Terjerat Cinta Gadis Kecil

Terjerat Cinta Gadis Kecil
S2- Bab 3


__ADS_3


Mega biru sudah berganti jingga, pertanda senja mulai menyapa. Zean mulai berkemas, tak sabar ingin segera pulang. Laki-laki itu selalu menghindari lembur semenjak istrinya hamil. Alhasil, Elo juga yang kena imbas jika pekerjaan tidak selesai.


“Hati-hati, Tuan.”


Zean berhenti, menoleh ke arah kakak sepupu. “Kau tidak pulang?” Elo bergeming.


“Kau ada kencan lagi?” Elo hanya melirik dan menaikkan satu alis. “Berhentilah bermain wanita, cari yang cocok, dan nikahi dia.” Zean sok bijak, padahal Elo hanya terpaut satu taun lebih muda darinya.


“Cih! Anda terlalu bersemangat menasehati saya, Tuan Muda. Seakan lupa dengan masa lalu.”


Zean tertawa, melihat ekspresi Elo semakin membuat dirinya puas untuk mengejek. “Ya … ya … ya, aku tahu masa laluku hampir sama denganmu. Tapi aku sudah berubah semenjak lima tahun lalu, lupa rasanya berkencan semenjak menginjakkan kaki di Pratama Group.” Tertawa lagi, mengingat betapa brengseknya dia sebelum fokus pada urusan sang ayah.


“Saya rasa … itu bukan sebuah kebanggaan yang harus Anda tertawakan, Tuan.” Merapikan meja, dia juga ingin pulang lebih awal, agar janji kencan itu tidak sia-sia.


“Haha … baiklah, lebih baik aku pulang daripada berdebat denganmu. Aku merindukan istri dan anakku. Jangan lupa laporan meeting tadi, kirim ke e-mailku malam ini, El.” Sudah menghilang terhalang pintu. Menyisakan Elo dalam ruangan yang masih merasa sedikit sebal.


***


Jalanan macet, menjadikan Zean harus bersabar. Ponselnya sudah bergetar sejak tadi, sudah jelas itu Sally. Istrinya meminta ia segera pulang, lantaran anak dalam perut seharian menendang perut seolah tanpa berhenti. Berasumsi jika merindukan papanya. Ish! Padahal belum tentu itu benar.


Memasang headset bluetooth pada telinga, segera menjawab panggilan dari istri tercinta.


“Ada apa, Sayang?”


Pulang, Kak!


“Iya, masih di jalan. Macet ini.”


Tak ada jawaban. “Sa … denger aku ngomong, nggak?”


Masih tak ada jawaban, terdiam sekitar satu menit. Telepon dimatikan begitu saja. Ck! Sudah dipastikan jika Sally ngambek. Siap-siap saja sampai rumah ditolak mentah-mentah oleh istrinya.


Merayap menyusuri aspal dengan sabar, mau tak mau hanya bisa pasrah. Ini bukan jalanan pribadi, sudah pasti banyak pengguna juga bergantian.


Perjalanan sekitar 20 menit dari Pratama Group, menjadi dua kali lipat saking macetnya. Mobil itu masuk dan parkir di depan rumah. Segera turun dan menuju rumah, sebelum ngambek istrinya naik level menjadi sebuah kemarahan.


Derap langkah terdengar, segera menuju kamar. Tapi, tiba-tiba langkahnya terhenti ketika hendak menapaki undakan tangga.


“Ze!” Mama Lyra menghentikan langkah putranya, terlihat beliau tengah di ruang tengah bersantai menonton televisi. “Sally di sini,” ujarnya.


Berputar balik, segera menghampiri sang ibu. Ia mendekat, sudah terlihat tampang merengut istrinya di samping sang mama.


“Sore, Ma.” Peluk dan cium seperti biasa, lalu hendak menghampiri Sally. “Jangan ke sini! Aku mual nyium bau Kakak!” sergahnya lebih dulu, menghentikan Zean dan membuat laki-laki itu mengendus aroma tubuhnya sendiri.


“Masih wangi, kok. Bilang aja ngambek, nggak mau dideketin.” Memilih duduk, mencomot satu potong buah dari piring yang terletak di meja.


“Itu punyaku, Kak!” Gadis itu semakin cemberut. Hidungnya kembang kempis menahan sebal.

__ADS_1


“Nanti tinggal potongin lagi, pelit amat, sih.”


“Mana bisa …,” protesnya. “ Yang motongin udah pulang.” Gadis itu melotot. Membuat Zean hanya bisa mencoba sabar.


“Tinggal minta bi Minah aja, susah amat Sa …,” jawabnya enteng.


“Nggak mau!” Masih ngotot, “itu yang motongin tadi Mami, tauk.”


“Eh?” Ia kembalikan potongan buah yang hendak dimakan lagi. Bisa runyam urusannya kalau Sally minta ganti beneran. Sedangkan Nyonya Birawan itu sudah pulang.


“Serius?” Sally membisu.


“Beneran, Ma?” Bu Lyra mengangguk dan tersenyum.


