
...Halo, selamat datang di musim kedua. Hehe, terima kasih masih mau nemenin ZeSa. Udah liat visual mereka di instagramku ukiii__21 belom? kalau belum, yuk, follow. kita ngobrol biar makin akrab kayak keluarga, Kakak. hehe....
...Musim pertama sudah tutup buku, musim kedua kehidupan baru untuk keluarga Zean dan Sally. Semoga terhibur, siapkan jantung dan tahan untuk tidak mengumpat di kolom komentar meski di hati begitu gemas. hehe,...
...Selamat membaca ❤...
***
Tujuh bulan berlalu, usia kehamilan Sally makin membuat Zean posesif. Tidak diizinkan sang istri itu kemana-mana, tanpa pendampingan darinya. Bahkan, sampai tega memperlakukan Sally seperti orang sakit saja.
Istri Zean itu kesusahan untuk tidur, perut yang mulai membesar terkadang membuat sesak. Dengan hati-hati, mengalihkan tangan Zean yang melingkar di perut, dia berniat untuk bangun.
Zean mengerjap, laki-laki itu memang sangat mudah terbangun jika merasakan gerakan. “Mau ke mana, Sayang?” Sudah sigap terbangun, memosisikan diri duduk, menghentikan Sally yang kakinya sudah menggantung hampir menapak ke lantai.
“Aku nggak bisa tidur, Kak.”
Sebentar mengerjap lagi, mengucek mata yang baru saja terpejam sekitar dua jam lalu. “Terus mau ke mana? Baru jam satu, Sa.” Wajahnya penuh perhatian.
Sally menggeleng, “Kakak tidur aja lagi, aku mau jalan-jalan sebentar. Ke kolam renang mungkin.”
Tangannya mencengkal Sally lebih dulu, dia menggeleng. “Angin malam nggak baik buat kamu. Di sini aja, ya.”
Kedua netra Sally sudah berkaca-kaca, air mata sudah ingin jatuh membasahi pipi. “Eh, hei … jangan nangis. Kita jalan-jalan di rumah aja, ya.” Zean gelagapan, setiap hari mood Sally begitu mudah berubah-ubah. Mengalahkan dirinya. Menjadikan lelaki yang sebentar lagi menjadi ayah itu mau tak mau harus ekstra sabar.
Semakin tersedu, merasa sakit hati karena kemauannya tidak dituruti. Melihat Zean hanya gelagapan tanpa berbuat apa pun, ia malah meraung-raung.
Segera turun, berdiri di hadapan Sally. Gadis itu menghentikan raungan tangis, melihat Zean yang tengah tersenyum paksa. “Kakak ngapain?” tanyanya polos.
Menarik napas dalam, menghembuskan kasar. “Sabaaar …,” lirihnya dalam hati.
Tetap tersenyum, berjongkok di hadapan istrinya, sambil mengelus lembut perut yang menyembul di balik piyama. “Jangan rewel ya, Sayang. Biarkan mamamu istirahat, bobok yang nyenyak.” Mengecup sekilas, lalu terasa gerakan dari dalam. Membuat kedua orang itu saling melempar tatapan, kemudian tertawa.
“Tuh ... dia aja pinter. Kamu jadi mamanya jangan kalah pinter, ayok tidur.” Masih setia berjongkok.
Sally tetap menggeleng, meski sudah tak ada tangisan, ia tetap bersikukuh untuk jalan-jalan.
“Huft!” Zean pasrah, kemudian menggandeng tangan istrinya. Menyalakan lampu kamar, lalu menuntun Sally keluar.
“Hati-hati,” katanya. Karena memang ruangan gelap, pertanda penghuni yang lain sudah terlelap. Disinari sorot lampu dari ponsel, Zean dan Sally menapaki tangga satu per satu.
“Kita pindah kamar ke bawah aja deh, Sa.”
“Kenapa?” Langkahnya terhenti.
“Biar nggak repot, aku ngeri kalau kamu naik turun tangga gini.”
“Makanya pasang lift aja, katanya orang kaya,” cicit gadis itu tanpa dosa.
Zean tertawa, lalu mencubit gemas pipi Sally. Sebentar lagi jadi ibu, tidak membuat Nona Muda Birawan itu kehilangan sifat menyebalkan yang dimiliki.
Langkah kaki terakhir di tangga, Zean meminta Sally menunggu sebentar. Ia menuju ke arah saklar lampu, menyalakan penerang ruangan.
“Udah,” kata Zean. “Mau ke mana?”
__ADS_1
Gadis itu melenggang, meninggalkan suaminya. Hanya bisa diam dan mengikuti di belakang ke mana Sally pergi.
“Duduk di ruang televisi aja, ya, sambil aku buatkan jahe hangat,” tawar Zean.
Berhenti sejenak, tampak memikirkan tawaran Tuan Muda Pratama itu.
Keduanya bergeming, hampir sekitar dua menit. “Boleh, deh.” Jempol dan telunjuk menyatu, membentuk lingkaran memberi tanda ‘ok’.
Segera mengantar istrinya ke sofa lebih dulu, baru ke dapur membuatkan minuman untuk Sally.
Cup!
Satu kecupan hangat, mendarat di ubun-ubun. “Tunggu sebentar, istriku.” Sally mengangguk.
“Sekalian potongin buah, Kak!” Langkah kaki terhenti sejenak, “sesuai permintaan Anda, Tuan Putri,” katanya, membuat Sally tergelak.
