Terjerat Cinta Gadis Kecil

Terjerat Cinta Gadis Kecil
BAB 41


__ADS_3

Suasana makan malam kediaman Pratama tampak lebih hangat, dengan datangnya anak kecil beserta ibunya. Bocah berusia sekitar tiga tahun itu begitu menggemaskan, karena tak berhenti untuk terus berceloteh ria.


Rambutnya hitam tebal, bulu mata lentik, iris berwarna hitam, bibir merah dan pipi yang gembul. Perpaduan sempurna dari gen kedua orang tuanya.


Zean yang beberapa hari tidak pernah hadir di meja makan, malam ini ia tak keberatan duduk di meja makan bersama. Bahkan ia sudah tertawa renyah seperti biasa.


Anak kecil bernama Eza itu pandai mengambil hati setiap orang yang ada di sekitarnya. Tak ada anggota keluarga yang tak menyayangi dirinya. Pak Bobi yang biasa pulang sebelum makan malam, hari ini pun ia pulang sore jauh lebih awal dari biasanya.


Semua berkumpul di meja makan, bi Minah dibantu bu Lyra sibuk menyiapkan sisa hidangan yang belum sempat ia bawa sekaligus tadi.


“Wah, masak enak nih, Bi.” Wanita cantik, dengan rambut panjang hitam lurus itu berdecak senang, melihat hidangan yang disajikan oleh bi Minah.


“Iya, nih. Tumben banget, Bi.” Zean menyahut, ia benar-benar sudah kembali ceria. Seakan lupa sejenak dengan hubungannya dengan sang istri.


Siap menyantap hidangan bersama, aroma masakan sudah menguar menusuk hidung. Tak sabar, Zean mengambil makanan segera. Ingin cepat-cepat makan. Mungkin, efek emosinya kemarin yang tak karuan, ia marah seakan lupa juga untuk makan.


“Dad … kenapa Za tidak diambilkan?” Bocah kecil yang duduk di sebelah Zean itu protes, melihat laki-laki yang dipanggilnya daddy itu mengabaikan hadirnya.


“Hehehe ….” Zean mengacak rambut si kecil. “Tentu saja tidak, Za mau apa? Daddy ambilkan?” Tersenyum begitu manis, agar si kecil yang sudah membuat hatinya membaik itu tidak merajuk.


“Mau itu, itu, dan itu.” Tangan kecilnya menunjuk beberapa makanan bersamaan, seakan bisa menghabiskannya sekaligus.


Masih tersenyum, bahkan bu Lyra dan pak Bobi tak kalah manisnya menampakkan deretan gigi putih mereka. Melihat kepandaian Eza bicara.


“Tentu saja, daddy ambilkan. Tapi janji dihabiskan, ya.” Anak kecil itu mengangguk tanpa ragu, seakan pasti bisa memenuhi permintaan Zean.


“Oiya Nyonya. Apa piringnya tidak kurang?” Bi Minah bertanya, karena memang piring yang disiapkan majikannya hanya berjumlah lima buah.


Bu Lyra menatap bi Minah sejenak, kembali meletakkan sendok sayur yang akan ia gunakan untuk mengambilkan lauk suaminya.


“Enggak dong, Bi. Memang  mau berapa? Bibi lihat, semua udah kebagian tuh,” jawab bu Lyra sambil mengarahkan tatapannya pada orang-orang yang duduk di meja.


“Lalu, untuk non Sally bagaimana, Nyonya?” ucap bi Minah kembali.


Zean berhenti sejenak, centong nasi yang ia gunakan untuk mengambilkan nasi Eza justru terjatuh. Ia seakan ingat sang istri kembali. Bagai orang yang tengah depresi, tiba-tiba emosinya meledak kembali.

__ADS_1


Menggeser kursinya asal, lalu mendekat ke arah bi Minah. “Maksud Bibi apa?” Napasnya sudah memburu, mendengar nama istrinya disebut, seakan ia kehabisan kesabaran.


“A-anu, Tuan.” Takut telah salah bicara, bi Minah jadi gemetar. Tenggorokannya terasa kering tiba-tiba, oksigen di sekitarnya terasa ikut menghilang.


“Apa, Bi. Apa?” Tuan muda Pratama itu semakin tak terkendali, ia sudah menggoyang-goyangkan tubuh wanita renta itu. Matanya menatap nyalang, rahangnya sudah mengeras. Bahkan tak sadar jika telah menyakiti wanita yang sudah lama hidup di rumah keluarga Pratama. Membuat anak kecil yang sempat berceloteh ria tadi ikut meringsut ke pelukan ibunya.


“Ze! Apa yang kamu lakukan!” Pak Bobi berteriak lantang, membuat anaknya sadar. Bu Lyra segera menghentikan kelakuan anaknya, yang sudah semakin berang.


“Bi, coba bicara baik-baik dan yang jelas.” Bu Lyra sudah mendekap asisten rumah tangganya, yang sudah ia anggap bagian dari keluarga itu.


