Terjerat Cinta Gadis Kecil

Terjerat Cinta Gadis Kecil
S2 - Bab 19


__ADS_3

Tekan jempolnya dulu sebelum baca. hehehe....


Aku up dua bab malam ini. Akhirnya setelah sempat kemarin kesusahan buat nyari waktu buat ngetik, ini mulai stabil lagi. Tapi nggak tahu kalau besok. Doain aja ya.


Happy reading....


 


***


“Dasar sepupu tidak tahu diri. Setelah ngatain aku berkhianat, sekarang malah nggak ngurusin kantor dari kemarin.” Elo terus mengomel sejak pagi, karena dia kuwalahan mengurusi pekerjaan hari ini. Berbeda dengan kemarin dibantu pak Bobi, sedang hari ini tidak. Dia tidak mau tahu ke mana Zean pergi, pak Bobi sendiri juga tidak membahas hal itu, tidak terlalu berani untuk bertanya.


Meja sudah rapi, pekerjaan bisa dibawa pulang. Segera ia menuju rumah sakit menjemput Elis. Jadwal  pulang untuk gadis kecil itu.


Mobil masuk ke parkiran rumah sakit, segera bergegas ke kamar yang kemarin. Hatinya bersyukur, saat kondisi kritis itu terlewat lantaran ada orang baik yang tiba-tiba sukarela mendonorkan darah tanpa diminta. Tidak seperti Zean, bahkan adu otot tak mampu membujuk lelaki satu itu.


Membuka pintu perlahan, tampak Elis sudah duduk tenang dengan pakaian yang sudah rapi di atas brankar. Alika masih mengemas beberapa keperluan Elis, tanpa sadar Elo sudah masuk.


“Ehem.” Lelaki 25 tahun itu berdehem lirih, membuat Alika menoleh dan berhenti dari kesibukan.


“El, kau sudah pulang?” Datang menghampiri Elo, memeluk sekilas dan menerima satu kecupan manis di dahi dari asisten Zean itu.


Menghampiri Elis, melakukan hal yang sama manisnya dengan Alika. Dia segera menggendong tanpa ragu. Elo tak peduli, sekalipun Elis anak dari sepupunya. Ia tak masalah, tapi entah jika ayah dan ibunya tahu.


Ponselnya bergetar, pesan masuk dan segera dibaca. Dari pak Bobi, dahi Elo mengernyit membaca sederet kalimat isi pesan.


“Sudah siap?” Alika mengangguk. “Kita pulang sekarang.”


Keduanya berjalan meninggalkan rumah sakit yang merawat Elis beberapa hari lalu, hati Elo semakin tertutup dengan cinta yang selama ini hanya mampu terpendam dalam hati. Ketika dulu dirinya sempat merasa terhina karena ditolak Alika, menjadikan dia melampiaskan kekesalan pada hampir setiap wanita yang mendekat. Bermodal tampang dan uang, semua mudah didapat.


“Kita mampir ke rumah omku sebentar, ya,” kata Elo di tengah perjalanan.


“Om?” Alika bertanya, dan hanya diangguki kepala oleh Elo.


Tak banyak obrolan, Elis juga diam saja selama perjalanan. Bahkan sempat tertidur sebentar, lalu bangun setelah sampai tujuan.


“Besar banget rumah om kamu, El.” Turun mobil dengan Elis di gendongan, Alika merasa takjub dengan pemandangan yang ditangkap oleh retina matanya.


Elo hanya terkekeh, mengambil Elis dari gendongan Alika, lalu mengajak masuk. Memencet bel sekali, menunggu sebentar sebelum pintu dibuka oleh bi Minah.


“Malam, Tuan.” Bi Minah menyapa, Elo hanya tersenyum. “Sudah ditunggu Tuan Besar di ruang kerja, langsung ke sana saja katanya.”


“Makasih, Bi.” Bi Minah mengangguk.


Alika hanya ikut berjalan di belakang Elo, masih heran dengan suasana yang ada. Hatinya bertanya rumah siapa ini, tapi tak berani berkata.


Pintu ruangan terbuka, pak Bobi sedang sibuk di depan laptop.


“Malam, Om.”

__ADS_1


“Masuklah.” Tanpa mengalihkan pandangan, bahkan tidak tahu jika bukan hanya Elo yang datang.


Duduk dengan nyaman di sofa. Dipeluknya Elis di pangkuan, sesekali mengusap lembut rambut bocah itu.


Alika masih tampak bingung dengan banyak pertanyaan. Melihat orang di depan mata, ia baru bisa menyimpulkan jika tengah di rumah Zean.


“Kenapa sepi banget kayaknya, Om.” Elo kembali bertanya, karena pak Bobi sejak tadi masih diam dan fokus dengan layar laptop yang menyala.


Beliau bangun dari duduk. Menatap Elo lalu terperanjat melihat ada seorang  wanita di samping keponakannya itu.


“Kebetulan kau kemari dengan dia. Aku nggak usah repot-repot meminta bantuanmu kalau begitu, El.” Elo mengerjap, ia tak paham.


Menarik sebuah kertas kecil dari meja kerja, berjalan mendekat lalu menyodorkan di depan Alika. “Nona, ambillah cek ini. Sebagai tanda kompensasi dari keluarga kami.”


Alika dan Elo saling pandang, keduanya tak paham.


“Maksud Om Bobi apa?” Elo menyela.


Beliau menghela kasar. “Ambil cek ini, sebagai tanda permintaan maaf dari keluarga Pratama. Kami tidak bisa menerima putrimu masuk ke keluarga ini.”


Alika semakin bingung, tapi tidak dengan Elo. “Nggak perlu, Om. Aku masih bisa ngurusin Elis, dan kami aku juga nggak akan membiarkan dia masuk ke keluarga ini. Sekalipun ini anak Zean.” Berkata dengan nada mulai emosi, Elis hanya menatap bergantian wajah Elo dan pak Bobi.


