“Maaf, Nay. Aku bantuin cari dia kalau kamu mau.”


Tak menjawab, Naya masih sesenggukan di pelukan bu Lyra. Eza segera bangkit, dan menghampiri ibunya.


“Mommy, apa Daddy jahat, Mom?” Naya menggeleng, mengusap


kasar wajah. Seolah tadi ia lupa, jika ada Eza di sana.


“Tinggalin dapur, Ze. Temani istrimu,” pinta bu Lyra sekali lagi.


Mengembus napas berat, lelaki itu lalu melangkah meninggalkan dapur dan kembali ke kamar.


Sally sudah segar setelah mandi. Rambut panjang tersisir dan terikat rapi, mengenakan dress khusus ibu hamil yang nyaman. Berjalan dengan menyangga pinggang dengan tangan kanan ke belakang.


Zean membuka pintu, menghentikan langkah gadis itu. “Mau ke mana?”


“Ikut nyiapin sarapan.”


“Udah di sini aja, kamu capek kayaknya.”


“Ngawur, Sa. Kelihatan dari jalanmu, sampek harus megangin pinggang gitu.”


Gadis itu mendengus. “Ini juga ulah Kakak. Nggak nyadar banget.” Tatapan sinis menghujam Zean. Tapi lelaki itu tak peduli.


Dengan cepat menggendong tubuh istrinya. “Kakak! Jangan lakukan itu lagi. Aku nggak kuat.” Gadis itu sudah gemetar takut, seiring pikiran yang tiba-tiba kalut. Sisa semalam saja belum hilang, tak mampu rasanya jika ditambah.


“Diem,” kata Zean, saat sampai di ranjang dan mendudukkan pelan.


Mengambil posisi di belakang, lalu memberikan pijatan kecil di pundak dan usapan lembut pada pinggang istrinya.


Tak ada obrolan beberapa detik, terlihat Sally menikmati. Lumayan … sedikit rileks. “Mau pijat?”


“Ish, ibu hamil mana boleh dipijat, Kakak,” protesnya sok tahu.


“Boleh, asal tidak bagian perut dan sekitarnya.” Zean penuh percaya diri.


Seketika berbalik, menoleh pada Zean. “Woah … dari mana Kakak tahu?" Kedua manik mata indah itu berbinar cerah, mengagumi kecerdasan sosok manusia bunglon yang jadi suaminya.


Tak!


Satu sentakkan jari telunjuk mendarat di kening, membuat Sally mengaduh dan reflek mengusap-usap. Wajah yang tadi kagum berubah masam, cemberut karena sebal.

__ADS_1


“Kau pikir suamimu bodoh? Itu aja nggak tahu.”


“Cih! Percaya … percaya.” Dia mencebik.


Kedua tangan Zean mengapit pipi putih dan chubby yang Sally miliki. Menarik menghadapnya.


Cup!


Kecupan mendarat pada bibir yang sejak tadi manyun. “Jelek kamu kalau cemberut.”


Sally menepis tangan Zean kasar. Gadis itu tambah bersungut. Baru kali ini sepertinya Zean mengatakan kalau Sally jelek. Tentu saja gadis itu tidak terima.


“Enak saja. Bagian mana yang mendeskripsikan aku jelek?!” Matanya melotot tajam, menghujam jantung Zean yang paling dalam.


“Hahaha ….” Tawa itu menggelegar, “makanya jangan marah-marah. Biar makin cantik.” Alis tebal yang dimiliki sengaja dibuat naik turun, untuk menggoda Sally.


“Bodo!” Memutar tubuh lantas bergegas turun ingin meninggalkan kamar.


“Eh, mau ke mana.” Tangannya menarik Sally.


“Keluar, di sini panas,” sindirnya penuh penekanan.


“Hahaha ….”


Tuh kan, tertawa lagi. Sepertinya penyakit gila suamiku ini kambuh.


“Di sini aja. Aku bilang di sini aja kok.”


“Tapi, Kak—“


Zean beranjak, masih terus mencengkeram lengan Sally. “Di sini, bantu aku ganti baju.”


“Cih ….” Lagi-lagi mendengus, “udah kayak bayi tau, Kak. Ganti baju aja minta dibantu.”


“Biarin, mumpung kamu belum dikuasai anak kita. Aku akan memanfaatkan sisa waktu itu dengan sepuasnya.” Zean tersenyum menyeringai, membuat Sally bergidik ngeri.


.


.


.


.


.


. Bersambung….

__ADS_1


__ADS_2