Meraih remote TV. Memilih salah satu channel. Tapi tiba-tiba perut terdengar berbunyi, pertanda lapar. “Kamu lapar, Sayang? Tunggu papamu bentar, ya.” Tangannya mengelus lembut perut yang sejak tadi menendang.
Karena merasa Zean terlalu lama, Sally memilih menyusul. Terlihat suami tampannya itu tengah mengaduk jahe yang sudah digeprek ke dalam cangkir kecil dengan air hangat.
“Hmm … wanginya.” Gadis itu menghirup kuat aroma jahe yang menguar, terasa memiliki kenikmatan sendiri.
“Kok ke sini?”
“Kakak lama, si Kecil udah protes.” Zean hanya nyengir bagai kuda, gara-gara tadi lupa menyalakan kompor, jadi terasa lama.
“Hehehe ….” Menggaruk tengkuk, “maaf ya, tadi lupa nggak nyalain kompor. Taunya pas udah selesai motong buah, ternyata kompor masih mati.”
Menarik kursi mendekat sang istri, menyodorkan cangkir jahe. Sibuk menelisik setiap inci wajah Sally, sambil menyelipkan beberapa helai rambut yang semakin memanjang. Tak berhenti memandang wajah yang masih saja cantik meski sedikit berubah chubby.
“Nggak pengen potong rambut?”
“Kenapa?”
“Takutnya ribet ntar kalau udah lahiran.”
“Kakak suka cewek berambut pendek?”
Zean tak menjawab, ia terdiam sejenak. “Apa pun, asal itu kamu. Aku suka-suka aja.”
Tak peduli gombalan Zean. Tangan kanannya menyodorkan satu potong buah, laki-laki itu memundurkan wajah yang sejak tadi ditopang dengan tangan kiri. Dia menggeleng, tapi Sally memaksa.
“Nggak suka," tolaknya.
“Kenapa?” Sally mengernyit. Lalu menyuapkan potongan buah yang ditolak Zean ke mulut sendiri.
“Nggak suka aja.” Reflek menyesap jahe buatannya.
Menelan kasar potongan buah, “Kok diminum, sih?” Melirik sinis.
“Eh, iya. Kelepasan, Sayang. Aku buatkan lagi aja, ya.” Tangan Sally menarik Zean yang sudah berdiri menggeser kursi.
“Nggak usah, udah mulai ngantuk. Minum ini aja.” Zean mengangguk, mengusap lembut kepala Sally.
__ADS_1
Obrolan malam, berlangsung begitu saja. Kehidupan mereka mulai baik-baik saja semenjak insiden yang menimpa Sally dan om Andra.
“Tidur yuk, kasian si Kecil kamu ajak begadang,” rayunya, padahal Zean sendiri yang sudah mengantuk.
“Bilang aja Kakak yang pengen tidur. Pakek alesan anaknya. Dia nggak tidur, dari tadi nendang-nendang, kok.”
“Benarkah?” Antusias kembali, mata yang mulai sayu tadi kembali berbinar.
“Udah, ah. Ayok balik, besok kesiangan dimarahin papa.” Sudah berdiri meninggalkan piring dan cangkir yang sudah kosong di atas meja.
Mematikan lampu kembali, melirik jam di dinding sekilas. Sudah pagi, pukul tiga.
“Huft ….” Zean menghela, lagi-lagi ia kurang tidur. Padahal besok ada jadwal meeting pagi hari.
Besok sedia kopi yang banyak sepertinya. Melanjutkan langkah, menyusul Sally.
Ke kamar mandi sebentar, kemudian menghampiri sang suami. Zean menepuk tempat sebelahnya, meminta Sally untuk segera tidur. Gadis itu naik perlahan, merebahkan diri menghadap kiri.
Dengkur halus sudah terdengar, pertanda jika suaminya sudah lelap duluan. Dia berbalik, menatap Zean yang memang terlihat sangat lelah.
“Maafkan aku,” bisiknya. Lalu mendaratkan kecupan lembut ke bibir.
Tak menunggu waktu lama, dan masih terus mencoba agar tertidur. Entah sampai kapan dirinya harus merasakan hal itu. Rasa pengap, tidur tidak nyaman. Telentang sesak, miring kiri lelah, kanan ikut lelah. Sampai membuat bingung.
Mi … apa mami dulu juga sepertiku? Hatinya bergumam.
Semakin hari semakin banyak hal yang diketahui, perjalanan menjadi ibu tidaklah mudah. Meski dia termasuk seorang istri yang beruntung, punya suami siaga 24 jam, tapi tetap saja sedikit kesusahan dalam kehamilan pertama. Tidak memiliki pengalaman, membuat ia harus pandai beradaptasi dengan segala perubahan pada diri sendiri.
Entah jam menunjuk pukul berapa, gadis itu akhirnya ikut terlelap. Mata yang mengantuk sejak tadi, tapi tak bisa nyaman terpejam. Anak di dalam rahim tadi sibuk menendang, sekarang sudah ikut tenang.
.
.
.
.
..
.
.
. Bersambungg….
Haiii… I’m back. Zesa couple kembali, bisa tolong berikan dukungan like dan komennya. Hehehe…
Silahkan siapkan kesabaran di musim kedua ini. aku tidak menjamin akan banyak adegan uwu-uwu, tapi sebaliknya. Kehidupan mereka akan mengobrak abrik jiwa kakak semua. Hahaha…
spoiler dikit, musim kedua ini akan terbagi antara part Zean dan Elo bergantian.
See you, part selanjutnya.
__ADS_1