Pak Bobi masih diam, menahan geram. “Apa kau memang akan berkhianat dengan keluarga Pratama, El?” tanyanya santai, tapi penuh penekanan.


“Jika itu perlu, akan aku lakukan!” ucap Elo tegas, bahkan terkesan melawan.


Alika tersentak mendengar jawaban Elo. Kepalanya tiba-tiba pening. “El, kau bicara apa?”


Semakin berputar-putar, wanita itu mencekal tangan Elo yang hendak berdiri dari sofa. “El, bisa kau jelaskan padaku ada apa ini? Siapa yang kau maksud ayah kandung Elis.” Ia mulai memijat pelipis, karena tak paham arah pembicaraan.


Diam. Elo sudah benar-benar menahan emosi, dadanya terasa sesak. Merasa tak terima dengan perlakuan pak Bobi pada wanita yang ia cinta.


“El, jawab aku!”


“Zean.”


Alika syok saat itu juga, mendengar jawaban Elo. “Kau bilang siapa, El?” Masih mencoba mencerna  satu kata jawaban yang diberikan Elo.


“Zean ayah kandung Elis ‘kan, Al?”


Air mata Alika luruh saat itu juga. Mulutnya ia bungkam. Elis panik, segera meminta turun dari pangkuan Elo dan bergegas memeluk ibunya.


“Nona, kenapa malah menangis di sini. Saya meminta Anda menerima uang ini, karena memang kami tidak bisa menerimanya. Kami hanya menerima anak dari menantu kami saja.” Pak Bobi angkat bicara. Beliau harus segera mendapat jalan untuk mempertahankan kehadiran Sally.


“Tuan …,” ucap Alika parau. “Elis bukan anak dari putra Anda. Anda telah salah paham. Termasuk kau juga salah paham, El.” Ia berganti menatap Elo, setelah selesai dari pak Bobi.


Dahi kedua pria itu mengernyit, tidak ada yang paham. “Maksudmu, Al?” Mencengkeram bahu Alika, bahkan Elo tanpa sadar membuat Elis takut.


“Om El, lepaskan mama.” Gadis itu melotot, baru kali ini ia melihat Elo seperti itu.

__ADS_1


“Maaf … om salah.” Elis tak terima, masih menatap Elo berapi-api.


“Om Elo tidak sengaja, Sayang. Jangan marahin dia.” Alika membujuk anaknya.


“Um.” Dia mengangguk pintar.


“Tuan … El, Elis bukan anak dari Zean. Dia anak orang lain.”


“Lalu anak  siapa? Tapi DNA mereka sama?” Pak Bobi sudah menyahut cepat.  Merasa dipermainkan, bingung mana yang benar.


Elo ikut kaget mendengar hasil tes DNA yang telah keluar, ia bahkan baru tahu. Alika tak kalah kaget, kenapa bisa sampai seperti itu.


“DNA? Kapan Elis melakukan tes DNA dengan Zean? Apa kau tahu soal ini, El?” Wanita itu beralih pandang ke Elo, yang masih setengah kaget.


Menatap penuh sesal wanita di hadapannya, lalu berkata, “Maaf Al, beberapa hari lalu pengujian itu dilakukan. Saat kau pulang mengambil keperluan Elis, dan aku sengaja tidak memberitahumu.”


Alika semakin tak paham dengan jalan pikiran Elo. Segera ia merasa perlu menjelaskan soal hal itu. “Tuan Bobi, Elo … sebenarnya ini aib bagi saya. Tapi asal Anda tahu, Elis ini memang bukan anak Zean.” Menghela sejenak, “seseorang dulu melecehkan saya saat pulang dari kampus, sehingga mengakibatkan saya hamil di semester empat. Keluarga tidak bisa menerima semua itu, tapi saya juga tidak ingin membunuh anak saya sendiri. Saya memilih meninggalkan rumah, dan pergi mencari kehidupan saya sendiri.”


“Soal golongan darah kenapa bisa sama, itu hanya sebuah kebetulan. Dan mengenai DNA itu kenapa bisa cocok, bisa ditanyakan kembali pada pihak rumah sakit saja.”


Merasa lega tapi juga tak percaya, pak Bobi sempat terpaku begitu juga Elo.


“Al … kau tidak bercanda?” Seolah memang tidak bisa menerima hal itu, Elo masih mencoba meyakinkan diri.


“Ya … aku ternoda oleh orang yang aku sendiri tak mengenalnya. Tapi yang jelas, bukan Zean. Kami putus karena aku merasa kotor jika bersama dengannya.”


Pak Bobi jadi pening, beliau sampai harus memijat kepala. Menyandarkan diri di sofa, menarik napas dalam.


“Kenapa Anda bicara saat semua sudah kacau, Nona.” Penyesalan mendalam terdengar dari mulut pak Bobi, Elo segera berdiri mengambilkan minum dari meja kerja beliau.


“Om, minum dulu.” Amarahnya ikut menguap, setelah mendengar penjelasan Alika. “Elo minta maaf, Om.”


Diteguknya air sampai habis. Beliau hanya mengibas tangan. “Tidak perlu dibahas, cari tahu soal hasil DNA itu. Dan satu lagi, cari di mana keberadaan Zean sekarang.”


.


.


.


.


.


. Bersambung….


Udah jelas? Akhirnya bukan anak kak Zean. wkkwk…


Tinggal nunggu ketemunya aja.

__ADS_1


Lanjut bab selanjutnya, part ini udah panjang. Kalau ditrusin bisa 1500 kata, udah kayak bab berbayar nanti. Hehehe….


__ADS_2