
Zean segera meninggalkan ruang meeting setelah menerima panggilan. Ia mendadak membatalkan pertemuan dengan para klien saat itu juga. Tidak bilang pula pada Elo untuk meng-handle semua, ia tak sempat.
Zean menekan tombol lift dengan tidak sabaran, seolah ia tengah berjuang hendak menyelamatkan nyawa seseorang.
Pintu lift terbuka, dia segera berlari kecil menuju lobby. Bahkan tanpa sadar menabrak beberapa pekerjanya sendiri.
"Maaf, Pak." Salah satu pekerja justru meminta maaf, padahal yang jalan tidak benar adalah Zean.
Lelaki itu membisu, fokus keluar gedung segera menelepon Dito.
Lima menit, Dito hanya diberi waktu selama itu untuk mengeluarkan mobil dari parkiran.
"Tuan ...."
"Ke rumah sakit sekarang!" Tak menghiraukan sapaan sopir pribadinya, ia langsung masuk dan duduk dengan sedikit membanting tubuhnya di kursi belakang.
"Lebih cepat, Dit." Napas Zean memburu, rasanya ia tak sabar untuk segera sampai.
Beruntung jalanan tidak seramai tadi pagi, hari menjelang siang suasana mulai renggang. Zean mendengus, menelepon, mengusap wajah kasar beberapa kali. Ia terserang kepanikan luar biasa.
"Ini sudah maksimal, Tuan."
"Aku tidak butuh jawabanmu!" bentak Zean begitu saja, membuat Dito menelan gugup.
"Ba-baik, Tuan."
"Sudah kubilang, aku tak butuh jawabanmu! Fokuslah menyetir!" Zean makin emosi, seketika membungkam mulut Dito yang tadi sempat menjawab.
Dua puluh menit perjalanan. Mobil terparkir di depan rumah sakit. Segera turun, Zean sudah tak bisa tenang.
Telepon dari sang ibu membuat panik, ia harus memastikan jika istrinya baik-baik saja.
"Ma ...." Melangkahkan kaki tergesa, Zean menghampiri Bu Lyra yang tengah menggendong Aksara.
"Papa!"
Bocah kecil yang sudah berusia lima tahun itu minta digendong, dengan segera Zean meminta dari ibunya.
"Sally di mana, Ma?"
"Tenang, Ze. Dia masih di dalam, sedang diperiksa dokter."
"Pa ... apa adik bayi akan lahir?" Aksara bertanya polos.
Zean menunduk, memperhatikan bola mata hitam bening yang dimiliki Aksara.
"Aksa berdoa saja, ya. Kalau memang waktunya lahir, doain adik dan mama baik-baik aja."
"Um." Dia mengangguk mantap. "Tentu, Pa. Aku sudah tidak sabar."
Zean tersenyum kecil, mencium pipi gembul yang dimiliki putra kecilnya.
Seorang dokter wanita keluar dari ruangan yang tadi ditunjuk Bu Lyra. Beliau menyeru dan bertanya keberadaan keluarga Sally.
"Saya suaminya, Dokter." Zean lebih dulu maju, dokter itu hanya mengangguk.
"Sudah pembukaan lima, Pak. Bisa tolong temani istrinya dulu. Nanti kalau pembukaan sudah lengkap, segera akan kami tangani."
Zean mengangguk paham, diikuti Bu Lyra dan Pak Bobi yang sejak tadi diam di kursi tunggu.
Dokter itu pun akhirnya pergi dulu, perlu memeriksa yang lain.
"Ma, titip Aksa, aku masuk dulu."
Bu Lyra mengangguk, kedua tangan mengulur untuk meraih cucunya. Aksara justru merangsek ke pelukan Zean, bocah itu tak mau ditinggal.
"Ikut Oma, sama Opa dulu, ya."
Anaknya menggeleng. Bibirnya terkatup rapat, masuk ke dalam pertanda menolak.
__ADS_1
"Papa harus nemenin mama dulu, diem di sini ikut Oma, ya?" pinta Zean sekali lagi.
Putra sulungnya kembali menggeleng, dengan lirih kemudian berkata, "Aku ikut, Pa."
"Tapi, Nak."
Kedua mata anak itu sudah berkaca-kaca, Zean sampai tak tega.
"Hanya sebentar, ya. Setelah itu ikut Oma." Aksa mengangguk antusias, ia semakin mengeratkan pegangan di leher Zean.
"Pa, Ma. Aku nemuin Sally dulu."
"Masuklah, Ze. Biar papa nunggu di sini sama Mama, sambil ngabarin keluarga Birawan."
Zean mengangguk, lalu masuk.
Dilihatnya sang istri tengah berbaring miring sambil mengusap perut dan punggung bergantian. Selang infus menancap di tangan kiri, sesekali terdengar ia mendesis menahan sakit.
"Sa ... aku datang." Suami Sally itu mendudukkan Aksara di kursi, ia ikut duduk di brankar.
"Bukankah ada meeting penting, Kak?" Sally mengubah posisi, menghadap sang suami.
"Kamu lebih penting."
Istri Zean itu mencoba tersenyum, sesekali mengusap sudut mata yang basah karena air mata kesakitan.
"Lahirkan dia dengan selamat Sa ... kali ini aku menemanimu."
Satu tangan Sally mengulur di depan Zean, meminta lelaki itu menggenggam erat tanpa melepas.
Sesekali terasa remasan kuat dari sang istri, ketika rasa sakit itu datang kembali.