Zean mendadak kaku, bibirnya tiba-tiba kelu. “Emm … maaf ya, nggak tahu kalau ini beneran dari mami. Kamu nggak bilang.”


“Aku ‘kan udah bilang, kalau itu punyaku, Kak! Kakak aja yang main ambil.” Kedua manik cokelatnya sudah berkaca-kaca. Zean belingsatan, segera ia meringsut dan berjongkok di depan Sally. Tak peduli dengan sang ibu yang menatapnya tajam, lantaran sukses membuat menantu kesayangan itu menangis.


“Maaf, ya. Maaf, nanti aku potongin. Aku ganti yang lebih banyak,” rayunya saat itu juga.


“Pergi, Kakak! Aku nggak mau deket-deket.”


Hanya bisa menghela napas panjang, lagi-lagi penolakan untuk kesekian kali dari Sally. Kenapa sih, anaknya itu ribet. Masih di perut saja tidak mau didekati, nanti kalau lahir, jangan-jangan nggak mau diakui.


Oh, tidak! Zean segera menepis pikiran aneh tersebut.


“Aku ke kamar dulu, kalau gitu, ya.” Kakinya mulai mundur, menjauh dari istri dan mama.


***


“Hai …,” sapanya, membuat wanita yang masih membaca buku menu itu mengangkat wajah.


“Oh, hei … El.” Berdiri dan mengulurkan tangan.


Sambutan hangat dari tangan Elo, dengan senyum yang ramah mampu memikat hati setiap wanita. Seorang waitress yang sejak tadi menemani wanita tersebut, bahkan sampai mengalihkan fokusnya pada lelaki yang barusan datang.


Bagai membuka kisah lama, dengan cepat keduanya begitu akrab. Duduk dengan tenang dan santai, sembari menikmati alunan musik dan menanti pesanan datang, keduanya mengobrol saling bertukar kabar.


“Di mana kau tinggal sekarang, El?” Gadis berambut panjang lurus itu bertanya, senyum manis menghias bibirnya yang merah.


“Di apartemen.”


 “Benarkah?” Dia antusias bertanya.


“Um.” Elo mengangguk, “aku sudah lama tidak tinggal di rumah keluarga. Memilih mencari tempat yang lebih dekat dengan tempatku bekerja.”


“Oh, di mana kau bekerja? Bukankah keluargamu juga memiliki perusahaan besar di kota ini?”


Elo mengangguk. “Tapi aku memilih bekerja di perusahaan sepupuku.”

__ADS_1


“Oh, begitu ya.” Kembali Elo mengangguk.


Hening, tak ada obrolan lagi. Elo memperhatikan wanita di depannya dengan seksama. Menelisik setiap helai rambut dan menyapu setiap jengkal kulit putih kekuningan itu. “Di mana kau tinggal, Al?”


Gadis cantik bernama Alika itu menoleh, akan menjawab tapi seorang waitress lebih dulu datang.


“Silahkan, Tuan, Nona.” Keduanya mengangguk.


Tampak Alika mulai meraih garpu dan sendok, mungkin ia ingin mulai makan. “Kau tidak ingin menjawab pertanyaanku?” Elo.


“Ah, ya. Tentu saja akan aku jawab.” Alat makan itu ia letakkan kembali. “Aku tinggal di salah satu perumahan kecil, dekat dengan usahaku.”


“Usaha?” Elo penasaran.


“Um.” Gadis itu mulai menyuap makanan. “Aku membuka usaha toko kue, di kawasan jalan X.”


Mengangguk lagi, karena Elo tahu, jika Alika—teman kelas di kampus— memang tidak sampai lulus dari perguruan tinggi. Entah apa yang terjadi, tiba-tiba ia menghilang di semester keempat. Tak ingin menyinggung perasaan teman lamanya, Elo hanya ikut menikmati makanannya sendiri.


“Boleh aku tanya sesuatu?”


“Tentu.” Alika begitu antusias.


“Apa kau sudah menikah, Al?”


Gadis itu berhenti mengunyah, menatap Elo lekat. Membuat Elo jadi salah tingkah sendiri dengan tatapan wanita itu. Lucu sekali, seorang buaya berwujud manusia, bisa grogi dengan hal semacam itu. “Belum, tapi aku sudah punya anak.” Melanjutkan makannya lagi.


Elo tertegun, ia harus menyadarkan diri agar bisa mendengar dengan jelas. “Kau bilang apa, Al?”


“Aku sudah punya anak, El. Dia menginjak umur lima tahun sekarang.”


Mencoba mencari kejujuran di mata Alika, tapi Elo tak sedikit pun mendapat celah kebohongan. Mungkinkah semua omongan itu benar? Tidak … Alika yang Elo kenal hanyalah gadis polos dulu.


“Ah, kau hanya bercanda, ‘kan?”


Alika hanya terkekeh, ia tidak menjawab lagi. Melanjutkan acara makan malam mereka sampai habis, sesekali mengobrolkan sesuatu yang membuat mereka nyambung.


.


.


.


.


.


. Bersambung…


up 2 bab. selamat beristirahat.

__ADS_1


Makciiihhhh…..


__ADS_2