“I-itu, Nyonya.” Semakin gugup saja, saat kedua mata Zean seakan tak berkedip untuk mengamatinya.


“Bibi minum dulu aja deh.” Ibu dari Eza ikut berdiri, mengulurkan segelas air lalu diterima bu Lyra.


“Minum ini, Bi.” Bu Lyra menyodorkan air dari gelas, namun bi Minah menolak.


“Tidak Nyonya.” Bi Minah menggeleng. “Saya tidak apa-apa.”


Zean semakin kesal, ia sudah tak sabar. Masih melotot tajam, bahkan ia hanya bergeming menanti penjelasan. Pak Bobi masih tenang di tempat duduknya, sambil terus mengamati putranya.


Bagai tersambar petir di tengah hujan, Zean mundur menjauh dari hadapan bi Minah. Ia segera menaiki tangga,


menuju kamar. Menyambar jaket untuk menutupi tubuhnya, mencari ponsel dan kunci mobil. Lalu kembali turun.


“Ze, mau ke mana?” Bu Lyra menghadang putranya yang tampak tergesa-gesa.


“Mau cari Sally, Ma. Aku harus mastiin dia baik-baik saja. Kenapa tidak mau menemuiku kalau sudah sampai sini. Maksudnya apa?”


“Tapi, Ze—“ Kata-kata bu Lyra sudah dihentikan dengan isyarat tangan Zean, laki-laki itu akan bersikeras mencari istrinya.


“Nak, kau masih sakit. Kita telepon dia dulu, tanyakan dia di mana, ya ….”


Zean menggeleng, ia tahu Sally begitu keras kepala. Tentu tak akan mau dia menjawab teleponnya.


“Aku akan baik-baik saja, Ma. Doakan saja menantumu segera ketemu.” Anak semata wayang bu Lyra itu memaksa pergi, memeluk ibunya, lalu tak lupa berpamitan pada sang ayah. Tak bisa menahan kemauan anaknya lagi, pak Bobi lebih banyak diam melihat setiap keputusan yang dibuat Zean.

__ADS_1


“Pa … kenapa Papa biarkan Zean pergi, Pa ….” Bu Lyra panik, sambil mengguncang tubuh suaminya.


Tak peduli, pak Bobi hanya diam lalu menikmati makan malamnya. Ia juga tak tahu harus bagaimana, sudah beberapa hari dia mengurung kebebasan anaknya. Sekarang, ia tak akan melakukannya lagi. Zean sudah berkeluarga, biarkan dia menyelesaikan semua urusannya dengan kemampuannya sendiri.


“Ma, biarkan saja. Kondisi Zean sudah membaik, lagipula biarkan dia menyelesaikan masalah yang dia bikin sendiri. Dia punya otak cerdas yang ia gunakan untuk menemani papa di perusahaan, biarkan saja dia juga menggunakan otaknya untuk mengurusi pernikahannya.”


Bu Lyra berdecak kesal, beliau lalu duduk melanjutkan makan malam. Eza yang masih takut dengan situasi tadi, masih ragu untuk menegakkan tubuhnya.


“Mommy suapin, ya,” ucap Naya—ibunda Eza.


Masih dengan ragu, tampak Eza masih sedikit takut. Ia masih sibuk memeluk mommynya, mencari keamanan di sana.


“Daddy sudah pergi, kamu makan ya, Sayang. Kalau tidak makan, kapan kamu tumbuh besar?” Bu Lyra ikut merayu, agar bocah kecil itu mau melupakan apa yang ia lihat dan segera memakan hidangan yang sudah ia minta tadi.


“Baik, Oma. Eza makan, biar cepat besar.” Berucap antusias, dengan penuh percaya diri. Mulai meraih sendoknya, lalu menyuapkan makanan, meski makannya berantakkan.


****


Tak tahu harus ke mana, Zean hanya melajukan mobil membelah jalanan kota C. Sengaja mengemudi dengan kecepatan sedang, barangkali ia menemukan mobil yang dikendarai Sally masih ada di kawasan kota. Menelepon istrinya sudah ke sekian kali, tapi nihil. Nomornya tidak aktif. Tak tahu lagi, ia segera melajukan mobil terus, dan mungkin akan menyusul ke kota A. Meski masih belum tahu jika Sally di mana, setidaknya ia berusaha menemukan sang istri di kediamannya.


Langit yang sudah gelap mulai menurunkan hujan, perut yang keroncongan tak Zean pedulikan, ia masih fokus mengemudi sambil melihat ke kanan dan ke kiri. Berharap  menemukan keberadaan istrinya. Meski Sally telah satu jam pergi dari rumah Pratama, Zean terus menyusuri dengan sabar. Berharap wanita yang ia rindu hadirnya, mau memberi penjelasan kenapa tiba-tiba dia menjauh.


Laki-laki itu tak merasa melakukan kesalahan, sehingga masih bertanya-tanya dengan perubahan sikap istrinya.


.


.


.


.


.


.Bersambung ….

__ADS_1


Jangan lupa likenya kakak.


__ADS_2