Hati Zean terasa teriris ketika Sally terus menangis. Ia tak sanggup rasanya, apalagi membayangkan dulu tak bisa menemani kelahiran Aksara.
Bocah itu hanya diam. Dia hanya memperhatikan dua orang dewasa yang saling menguatkan.
"Duduk, Nak," kata Sally.
"Ma, apa adik bayi nakal? Dia membuat Mama menangis." Anak itu masih terus berdiri sambil berkacak pinggang.
Sally ingin sekali tertawa karena gemas, tetapi tiba-tiba rasa sakit menyerang lagi hingga puncaknya ia menjerit hebat dan membuat Zean panik.
"Sayang, apa sudah waktunya?"
"Perutku semakin mules, Kak. Panggilkan dokter dan antarkan Aksa keluar."
Segera Zean menggendong Aksara, tak peduli bocah itu malah menangis karena tak mau pisah dari Sally.
__________________
Dokter datang dengan segera, beberapa perawat menemani.
"Bu, tenangkan diri dulu, pembukaan lengkap. Sudah bisa mulai mengejan ketika saya memberi arahan."
Keringat merembes membasahi dahi, Zean bahkan ikut meneteskan air mata setiap kali Sally berteriak karena harus berjuang.
Ketiga kali ia berusaha mendorong anaknya keluar, saat itu pula terasa tusukan di lengan Zean karena kuku-kuku Sally.
"Sekali lagi, ya." Dokter dengan telaten memberi intruksi, diikuti Sally yang mulai melemah.
"Aarrghh ...."
Erangan terakhir dari Sally, akhirnya bayi perempuan lahir dengan selamat.
Zean mencium lama kening sang istri, ia bahkan tak bisa berhenti menangis.
"Sa ... maafkan aku. Maaf, Sa." Rasa salah selalu menyelimuti hati pria berusia tiga puluh satu tahun itu setiap melihat Sally kesakitan karena ulahnya.
Tangan Sally yang lemah mengulur dan menelusuhi rahang sang suami, membuat Zean mengangkat wajah.
__ADS_1
"Aku bahagia bisa melahirkan anak untukmu, Kak. Tidak perlu merasa seperti itu."
Zean mencium lama tangan Sally. "Terima kasih, sudah mau menjadi ibu untuk anak-anakku."
Perawat memberikan bayi ke pelukan Sally setelah dibersihkan, membuat kedua orang tua Aksara itu menangis haru.
"Kau punya nama yang bagus untuknya, Kak?"
"Pakaikan saja nama anak yang pernah kutulis di surat dulu, Sayang."
Sally tersenyum memandang Zean. "Hira?"
Zean mengangguk.
"Ya, Mahira Gantari Pratama."
"Biarkan dia sesuai dengan salah satu kata di dalam namanya. Gantari, menyinari. Dia yang akan menyinari kehidupan kita selanjutnya bersama dengan Bintang Aksara Pratama."
Senyum mengembang dari bibir mungil Sally. Ia tak pernah menyangka, setelah sekian banyak kepahitan dilalui ada ujung untuk bahagia.
"Apa bisa, sekarang aku bilang, kalau beruntung menikah denganmu, Tuan Muda Zean Aditya Pratama?"
Alis Zean naik sebelah, ia yang tadi sibuk memandangi anak kedua mereka mengalihkan pandangan pada Sally.
"Kenapa?"
"Dulu aku sempat menyesal, tapi ternyata Kakak begitu baik padaku."
Zean terkekeh mendengar itu, sifatnya yang memang sering berubah-ubah, menjadikan orang terdekat yang hanya bisa mengerti pribadinya.
"Ya. Kita sama-sama beruntung bisa saling melengkapi. Aku mencintaimu, menyayangimu, sampai kapan pun."
Zean mengecup dalam puncak kepala Sally, hatinya mengucap syukur tiada henti.
Pintu terbuka setelah sekian menit, kedua mertua datang dengan bahagia.
Pak Bobi seperti dulu, paling antusias menyambut cucu. Aksa memaksa turun dari gendongan, ia janji akan duduk manis di dekat ibunya.
"Ze!" Bahu lelaki itu ditepuk setengah keras oleh Pak Bobi. "Papa bangga padamu."
Zean memeluk ayahnya. Setelah sekian tahun tekanan itu memberi arti tersendiri. Pak Bobi tidak pernah salah memilihkan jalan kehidupan untuk Zean, termasuk pernikahannya dengan Sally.
"Makasih, Pa."
.
.
.
.
Catatan Uki ✍
Haii .... Assalamualaikum.
Apa kabar kakak semua? Masihkan ZeSa nangkring di rak favorit kakak? Jangan di unfavorite dulu....
Kita bakal ketemu lagi bulan depan. Membawa kisah anak kedua dari pasangan ZeSa.
Spoiler kisah Hira udah aku post di instagram. kalau kepo cus follow.
kita ketemu lagi di kisah Hira dengan judul "Selaksa Cinta."
luph luph pull 😘😘😘😘
Eh, MINAL AIDIN WAL FAIDZIN YA. Mohon maap lahir bathin buat semua. maap2 kalau selama bikin kisah mereka bikin kesel ati, marah2, atau nangis bombay. 😁✌
maap juga kalau tulisanku amburadul bikin sakit mata. maapi ya kak. aku sayaaang kalian. 😘😘😘😘
__ADS_1